Suasana terminal 1 keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. TEMPO/Aditia Noviansyah

Suasana terminal 1 keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. TEMPO/Aditia Noviansyah

Semenjak meninggalkan rumah lebih dari setahun yang lampau, aku memang harus mengandalkan internet untuk mengikuti perkembangan. Radio? Tidak pernah menjadi pilihan. Sudah lebih lama lagi aku meninggalkannya. Koran? Tidak bisa tiap hari kubeli. Sementara internet, minimal Senin sampai Jumat bisa kuakses.

Sore tadi (06/09), mataku tertuju pada sebuah berita. Berita kriminal. Kalau berita kriminal biasa, tentu tak kusentuh. Namun, yang sekali ini, mau tak mau kusimak juga.

Kalau biasanya penghipnotisan maupun pembiusan dilakukan di Metro Mini (dan dengan demikian Kopaja), atau Mikrolet (dan dengan demikian, semua jenis kendaraan seukurannya), atau Taksi, kini hal tersebut terjadi di bis Damri Bandara. Terang saja berita ini membuatku gerah. Betapa tidak? Salah satu hiburanku selama di Jakarta adalah menikmati perjalanan dari Gambir menuju Bandara. Dan angkutan apa pula yang senantiasa membawaku selain daripada Damri?

Dikabarkan bahwa korban dibius setelah menerima minuman dari plastik yang ditawarkan pelaku yang ditemui saat berada di dalam bis. Dan bla-bla-bla … demikianlah korban baru tersadar di kawasan Apartemen Kalibata. Konon mereka menaiki Damri arah Pasar Rebo. Diduga, pelakunya ada tiga orang dan berhasil merugikan korbannya hingga mencapai Rp3 juta.

Ada dua hal yang menjadi perhatianku dalam peristiwa ini. Pertama, semakin beraninya pelaku kejahatan. Semakin bervariasinya langkah-langkah yang mereka lakukan. Entah apa yang sekarang ada di benak para pelaku kejahatan ini. Sebagian orang mungkin berasumsi bahwa hal ini merupakan bagian dari kesemrawutan masalah sosial. Sebagian mungkin berpendapat ini salah pemerintah.

Mungkin para pelaku kejahatan itu berpikir, ”Ah, dia ’kan orang berada. Boleh dong bagi ke kita,” lalu seenak perutnya saja merampok, mencuri, dan membunuh, nah Saudara, Anda bisa menilai betapa keterlaluannya orang seperti ini. Kupikir, kecemburuan sosial karena yang satu lebih kaya sedangkan yang lain lebih miskin tidak perlu ada, selama si kaya memperoleh kekayaannya dengan bekerja keras. Celakanya, si miskin tidak membuat hal itu sebagai pendorong baginya untuk berjuang memperbaiki kehidupannya.

Aku tidak berniat menyudutkan si miskin. Sebab aku pun orang yang miskin juga. Namun, ketika kecemburuan itu muncul karena tidak mampu, jangan salahkan orang yang kaya! Jangan salahkan orang yang berhasil! Jangan karena dirinya gagal, dirinya miskin, serta-merta mewajibkan orang lain pun harus sama dengannya.

Hal berikutnya, kita tahu pola-pola yang dilakukan oleh penjahat (terlalu panjang kubiasakan menulis pelaku kejahatan, sementara maknanya sama saja) dari berita-berita seperti itu. Menawarkan minuman, atau makanan, atau apa pun. (Bahkan mereka yang jago menghipnotis, konon, bisa menghipnotis siapa pun dengan cara apa pun!) Namun, hal ini membuatku sedih.

Sudah bukan rahasia lagi kalau orang-orang kota selalu curiga dengan siapa pun di dekatnya. Tidak heran jika tidak ada keramahan di wajah orang-orang kota. Biar bertemu tiap hari, jangan harap ada tegur sapa. Apalagi dengan pola kriminal yang terjadi belakangan: menawarkan ini-itu, pura-pura menolong, padahal membunuh.

Oleh karena alasan inilah, aku sangat membenci para penjahat itu. Mereka tidak hanya memperburuk suasana perkotaanm, tetapi juga menghapuskan kebaikan sejati. Maka ketika seseorang tampak kehausan, jangan coba-coba Anda menawarkan minum kepadanya. Bisa-bisa Anda akan dicurigai hendak melakukan kejahatan. Mungkin hanya jika Anda melakukan hal itu kepada pengemis di jalananlah Anda tidak dianggap penjahat (meskipun ini tidak menjadi jaminan).

Dengan peristiwa Damri itu, mau tak mau, aku merasa cemas pula. Tidak terlalu cemas terhadap diriku, tetapi kepada mereka yang mungkin menjadi korban. Mungkin sudah saatnya perusahaan transportasi menyediakan mesin pemindai motivasi penumpang guna mencegah kejahatan di angkutan umum, termasuk kejahatan pelecehan di Transjakarta.