Nona, … Nona, maaf, tapi ada yang ingin saya sampaikan kepada Anda …

Sudah berapa kali kami satu bis? Aku tidak begitu ingat. Semula aku memang tiada memperhatikan keberadaannya. Kukira beberapa kali aku memejamkan mata. Menikmati lengkingan gitar Hisashi dan lantunan vokal Teru. Atau ketika bis sudah agak penuh sehingga aku pun tidak dapat tempat duduk, dan aku berdiri memandang keluar bis sehingga tidak memperhatikan keberadaannya.

Aku cuma ingat bagaimana pertama kulihat ia. Ia tampak sebagai seorang yang serius. Garis wajahnya terlihat tegas, setidaknya bagiku, sehingga kesan kedewasaannya terpancar. Kacamatanya yang berbingkai hitam itu, tampak sangat pas menghias wajahnya. Rambut panjangnya yang lurus tergerai indah. Dan yang terutama, ia selalu mengenakan setelan yang tampak elegan di mataku.

Lalu, untuk pertama kalinya kami bertemu mata. Cuma sedetik dua. Kualihkan pandanganku segera. Khawatir jangan-jangan ia menyadari bahwa aku sesekali melayangkan pandanganku kepadanya, meski aku yakin kalau aku pasti bukan satu-satunya. Dalam hati, aku menyesali keputusanku mengalihkan pandangan. Semestinya, aku bisa bersikap sopan waktu itu dan tersenyum kepadanya.

Kalau sekali-dua aku satu bis dengannya, tidak pernah aku bertemu dengannya ketika pulang. Sampai tiga hari yang lalu, iseng aku pulang dengan menaiki bis itu. Aku memang harus menunggu lama untuk mendapatkan bis yang langsung membawaku ke bilangan Sudirman itu. Siapa sangka ini membawaku pada pertemuan kami yang pertama dalam perjalanan pulang.

Kucoba memalingkan pandangan. Mengalihkan pikiranku darinya. Agar tidak terkesan aku memperhatikannya. Berusaha kularutkan pikiranku ke dalam melodi-melodi yang melantun di telingaku.

Bis melaju terus. Melintasi halte demi halte. Kukira sebentar lagi saatnya ia turun. Aku tidak tahu pasti, apakah di Bank Indonesia atau di Sarinah. Sejak Monas, aku mulai merasakan suatu dorongan. Mengapa tidak kutemui ia? Mengapa tidak kusapa ia? Menemui tidak dosa ’kan? Menyapa pun tidak ’kan? Pelan-pelan kuramu kata demi kata; kujalin kalimat demi kalimat. Kalau-kalau keberanianku muncul untuk menyapanya.

Bank Indonesia. Apa ia akan turun di sini? Apa aku pun akan turun di sini? Tidak. Ia tak turun di sini. Ia masih sibuk dengan ponselnya. Kalau begitu, Sarinah? Ya. Kulihat ia bersiap-siap turun. Akankah aku  turun di sini juga?

Seperti hadirnya dorongan tadi, rasa segan menyeruak menahanku. Bagaimana pandangannya kepadaku kalau aku yang tidak ia kenal mendadak menghambat laju jalannya? Bagaimana kalau ia harus buru-buru sementara aku malah memperlambatnya? Seakan kakiku terpaku, hanya bisa kuperhatikan ia turun dan melangkah keluar bis. Sementara aku masih terus di dalam bis. Terus melaju menembus malam yang menjelang. Sesal menyapa, hampa mencuat.

Hari memang lekas lalu. Malam berakhir, pagi menyapa, siang menghampiri, lalu sore kembali. Cuaca masih tetap seperti kemarin. Sekali lagi aku memutuskan naik bis itu. Dan tidak butuh waktu terlalu lama sampai tiba di Rawa Selatan.

Aku tidak tahu bahwa aku harus menunggu cukup lama sampai akhirnya aku mendapat bis. Perlahan langit berubah. Gelap mulai merayap. Namun, warna kombinasi merah-kuning yang khas itu segera membuatku bersiap. Begitu pintu terbuka, begitu aku melangkah, begitu kulihat ia di sana. Apakah ini takdir? Kehendak Tuhan? Ataukah karena aku keras kepala mesti naik bis ini sambil berharap bertemu dengannya lagi? Entah yang mana.

Bis melaju. Melintasi Senen. Melintasi Gambir. Apa yang harus kulakukan kali ini? Aku ingin menyapanya. Aku ingin menyampaikan kekagumanku. Sekali saja. Meski cuma sekali. Ya Tuhan, itu tidak dosa ‘kan? Dan seperti sebelumnya, meski aku berusaha memalingkan wajah, sesekali kulirik ia. Dan sekali-dua, untuk kesekian kalinya, mata kami bersua.

Sarinah masih cukup jauh. Tapi apa yang akan kulakukan ketika sampai di sana? Apakah kali ini aku akan ikut turun bersamanya? Lalu apa yang kulakukan? Bagaimana akan memanggilnya? Pelan-pelan kuingat ramuanku kemarin. Kuingat-ingat susunan kata demi kata itu; kalimat demi kalimat itu.

Meski sempat terhambat kemacetan, cepat atau lambat akhirnya tiba juga. Sarinah sudah di depan. Lihat, ia sudah berdiri, menanti pintu terbuka.

Dalam sekejap kuputuskan untuk mengikutinya. Tas yang semula kusandang, segera kulepas. Kuterabas orang-orang yang berdiri dan cukup menghalangiku itu. Kuikuti dirinya dari belakang. Dan kulihat ia menyadari kalau aku mengikutinya. Kami melintasi loket. Dan kuberanikan diriku menyapanya.

” Nona, … Nona, maaf, tapi ada yang ingin saya sampaikan kepada Anda …,” ujarku setelah beberapa langkah kami keluar. Ia berhenti.

”Ya?” ujarnya sambil memandangku. Sekejap tebersit dalam benak, tentulah ia berpikir, hendak apa aku yang tak ia kenal ini dengannya. Dan sekejap itu pula buyar semua ramuan kata dan kalimat dua hari ini.

”Anu …, errr …,” aku berusaha mengumpulkan semua kata dan kalimat itu. ”Emm …, kita beberapa kali satu bis. Dan …, ha, ha, bagaimana mengatakannya, ya?” ujarku gugup. Sementara ia masih menatapku. Celaka. Sudah kuduga, ia memang cantik!

Kutarik napasku, berusaha menenangkan hati. Lalu kutatap lagi ia. Meski tidak bisa sepenuhnya merasa tenang, meski tidak seluruh kata dan kalimat itu terkutip kembali, kuberanikan mengungkapkannya.

”Maaf kalau saya cukup sering memperhatikan Anda. Tapi bagi saya, em …, Anda tampak anggun dengan pembawaan Anda itu,” ucapku sambil tersenyum gugup.

Ia tersenyum manis dan berkata, ”Terima kasih.”

”Emm …, itu saja, maaf mengganggu,” ujarku gugup, lalu buru-buru kembali menuju loket, membayar tiket, lalu masuk dan menanti bis berikutnya datang dan membawaku menuju bilangan Sudirman.

Aku sudah menyampaikannya. Aku sudah menjumpainya. Aku sudah … ah, apa yang ia pikirkan tentangku? Orang aneh yang mendadak menghampiri dan menyampaikan sanjungan? Tersanjungkah ia? Seberapa sering ia menerima sanjungan demikian dari orang yang tidak ia kenal? Aku tidak dapat jauh membayangkan. Namun, aku sudah mewujudkan anganku. Entah apa yang kulakukan kala kami kembali satu bis.