You are currently browsing the monthly archive for September 2010.

Mula Harahap beserta cucu-cucunya

“Sudah tahu belum, Pak Mula meninggal?” begitu rekan di balik telepon memberi tahu. Tak kutanggapi informasinya secara serius. Tapi pelan-pelan, kutanya juga pada rekanku yang senior, “Pak Mula meninggal, apa betul?” Kontan sikapnya berubah. Ia segera memberi tahu, betapa ia merasa agak heran mengetahui ada beberapa temannya di Buku Wajah yang mengucapkan “selamat jalan” kepada Mula Harahap. Aku yang biasanya tak suka membuka Buku Wajah, terutama pada jam-jam kantor, segera saja membukanya. Penasaran dengan berita itu. Ketepatan pula aku baru “berteman” dengannya.

Dasar bandit! Begitu dibutuhkan, lama sekali halaman Buku Wajah itu terbuka. Dalam hati, Bandit satu ini mungkin balas dendam karena tak kuperhatikan selama di kantor. Tak mau menanti sampai seluruh halaman tampil sempurna, kuketik nama Mula Harahap di bagian “pencarian” itu, dan begitu tampil hasilnya, langsung kuklik. Sekali lagi butuh waktu lama. Dan begitu tampil sempurna, sudah tampak begitu banyak orang mengucapkan salam perpisahan maupun apresiasi kepada beliau. Aku masih tidak begitu yakin. Barulah belakangan kudengar, beliau kena serangan jantung.
Read the rest of this entry »

Suasana terminal 1 keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. TEMPO/Aditia Noviansyah

Suasana terminal 1 keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. TEMPO/Aditia Noviansyah

Semenjak meninggalkan rumah lebih dari setahun yang lampau, aku memang harus mengandalkan internet untuk mengikuti perkembangan. Radio? Tidak pernah menjadi pilihan. Sudah lebih lama lagi aku meninggalkannya. Koran? Tidak bisa tiap hari kubeli. Sementara internet, minimal Senin sampai Jumat bisa kuakses.

Sore tadi (06/09), mataku tertuju pada sebuah berita. Berita kriminal. Kalau berita kriminal biasa, tentu tak kusentuh. Namun, yang sekali ini, mau tak mau kusimak juga.

Kalau biasanya penghipnotisan maupun pembiusan dilakukan di Metro Mini (dan dengan demikian Kopaja), atau Mikrolet (dan dengan demikian, semua jenis kendaraan seukurannya), atau Taksi, kini hal tersebut terjadi di bis Damri Bandara. Terang saja berita ini membuatku gerah. Betapa tidak? Salah satu hiburanku selama di Jakarta adalah menikmati perjalanan dari Gambir menuju Bandara. Dan angkutan apa pula yang senantiasa membawaku selain daripada Damri?

Read the rest of this entry »

Goodreads

Blog Stats

  • 4,218 hits
September 2010
M T W T F S S
« Jul   Dec »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Flickr Photos

Faith Writers

Visit us!

The%20NumbersQuantcast