You are currently browsing the category archive for the ‘Refleksi’ category.

Kak, kenapa bahasa Inggris sih?

Anak perempuan itu bertanya kepadaku. Aku sudah menduga kemungkinan pertanyaan begitu. Film yang tengah diputar, sama sekali tidak dilengkapi dengan terjemahan bahasa Indonesia.

”Itu cerita tentang kelahiran Yesus,” ujarku. ”Coba kamu lihat, tuh, ada bintangnya ’kan? Nah, lihat, itu para majusnya.”

”Iya, Kak!”

”Nah, sekarang, kamu lihat baik-baik karena nanti akan ada pertanyaan dari film itu.”

-oOo-

Read the rest of this entry »

Advertisements

Suatu pagi, mungkin saja aku bangun dari tidurku. Sepertinya kepalaku masih berat, pertanda tidurku terlalu singkat. Mungkin saja saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Pertanda aku sedikit terlambat untuk ke kantor.

Mungkin saja waktu itu, di kepalaku, masih terngiang sebuah lagu:

いっそこのまま この夜に心を置いて行こう
ヒラリヒラリと降り出した雪 君の鼻先に落ちて
言葉は限りなく 二人を責め立てる
キラリキラリとネオンが点(つ)いても帰る場所も無い

Read the rest of this entry »

Ketika lelah, aku suka berdoa sambil rebahan. Aku sama sekali tidak merekomendasikan siapa pun untuk melakukan hal ini. Sebab akhirnya akan sama: kau akan tertidur tanpa sempat mengucapkan amin. Kalaupun kau mengucapkan amin, kau tidak akan sadar apa yang kauucapkan.

Bagiku, berdoa dalam keadaan sangat lelah adalah cobaan paling berat. Sering kali aku harus mengulangi perkataanku karena dalam percobaan yang pertama aku tidak ingat apa yang sudah kukatakan. Malahan dalam doaku, aku sering ngelantur, seperti sudah melompat ke dunia lain.

Read the rest of this entry »

Aku sungguh tiada habis pikir. Ada apa? Apa yang terjadi? Sepulangku dari petualangan jauh, segala sesuatunya berubah. Aku dibiarkan dalam tembok rapat. Terkurung oleh sepi. Mau maju terbentur, mau mundur terbentur, mau lompat tidak sampai, mau ke mana tidak tahu.

Sepulangku dari bertualang sejenak, ia sudah berubah jauh. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Berbeda dengan masa-masa kala kami masih bercanda. Berbeda kala kami masih bertegur sapa. Dengan mesra.

Read the rest of this entry »

Kemeriahan telah usai dari sebuah keramaian. Perlahan-lahan mereka kembali ke peraduan. Entah jugalah, mungkin masih ada yang berniat raun-raun, menikmati malam dengan anginnya yang semakin menusuk tulang. Aku jadi salah seorang dari mereka. Maka ketika usai kemeriahan tersebut, kuputuskan untuk kembali pula. Sebab siapakah ada bersamaku selain ketiadaan?

Gemerlap malam memang luar biasa. Aroma dari ranah Eropa berbaur dengan nuansa lokal. Perbauran yang kemudian menjadi nyata pada puncaknya. Mendengungkan beraneka nuansa ke udara malam. Aura kehangatan yang menggeliat. Ingin juga rasaku turut berkerumun di sana. Tapi tentu tiada kulakukan.

Read the rest of this entry »

Tiga malaikatku adalah gadis-gadis manis nan rupawan. Dua berambut panjang, sedangkan satu berambut sebahu. Aku sangat bahagia mereka di sekitarku. Meski sempat membuatku menderita hingga kini. Tapi aku sangat mencintai ketiganya. Kok bisa, ya?

Kutarik lengannya, menyepi sejenak, jauh dari kerumunan orang-orang. Ini orang kelewatan banget, main tarik aja. Kalau orang biasa mungkin akan berpikir begitu. Tapi meski kugamit, ia mengikutiku jua.

Read the rest of this entry »

Kemarin ibadah sore. Ada perjamuan kudus di gereja. Tapi kehadiranku bukan semata-mata karena mengejar perjamuan. Semata-mata karena paginya aku meramaikan kegiatan kafetaria pemuda, tidak bisa masuk untuk ibadah. Juga karena aku tidak mau masuk hanya untuk makan roti dan minum anggur. Read the rest of this entry »

Aku tersentak. Melihat diri yang menggertak. Dengan tatapan yang entah kosong entah polos.

“Ada apa?” tanyaku.

Dia terdiam. Menutup rapat mulutnya. Sedangkan matanya menatap lekat-lekat padaku. Seolah ingin masuk ke dalamnya. Membawa masa lalu dan masa kini. Bertempur menuju masa mendatang. Read the rest of this entry »

Masalah hak cipta kembali menyentil pikiran saya belum lama ini. Isunya muncul kembali tatkala salah seorang staf di kantor kami menyajikan sebuah presentasi yang merupakan prasyarat diterima tidaknya ia sebagai staf tetap di tempat kami.

Sebenarnya, presentasinya tidak berkenaan dengan masalah hak cipta. Ia mempresentasikan masalah perpustakaan. Namun, diskusi yang muncul, membuat saya memikirkan masalah hak cipta. Read the rest of this entry »

“Baik-baik sajakah?” Begitulah pertanyaan yang ia ajukan kepadaku kala aku meneleponnya. Nada suaranya tidak berubah sedikit pun, meski sebelumnya aku sempat ragu, apakah suara ini memang suaranya. Semula ia memang tidak mengenali suaraku. Entah sampai kapan aku hendak menghukumnya demikian, sampai ia menyadari sendiri.

Ia masih seorang gadis yang riang. Aku tahu sejak pertama kali bertemu dengannya tiga tahun lampau. Dan hal ini masih sangat terasa siang itu, ketika suara kami akhirnya bersua lagi. Nada yang optimis, positif, dan semua yang baik-baik, bisa kurasakan, meski aku tidak bisa menjelaskan mengapa bisa kusimpulkan demikian. Read the rest of this entry »

Goodreads

Blog Stats

  • 4,225 hits
October 2017
M T W T F S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Flickr Photos

Faith Writers

Visit us!

The%20NumbersQuantcast