Pooty

Aku bermimpi lagi. Ada sebuah rumah. Tidak jelas di daerah mana, bagaimana rupanya, apa warna cat temboknya. Tapi aku ingat ada anjing peliharaan kami. Itu anjing pudel pertama kami. Namanya Pikky, anjing pudel betina.

Rumah itu punya halaman belakang yang cukup luas. Halaman berumput hijau. Di sana biasanya Pikky berlari bebas.

Aneh. Aku menyadari ini kebalikan dari kenyataan. Sebab faktanya rumah kami selama 20 tahun adalah sebuah ruko. Kami tinggal di lantai tiga. Tidak ada halaman. Hanya ada beranda samping. Dan Pikky hanya bisa berlari menembus kolong-kolong meja makan, lemari makanan, dan kursi-kursi. Namun, dalam mimpi itu, meski tidak kulihat, aku yakin Pikky berlari-lari bebas di sana.

Ada dua hal yang biasa kualami dalam sebuah mimpi. Terkadang aku bisa mengingat seluruh mimpi itu dengan cukup rinci. Sementara tak jarang pula mimpiku tidak rinci. Lalu yang kedua, tak jarang pula mimpiku bercampur dengan mimpi yang lain.

Aku ingat kemudian kesehatan Pikky bermasalah. Ia tidak lagi selincah dulu. Bulunya mulai kusam. Kuangkat ia dari tempatnya meringkuk di halaman belakang. Aroma kematian seolah membayangi.

Aku tidak ingat apakah aku bermimpi hal ini di tengah mimpi tentang Pikky atau tidak. (Yang artinya, setelah hal ini, mimpi tentang anjing pudel kami itu berlanjut.) Begini ceritanya. Sepertinya, aku keluar dari kamar sewaanku untuk beberapa lama. Tidak tahu ke mana.

Lalu aku mendapati diriku tengah menaiki tangga. Tiba di depan kamarku, aku kaget. Kuncinya sudah dilepas. Dan kudapati barang-barangku sudah tidak ada. Komputer lipatku tidak ada. Bahkan kedua gitarku pun tidak lagi ada.

Aku berdiri bengong. Tidak tahu mesti berbuat apa. Sementara kamarku bersih. Tapi kenapa sampai gitarku pun harus diambil juga?

Aku terbangun sekitar pukul 7 pagi. Bayangan kehilangan merasuk kuat. Mimpi itu memang begitu singkat. Namun, mimpi itu benar-benar membawaku kembali ke masa-masa yang kurindukan.

Aku ingat bagaimana pertama kali Pikky diantar ke rumah kami, meskipun aku tidak ingat tanggal berapa tepatnya. Ia masih seekor anjing pudel kecil yang berusaha mengenali lingkungan barunya dengan takut-takut.

Lalu ia menjadi satu-satunya anjing pudel kami yang dapat berdiri dengan dua kakinya dalam hitungan lebih dari lima detik. Lalu ia menjadi induk dari tiga ekor anjing pudel lainnya. Lalu ia menjadi induk dari empat ekor anjing pudel lainnya lagi. Lalu ia harus kehilangan anak-anaknya. Sampai ia sendiri putus nyawanya, karena penyakit dan aku.