Mula Harahap beserta cucu-cucunya

“Sudah tahu belum, Pak Mula meninggal?” begitu rekan di balik telepon memberi tahu. Tak kutanggapi informasinya secara serius. Tapi pelan-pelan, kutanya juga pada rekanku yang senior, “Pak Mula meninggal, apa betul?” Kontan sikapnya berubah. Ia segera memberi tahu, betapa ia merasa agak heran mengetahui ada beberapa temannya di Buku Wajah yang mengucapkan “selamat jalan” kepada Mula Harahap. Aku yang biasanya tak suka membuka Buku Wajah, terutama pada jam-jam kantor, segera saja membukanya. Penasaran dengan berita itu. Ketepatan pula aku baru “berteman” dengannya.

Dasar bandit! Begitu dibutuhkan, lama sekali halaman Buku Wajah itu terbuka. Dalam hati, Bandit satu ini mungkin balas dendam karena tak kuperhatikan selama di kantor. Tak mau menanti sampai seluruh halaman tampil sempurna, kuketik nama Mula Harahap di bagian “pencarian” itu, dan begitu tampil hasilnya, langsung kuklik. Sekali lagi butuh waktu lama. Dan begitu tampil sempurna, sudah tampak begitu banyak orang mengucapkan salam perpisahan maupun apresiasi kepada beliau. Aku masih tidak begitu yakin. Barulah belakangan kudengar, beliau kena serangan jantung.
Cuma tiga kali
Orang lain memanggil Abang kepadanya, karena bukan abangku dia, dan jauh lebih sepuh daripadaku, kupanggil Bapak sajalah kepadanya. Pak Mula, begitu aku memanggilnya sejak pertama kali bertemu. Waktu itu, aku mengikuti pelatihan IKAPI Jakarta di Depok. Dan beliau menjadi salah satu pembicaranya. Inilah awal pertemuan kami.

Penampilannya tidak terlalu istimewa memang. Namun, gayanya khas. Rambut gondrong sebahu. Brewokan. Dengan badannya yang tinggi. Namun, sorot matanya tampak ramah. Mudah menebar senyum. Waktu itu, sengaja kuhampiri ia, sekadar memberi salam. Sebab boleh dibilang, dia terbilang seniorku juga di BPK, walaupun beliau itu sudah meninggalkan BPK belasan tahun lampau. Saat itu, tidak banyak aku berbincang dengannya. Maklum, ada banyak orang, mungkin termasuk orang-orang di lingkaran IKAPI Jakarta, yang mengajaknya berbincang.

“Kalau kalian tidak punya kemampuan manajemen, jangan berani-berani buka penerbit. Pusing kalian nanti,” begitu kira-kira kata-katanya waktu itu.

Kali kedua, saat Komunitas Penjunan mengundang beliau sebagai pembicara berkenaan dengan Festival Membaca dan Menulis (atau kurang lebih begitu judulnya, aku tidak betul-betul ingat) di Newseum Cafe, Jakarta. Di kafe remang-remang itu, kami kembali berbincang. Kali ini ia lebih banyak bercerita. Maklum, tidak banyak yang menghadiri diskusi waktu itu. Ia cerita masa lalunya di BPK. “Aku gebrak meja direktur waktu itu,” ujarnya mengenang masa-masa itu, sembari menikmati rokoknya (yang belakangan ia malah kebingungan, merasa rokoknya menghilang).

Waktu itu, ia sudah bertanya, “Kau punya Facebook?” kepadaku. Tapi karena aku ogah-ogahan main Buku Wajah waktu itu, selesailah omongan kami saat itu. Namun, aku mulai getol membaca blog beliau, Etsa, Kumpulan Esai dan Tulisan Kreatif Lainnya.

Terakhir, karena memang cuma tiga kali aku bertemu dengannya, kami bertemu di Yakoma PGI. Lagi-lagi acara dari Komunitas Penjunan. (Harus berterima kasih aku karena mendapat undangan terus dari komunitas ini, walaupun aku tidak pernah menjadi anggotanya.) Dan sekali lagi, seperti ketika di Newseum Cafe itu, ia bertanya, “Di mana kita ketemu?” Sayangnya, aku lebih tertarik untuk ngobrol dengan seorang guru Bahasa Indonesia yang getol mendorong anak didiknya untuk menulis.

Logat yang khas
Sejak pertama kali bertemu, satu hal yang paling berkesan darinya, logat Medannya yang khas. Praktis setelah meninggalkan Medan, sangat jarang aku mendengarkan logat ini. Di Solo, banyak orang Batak. Tapi yang kukenal malah lebih jago berbahasa Jawa. Di Jakarta, lebih banyak lagi orang Batak. Tapi lebih banyak yang ber-loe-gue-gethooo-loohhhh. Paling aku bisa mendengar logat Medan dari beberapa senior, itu pun sudah tidak terkesan “alami” karena mereka sudah sangat lama bermukim dan beroperasi di Jakarta. Ada juga rekan kerja yang berlogat demikian, namun lebih banyak ber-loe-gue (untungnya yang satu ini nggak pakai gethooo-loohhhh).

Maka ketika bertemu di Newseum waktu itu, kontan saja langsung kukatakan, “Sor kali aku mendengar logat Medan Bapak. Sudah rindu aku mendengar logat begitu setelah beberapa tahun merantau.”

Memang bukan cuma urusan logat saja yang mengesankan dari beliau. Dalam kesempatan terakhir, aku kagum kepadanya yang tidak membawa selembar kertas pun ketika berjejer dengan dua pembicara lain yang diundang oleh Komunitas Penjunan (yang tidak ingat aku siapa namanya, yang jelas satu dari Media Indonesia, yang lain pendeta yang punya nama Calvin apalah itu). Dan ia bisa menyampaikan hal-hal yang relevan dengan topik saat itu dengan lancar, menunjukkan luasnya pengalamannya.

Berpulang
Aku tetap masih sulit menerima fakta berpulangnya beliau. Maklum, baru akhir Agustus lalu kami bertemu lagi. Dan bagiku, ia tampak bugar. Masih asyik dengan gayanya yang khas. Ketika dua pembicara lainnya sibuk, sesekali ia tampak merenung, manggut-manggut, tersenyum. Pokoknya, tidak ada tanda-tanda kalau beliau itu punya penyakit. Dan hal yang sama menjalar di benak orang-orang BPK yang mengenal beliau: apa penyebabnya.

Kuputuskan untuk ikut melayat. Ketepatan beliau disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto yang cuma sejengkal dari BPK. Dan berangkatlah rombongan dari BPK, dua mobil, ke sana.

Sudah tentu banyak orang sudah berkumpul di sana. Tidak satu pun yang kukenal (meskipun belakangan kukenali pula Direktur Yakoma, yang ajaibnya, ingat pula kepadaku yang cuma sekali bersalaman dengannya waktu itu). Beramai-ramai kami menghampiri peti mati itu, menyaksikan almarhum di dalamnya. Janggutnya sudah dipotong menjadi lebih pendek daripada sebelumnya. Dan sudah pasti ia tak bergerak lagi. Dan pelan-pelan, ketika acara kami selesai, aku mulai tahu, oh, ini istrinya yang kini harus berstatus janda. Oh, ini anak-anaknya, menantunya, bahkan cucunya. Dan lihat, itu ibundanya yang sudah begitu renta.

“Ada satu cita-cita dia yang belum kesampaian sampai sekarang,” ujar atasanku yang juga kawan karibnya. “Dia bermimpi, BPK membuat semacam tempat mangkal, tapi buat para penulis.” (Atau begitulah kira-kira kata atasanku itu, seingatku.) Mungkinkah almarhum bermimpi melanjutkan komunitas Pasar Senen itu? Bisa jadi. “Dan dia sangat stres di BPK karena berseberangan dengan manajemen.” Belakangan aku tahu dari seorang kawan karibnya yang lain yang kini bekerja di kantor Yayasan Gunung Mulia, bahwa pihak manajemen tidak bisa mengikuti gagasan-gagasan almarhum karena keterbatasan dana.

Masih dalam perjalanan pulang kami ke BPK, atasanku kembali bercerita tentang masa lalu bersama almarhum. Bagaimana beliau menaruh sebungkus rokok di meja kawannya ini, dengan catatan, “Kemarin kuambil rokokmu, Sihotang. Inilah gantinya samamu.” Dan sejumlah kekonyolan beliau pada masa lalu. Herannya, bisa sekilas bisa kubayangkan seperti apa kejadian-kejadian yang diceritakan atasanku itu. Juga bagaimana Mitra Utama, penerbit yang ia kelola selepasnya dari BPK begitu maju pada masanya, namun harus pailit diterpa krisis ekonomi.

“Salah satu keberhasilan beliau,” ujar kawan karibnya yang satu lagi itu, “adalah memenangkan seri Little House, yang waktu itu juga diperebutkan oleh Gramedia.” Aku manggut-manggut mendengarnya. “Itu semua karena beliau melakukan korespondensi dengan pihak di luar sana. Hebat kan? Padahal waktu itu belum ada internet seperti sekarang.”

Pesan
Meskipun tidak pernah menulis buku, bukan berarti almarhum tidak gemar menulis. Bagi yang berkawan dengannya di Buku Wajah, pasti menikmati buah pikirannya di sana, entah lewat status, entah lewat notes. Kunjungi pula Etsa, blognya. Dijamin mendapat banyak hal dari tulisan-tulisan beliau. Mulai dari yang serius, sampai yang bikin tertawa terpingkal-pingkal. Dan semua itu menunjukkan bahwa dunia literatur merupakan dunia yang sangat ia cintai. Meskipun tidak menghasilkan uang, tetap saja ia menulis. Dan bersama-sama berbagai penulis, motivator dunia penulisan, ia selalu berseru, “Menulislah.”

Dunia penerbitan di Indonesia jelas kehilangan sosok Mula Harahap. Aku yang baru tiga kali bertemu juga. Mereka yang baru sekali saja bertemu pun juga. Selamat jalan Pak Mula.