You are currently browsing the category archive for the ‘Ala Kadarnya’ category.

Nona, … Nona, maaf, tapi ada yang ingin saya sampaikan kepada Anda …

Sudah berapa kali kami satu bis? Aku tidak begitu ingat. Semula aku memang tiada memperhatikan keberadaannya. Kukira beberapa kali aku memejamkan mata. Menikmati lengkingan gitar Hisashi dan lantunan vokal Teru. Atau ketika bis sudah agak penuh sehingga aku pun tidak dapat tempat duduk, dan aku berdiri memandang keluar bis sehingga tidak memperhatikan keberadaannya.

Aku cuma ingat bagaimana pertama kulihat ia. Ia tampak sebagai seorang yang serius. Garis wajahnya terlihat tegas, setidaknya bagiku, sehingga kesan kedewasaannya terpancar. Kacamatanya yang berbingkai hitam itu, tampak sangat pas menghias wajahnya. Rambut panjangnya yang lurus tergerai indah. Dan yang terutama, ia selalu mengenakan setelan yang tampak elegan di mataku.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Dalam beberapa tulisanku sebelumnya, aku pernah bercerita kalau aku sangat mencintai hujan. Bukan karena aku dilahirkan dalam bulan-bulan Aquarius. Tapi ada kenikmatan tersendiri mencium aroma tanah yang bertemu air.

Ketika masih di Medan dulu, aku suka hujan. Meskipun sering kali hujan mendatangkan masalah. Karena kalau angin berhembus ke arah tertentu, entah kenapa rumahku kebocoran. Dan karena aku juga tidak ingin anjing-anjingku jadi basah, aku harus menyiapkan wadah untuk menampung. Belum lagi harus mengepel beranda.

Aku sudah lupa kapan hujan mendatangkan kegentaran buatku. Mungkin sudah lama sekali. Aku cuma ingat suatu waktu ketika masih sangat kecil. Saat itu hujan deras, deras sekali. Sampai rumah kami kebanjiran. Aku yang masih sangat kecil hanya bisa melihat genangan air di kamar. Tidak bisa membantu apa pun.

Malam ini, dalam pengasinganku, kurasakan badai mengamuk di luar sana. Hujan deras turun. Guruh berbalas-balasan di langit sana. Menghantarkan getaran-getarannya hingga ke lantai kamarku yang terbuat dari papan.

Read the rest of this entry »

Sekali lagi untuk kesekian kalinya, aku lunta-lantu di depan kantorku. Tak jelas hendak ke mana kuarahkan langkah kakiku. Ingin lekas tiba di rumah, tapi itu mustahil. Jarak yang jauh, jalan yang macet, bis yang sesak penuh, angkutan yang berjalan lelet. Semua itu selalu menghiasi.

Ada pula tempat bernaung lain. Tapi ke sana pun sama. Harus mengantri Transjakarta di halte yang sesak. Meski telah dihias kipas raksasa, tak jua memberi kelegaan. Lagi pula, naungan ini masih akan merepotkan temanku. Maka semakin lunta-lantulah aku.

Read the rest of this entry »

Mendadak aku tak bisa lagi menulis! Setiap kali kupusatkan perhatian untuk menulis, tulisanku hanya berputar-putar di situ-situ saja. Setiap kali pulang ke tempat yang disebut orang sebagai rumah, fokusku hilang. Akhirnya, aku malah lari ke FIFA 2008.

Aku sudah punya sejumlah ide. Sempat kutuangkan kerangkanya. Berharap bisa dikembangkan menjadi tulisan.

Aku sudah menemukan sejumlah bahan untuk kubahas. Sempat kutuangkan juga. Namun, berkali-kali mencoba, tak satu pun yang sukses. Read the rest of this entry »

Tidak biasanya bis hijau itu disesaki penumpang sedini ini. Belum sampai Pasar Baru, sudah berjubel penumpang yang berdiri. Nona-nona yang biasanya mendapat tempat duduk, kini memutuskan turun dan menanti bis berikutnya sambil berharap tidak seramai bis yang satu ini. Ibu-ibu yang biasanya duduk di bangku depan samping kiri supir itu pun kini harus berdiri pula. Tak lagi ia mendapatkan duduk di tempat favoritnya itu.

Aku sendiri tidak terpengaruh oleh itu semua. Aku sudah duduk dari Senen. Berbincang-bincang ngalor-ngidul dengan temanku. Mulai dari masalah perbukuan, penerbitan, kebijakan ini-itu, sampai urusan pelayanan, aktivitas gereja, masa-masa SMP, masa-masa SMA(U). Tidak ada pembicaraan yang terlalu rumit. Karena kami sama-sama tahu, hari ini cukup melelahkan.

Read the rest of this entry »

Bukan malam ini saja aku melihat mereka. Sudah beberapa kali rasanya aku melihat mereka. Dari apa yang kulihat, aku yakin mereka adalah kakak-adik.

Yang berambut pendek pasti kakaknya. Aku kira begitu. Sedangkan yang berambut panjang tentulah adiknya. Sekali lagi, awalnya memang itulah dugaanku. Aku tidak pernah tahu kebenarannya sampai kemudian.

Pada malam Natal, aku duduk di depan mereka sekeluarga. Sedangkan pada ibadah Natal keesokan harinya, aku duduk tepat di belakang mereka.

Read the rest of this entry »

Bulan Oktober yang lalu, ada pesta buku alias book fair di Solo. Ini momen yang tidak mungkin kulewatkan. Meski harus menghabiskan dana buat ransum bulanan, yang penting buku.

Seperti biasa kegiatan ini diadakan di Diamond Convention Center, Jalan Slamet Riyadi. Tempat ini juga digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan ini tahun lalu. Yah, memang tempatnya cocok, sih. Hanya lima hari mulai 1–5 Oktober. Jadi, kudu buruan kalau tidak mau kehabisan. Read the rest of this entry »

IX

Aku sangat suka musim hujan. Meski halaman belakang rumah, mmm mungkin lebih cocok kalau kubilang halaman samping rumah,  akan tergenang air, namun aku sangat suka. Biasanya mama atau papa menggoreng singkong. Kukira saat itulah aku mulai menggemari singkong goreng. Kadang-kadang juga ubi rambat. Tapi tak ada yang lebih asyik daripada singkong goreng. Saat itu aku juga tidak terbiasa menikmatinya dengan lombok atau sambal colek, tidak seperti sekarang.

Halaman sebelah itu ditanami berbagai jenis pepohonan. Selain pohon bambu yang kuceritakan sempat terbakar itu, agak ke dalam lagi ada pohon belimbing. Pohon ini sebenarnya tidak terlalu rutin berbuah. Kalaupun berbuah, buahnya tidak begitu menarik bagiku. Ada juga pohon rambutan. Ini juga tidak terlalu rutin berbuah, meski tergolong favoritku.

Read the rest of this entry »

VIII

Aku sangat suka lingkungan rumah kami ini. Cuma tiga keluarga yang tinggal di sini. Kami rumah nomor satu di lingkungan kecil ini. Tidak hanya memberikan ketenangan yang kini masih kudambakan, tapi untuk keluarga yang hanya berjumlah empat orang pun, kami punya kamar yang sangat lebih daripada cukup.

Aku ingat, di depan, ada sekamar yang besar. Dulu kami sempat ramai-ramai tidur di sana, satu keluarga. Kamar depan ini — aku tidak ingat berapa lama kami ramai-ramai menempatinya — meninggalkan banyak kenangan buatku.

Read the rest of this entry »

VII

Suatu ketika, terjadi kebakaran di kompleks kami itu. Kejadiannya di halaman rumah kami. Di halaman depan rumah, di salah satu pojok, ada pepohonan bambu. Aku tidak begitu ingat bagaimana dan dari mana datangnya api itu. Tapi yang jelas, api semakin membumbung tinggi. Hampir mencapai tinggi pucuk bambu itu sendiri, kalau tidak salah.

Read the rest of this entry »

Goodreads

Blog Stats

  • 4,225 hits
October 2017
M T W T F S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Flickr Photos

Faith Writers

Visit us!

The%20NumbersQuantcast