Aku tidak yakin dirimu masih mengingatku. Tidak masalah. Sebab diingat orang lain, pada satu sisi, tidak selalu menyenangkan. Sejujurnya, aku malah tidak melihat apa menyenangkannya diingat orang.

Yah, abaikan saja salamku, kalau kalimat di atas memang dapat dianggap salam. (Dalam analisis percakapan, sah saja kita menyebutnya sebagai “salam pembuka”, tergantung dari mana kita melihatnya.)

Sudah berapa lama sejak terakhir kita bertemu? Aku tidak tahu pasti. Apa setelah lulus SMP? Tidak juga. SMU? Aku tidak yakin. Waktu sepertinya mempermainkanku sedemikian rupa. Mungkin itu juga alasannya mengapa aku mulai tidak dapat membedakan antara Rabu dan Kamis, Kamis dan Rabu. Entahlah. Tapi cobalah menyebutkan bilangannya. Sepuluh? Lebih? Bisa jadi.
Anehnya, aku masih ingat beberapa hal dari masa lalu itu. Bagaikan sebuah mozaik yang menghias masa laluku. Dengan dirimu yang sempat menjadi salah satu bagian utamanya. Betapa aku merindukan maa-masa itu. Betapa aku ingin memutar waktu dan kembali ke masa itu. Tapi kita tahu, itu mustahil ‘kan?

Senin dini hari yang lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku bermimpi bertemu denganmu. Aku tidak tahu mengapa dirimu mendadak hadir. Meskipun pernah menyimpan perasaan kepadamu, namun itu sudah berlalu, lama sekali. Meskipun sedikit banyak, aku masih bisa merasakannya.

Anehnya, aku sama sekali tidak pernah memikirkanmu. Tidak pernah memikirkanmu selama beberapa tahun terakhir. Aku cuma memikirkanmu setelah memimpikanmu, bertahun-tahun lampau. Dan ketika bertemu denganmu lagi kemarin, aku juga tidak tahu mengapa.

Aku bekerja pada perusahaan ayahmu. Begitulah mimpiku. Aku tidak tahu apa yang kukerjakan, tidak jelas dalam mimpi itu. Aku tahu, aku bekerja pada ayahmu, namun belum sekali pun aku bertemu denganmu. Lalu kudengar, kakakmu laki-laki terkena suatu masalah. Lagi-lagi aku tidak jelas apa masalahnya. Dan ketika aku berpaling, di sanalah aku bertemu denganmu. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari sepuluh tahun. Putri majikan dan kacungnya bertemu. Dan mimpiku buyar.

Janganlah tanyakan padaku apa artinya. Aku bukan Daniel. Bukan pula Yusuf. Aku tidak sanggup mengartikan mimpi. Namun, mimpi itu membuatku kembali memikirkanmu.

Aku? Hanya anugerah Tuhan saja aku masih hidup sampai saat ini. Keberadaan kita terpisah bagai langit dan bumi. Persis seperti ketika kita masih SMP dulu. Namun, ini menunjukkan betapa jalanmu bukanlah jalanku.

Aku senang melihatmu tampak baik. Aku senang mengetahui keberadaanmu saat ini. Aku senang bisa kembali memikirkanmu. Meskipun demikian, tidak sekalipun aku berharap dapat menjumpaimu. Entah kalau Tuhan yang menghendaki.

Satu dekade lebih telah berlalu. Masa yang sedemikian sangat cukup untuk mengubahkan seseorang. Namun, satu yang kuharap tidak pernah berubah darimu. Cintamu kepada Tuhanmu, kuharap tidak pernah berubah.