You are currently browsing the tag archive for the ‘surat’ tag.

Aku tidak yakin dirimu masih mengingatku. Tidak masalah. Sebab diingat orang lain, pada satu sisi, tidak selalu menyenangkan. Sejujurnya, aku malah tidak melihat apa menyenangkannya diingat orang.

Yah, abaikan saja salamku, kalau kalimat di atas memang dapat dianggap salam. (Dalam analisis percakapan, sah saja kita menyebutnya sebagai “salam pembuka”, tergantung dari mana kita melihatnya.)

Sudah berapa lama sejak terakhir kita bertemu? Aku tidak tahu pasti. Apa setelah lulus SMP? Tidak juga. SMU? Aku tidak yakin. Waktu sepertinya mempermainkanku sedemikian rupa. Mungkin itu juga alasannya mengapa aku mulai tidak dapat membedakan antara Rabu dan Kamis, Kamis dan Rabu. Entahlah. Tapi cobalah menyebutkan bilangannya. Sepuluh? Lebih? Bisa jadi.
Read the rest of this entry »

Goodreads

Blog Stats

  • 4,218 hits
August 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Flickr Photos

Faith Writers

Visit us!

The%20NumbersQuantcast