Kak, kenapa bahasa Inggris sih?

Anak perempuan itu bertanya kepadaku. Aku sudah menduga kemungkinan pertanyaan begitu. Film yang tengah diputar, sama sekali tidak dilengkapi dengan terjemahan bahasa Indonesia.

”Itu cerita tentang kelahiran Yesus,” ujarku. ”Coba kamu lihat, tuh, ada bintangnya ’kan? Nah, lihat, itu para majusnya.”

”Iya, Kak!”

”Nah, sekarang, kamu lihat baik-baik karena nanti akan ada pertanyaan dari film itu.”

-oOo-

Sampai ibadah berlangsung, aku masih celingak-celinguk. Kelompok lain sudah mulai ramai. Dari 15 kelompok, cuma aku yang menjadi pembimbing kelompok warna putih dan seorang kakak pembimbing kelompok warna coklatlah yang belum kebagian anak layan. Begitu pun, aku mulai merasa agak lega. Pikirku, dengan begitu, aku bisa konsentrasi membantu mengawasi anak-anak lainnya.

Namun, panitia segera bersikap. Beberapa anak, meski dengan label warna coklat, merah jambu, kuning, digiring kepadaku. Mula-mula hanya dua anak. Sepertinya kakak beradik. Lalu tiga anak lainnya bergabung. Dan lagi. Dan lagi. Sampai total ada enam belas anak harus kuawasi. Dan … tidak ada kesempatan untuk saling mengenal.

Tidak lama aku pun harus memperhatikan mereka semua. Seorang anak menyodorkan kotak sandwich-nya kepadaku.

”Mau Kakak bukakan?” tanyaku yang segera ia balas dengan anggukan. Belum lagi selesai aku membukakan sandwich buatnya, seorang anak lainnya meminta hal yang sama. Sedangkan anak lainnya memintaku membukakan sambal.

”Sebentar ya,” ujarku sembari segera membuka plastik yang membungkus sandwich itu, sebelum beralih kepada anak yang lainnya.

-0Oo-

Tak pernah kubayangkan kalau aku harus kembali berurusan dengan anak-anak! Tapi itulah faktanya. Malam sebelumnya, seorang teman kakakku memintaku untuk berbagian dalam Perayaan Natal Anak-anak, yang merupakan bagian dari Perayaan Natal Pasar Modal Jakarta. Mengetahui acara akan berlangsung pukul 17.00 dengan sebelumnya diminta agar aku hadir pukul 15.00, kusanggupi ajakan tersebut.

Sabtu, 11 Desember itu, aku langsung bertolak dari Cibubur. Sebelumnya, aku                diminta menemani beberapa rekan yang hendak menjenguk seorang rekan kami lainnya, yang baru saja dikaruniai seorang putri. Kurasa sedikit lelah karenanya. Biasanya, kalau ada kegiatan penting, aku tidak akan melakukan agenda lainnya.

Untunglah aku bisa tiba cukup awal. Ada waktu untuk makan, dan istirahat, meskipun aku tidak menyentuh makanan yang disediakan. Perutku masih terasa kenyang oleh jamuan di Cibubur tadi.

Briefing diadakan dengan singkat. Dan aku masih bingung dengan tugasku. Setelah sempat tanya sini-situ, barulah jelas tugasku. Membimbing anak-anak dalam kelompokku. Jumlahnya akan sebanyak 25 anak, sesuai 25 bingkisan yang disediakan. Kalau mereka ingin buang air kecil, aku harus mengibarkan bendera.

Begitulah aku kembali menjadi guru Sekolah Minggu karbitan. Setelah pensiun lima tahun lamanya.

 

Aku tidak mungkin lupa nama anak itu. Elmer. Perhatiannya selalu ke mana-mana. Sebentar kualihkan perhatian, ia sudah lenyap dari lingkaran kami.  Menjaga dia, berarti mengabaikan yang lain. Memperhatikan yang lain, berarti perhatianku kepadanya akan berkurang, dan ia segera lenyap dari pandangan.

Aku benar-benar kehilangan dia ketika acara kuis dan permainan dimulai. Aku kelabakan. Apa yang harus kulakukan? Mencarinya dan mengabaikan yang lain? Atau membiarkan dia? Akhirnya, kuputuskan untuk membimbing kelompok kecil kami. Aku yakin, ia tidak akan keluar dari lokasi acara.

Sembari memperhatikan dan mengarahkan anak-anak itu menyusun puzzle, seorang anak yang lain, kalau tidak salah, namanya Autrix, usianya mungkin baru 2 tahun, sibuk memanjat punggungku. Ia mulai jenuh. Kakaknya, yang aku lupa siapa namanya, masih mending. Mungkin usianya berbeda dua tahun dari adiknya ini.

Saat perhatianku agak kulonggarkan dari anak-anak yang sibuk dengan puzzle, kucari-cari Elmer. Dan ah, seorang nona, mungkin kakaknya, menuntunnya kembali ke kelompok kami.

Namun, tidak sampai lama, ia sudah lenyap lagi. Aku dan kakaknya kembali berpandangan, melongo. Begitu kami mengalihkan perhatian, begitu ia segera lenyap, entah ke mana.  Hal ini terjadi beberapa kali. Aku masih merasa dilema karena mesti memperhatikan anak-anak lainnya.

-oOo-

Akhirnya, acara berakhir. Kubagikan bingkisan kepada anak-anak itu. Aku merasa kerepotan. Selain menyerahkan bingkisan, aku harus memberi tanda centang pada nama penerima, sekaligus memberikan stempel pada tangan mereka, pertanda mereka sudah menerima bingkisan. Sementara itu, beberapa orang tua mulai menjemput anak-anak mereka.

”Kakak, Kakak! Kami pulang ya?” kakaknya Autrix berujar kepadaku.

”Orang tua kalian sudah menjemput?” tanyaku.

”Sudah. Itu di sana!” ujarnya sambil menunjuk jauh ke luar wilayah acara.

”Baiklah, kalau memang benar, pergilah menghampiri orang tua kalian.”

”Terima kasih, Kak!”

Dan aku masih harus melayani anak-anak yang lain, tanpa mengetahui masalah yang segera timbul.

Tidak lama, sang nona, kakak Elmer, berdiri di depanku. Aku tersenyum, dan menandai Elmer sembari memberinya bingkisan berisi boneka dan CD, plus jajanan khas anak-anak.

Lalu seorang ibu, ibu dari kakak beradik lainnya menghampiriku sembari menyodorkan tiket.

”Bagaimana dengan ini?” tanya ibu itu.

”Oh, tidak apa-apa, Bu, dibawa saja. Yang penting saya tahu, Ibu sudah menjemput anak-anak Ibu.”

”Terima kasih, ya?”

Dan aku tidak tahu, kalau tiket itu harusnya kuterima, sebagai bukti lain bahwa orang tua sudah menjemput anak-anak mereka.

Tatkala kukira aku sudah bisa bernapas lega, tiba-tiba seorang ayah dengan wajah begitu cemas datang.

”Saya ke sini bukan karena anak saya belum mendapat bingkisan, tetapi anak saya belum ketemu!” sahutnya dengan nada cemas.

”Siapa nama anak Bapak?”

Ia menyebutkan nama Autrix dan kakaknya. Dua anak yang menjadi tanggung jawabku. Kekhawatiranku di awal acara terbukti sekarang.

”Tapi tadi, mereka berkata kalau mereka sudah melihat orang tuanya menjemput, mungkin mereka melihat ibu mereka,” ujarku memberi penjelasan, yang mungkin lebih cocok disebut pembelaan.

”Tapi saya tidak datang dengan istri saya,” ujar si bapak, yang kontan saja membuatku makin khawatir. Bagaimana kalau mereka tak kunjung ketemu?

Sementara itu orang-orang yang berada di lokasi acara mulai berkurang, beralih ke sayap sebaliknya dari Ballroom lantai 17 itu. Beberapa anak tampak berseliweran di tengah orang dewasa. Dan aku mencari-cari, kalau-kalau kedua anak kecil itu terpantau oleh mataku yang rabun ini.

Aku berseru dalam hati ketika melihat kedua anak kecil itu kembali ke lokasi acara. Kusambut mereka sambil berkata, ”Itu ayah kalian mencari dari tadi.”

Kubawa mereka kepada sang ayah. ”Ini mereka, Pak.”

Sang ayah langsung menyentil telinga anak-anak itu. ”Bandel! Bego lu! Ke mana saja kalian?”

Aku berusaha menengahi, ”Sudah, Pak, sudah. Yang penting mereka sudah ketemu.” Namun, sang ayah tidak terlalu memperhatikan dan melayangkan sentilan lainnya kepada anak-anaknya.

Ujaranku tidak digubris. Sampai akhirnya ia berkata, ”Terima kasih, ya,” dan langsung menggiring anak-anaknya disertai dengan omelan pedas.

Kakak-kakak pelayan yang lain berujar, ”Bapaknya pasti benar-benar kuatir, apalagi sekarang ’kan banyak penculikan anak.”

Dalam hati, aku bersyukur, kedua anak tadi tidak diculik. Kalau itu yang terjadi, aku harus mempertanggungjawabkannya. Syukur kepada Tuhan, hal itu benar-benar tidak terjadi.

-oOo-

Kami diperkenankan untuk menikmati santap malam yang disediakan Panitia Natal Pasar Modal Jakarta. Namun, aku sudah keburu tidak berselera makan. Rasanya kejadian tadi sudah cukup mengisi perutku—keputusan yang sebenarnya keliru karena harusnya aku tetap mengisi perut demi menjaga kondisi. Aku hanya memaksa menikmati sup, seperti krim sup menu gocengan itu.

Ini benar-benar pengalaman berharga. Sekaligus pengalaman pertama setelah bertahun-tahun tidak berhadapan dengan anak berbagai lapis usia. Teringat olehku bagaimana aku bisa menangani anak-anak di kelasku dulu. Tapi itu lebih karena mereka ada dalam kelompok usia yang lebih dewasa.

Aku juga belajar dari Elmer dan Autrix. Dua nama yang mungkin akan sulit kulupakan. Bagaimana aku menghadapi anak yang sepertinya autis. Dan bagaimana aku menghadapi anak yang gampang jenuh, seperti Autrix, terlepas dari fakta bahwa acara terlalu lama untuk anak-anak seusia mereka.

Apa lagi yang kupelajari di sini? Bahwa anak-anak lebih suka warna biru daripada putih. Itulah yang kuketahui dari seorang kakak layan. Anak-anak yang diberi kebebasan memilih kelompok, lebih banyak memilih warna biru ketimbang putih. Ini sekaligus menjelaskan mengapa kelompokku tidak kunjung ramai. Tidak ramai, sampai sejumlah anak berlabel warna lain dibawa kepada kelompokku.