Kertas itu sudah sedari tadi ada di meja. Pena telah sedia pula di sampingnya. Ceri dan Abad Pertengahan. Hanya ada dua itu dalam benakku. Tapi apa yang sebetulnya mau kutulis, aku tidak merasa jelas.

Mataku terasa berat. Biarpun baru saja mandi, toh tetap tidak butuh waktu lama untuk membuatku merasa lelah. Padahal masih ada kertas untuk ditulis. Masih ada kotak mesti dibalut-balut. Aku benar-benar heran dengan tubuhku sendiri. Meski malam sebelumnya aku tidur tanpa sekalipun terjaga, tetap saja merasa mengantuk. Lelah.

Kurebahkan badanku sejenak. Kubayangkan Ceri dan Abad Pertengahan lagi. Sambil memutuskan, mana duluan yang mau kusampaikan.
Aku terlelap selama satu atau dua jam, aku tidak pasti yang mana. Aku tidak ingat jam berapa tertidur. Tapi ini sudah jam dua belas malam lebih. Aku harus menulis. Ceri dan Abad Pertengahan. Seketika itu kuputuskan, Ceri duluan, Abad Pertengahan menyusul.

Tapi aku benar-benar tidak bergerak lebih jauh daripada Ceri dan Abad Pertengahan. Kertas itu kecil. Ada banyak yang sebenarnya ingin kutuliskan di dalam sana. Tapi kepalaku tidak beres.

Biar begitu aku terus menulis dan menggores dan menulis dan menggores. Sampai aku sadar kalau aku benar-benar menulis dengan begitu kacau. Sepertinya apa yang terlintas dalam benakku, itulah yang ditangkap oleh tanganku. Dan begitu sadar, semua ruang tulis pada kertas itu sudah penuh.

Aku tercenung. Hanya cukup untuk satu kalimat pamungkas. Kuhela napasku sembari menatap jam dan terkejut. Sudah pagi! Dan aku belum tidur!

Ah, aku harap dia paham apa maksudku.