Dalam beberapa tulisanku sebelumnya, aku pernah bercerita kalau aku sangat mencintai hujan. Bukan karena aku dilahirkan dalam bulan-bulan Aquarius. Tapi ada kenikmatan tersendiri mencium aroma tanah yang bertemu air.

Ketika masih di Medan dulu, aku suka hujan. Meskipun sering kali hujan mendatangkan masalah. Karena kalau angin berhembus ke arah tertentu, entah kenapa rumahku kebocoran. Dan karena aku juga tidak ingin anjing-anjingku jadi basah, aku harus menyiapkan wadah untuk menampung. Belum lagi harus mengepel beranda.

Aku sudah lupa kapan hujan mendatangkan kegentaran buatku. Mungkin sudah lama sekali. Aku cuma ingat suatu waktu ketika masih sangat kecil. Saat itu hujan deras, deras sekali. Sampai rumah kami kebanjiran. Aku yang masih sangat kecil hanya bisa melihat genangan air di kamar. Tidak bisa membantu apa pun.

Malam ini, dalam pengasinganku, kurasakan badai mengamuk di luar sana. Hujan deras turun. Guruh berbalas-balasan di langit sana. Menghantarkan getaran-getarannya hingga ke lantai kamarku yang terbuat dari papan.

Kukira listrik akan padam. Karena seketika sebuah getaran yang kuat mengguncangkan, meredupkan lampu. Di tengah kesibukanku dengan komputer, sudah tentu aku khawatir. Sebab apa lagi yang bisa kulakukan kalau alat kerjaku satu-satunya, sekaligus hiburanku satu-satunya, rusak karena petir?

Terpaksa kupasang baterai komputerku. Sekadar berjaga-jaga kalau-kalau listrik padam.

Kalau kupikir-pikir, sudah lama juga sejak hujan turun terakhir kali. Kalau tidak salah, itu hari Minggu, dua pekan lalu. Sempat kubaca di surat kabar, wilayah selatan Jakarta sampai sekitar tanggal 18 Oktober akan rentan menerima badai seperti malam ini. apa mungkin Tuan Badai tengah berkunjung justru pada malam ini, ya?

Jedeeeerrrr! Sang guntur mengejutkanku sesaat. Seperti bunyi cemeti raksasa yang diayunkan oleh tangan yang mahakuat saja. Aku membayangkan seseorang atau sesuatu di atas sana, seperti tengah memacu kudanya. Mungkin itulah yang membuat bunyi geluduk-geluduk di atas sana. Lalu sesekali terdengar bunyi petir menyambar. Mungkin itulah cemeti sang pengendara.

Sungguh. Malam itu menggentarkanku. Setiap kali petir menyambar, ia menghantarkan getaran-getaran. Seolah-olah bangunan tempatku bernaung ini akan runtuh begitu getaran besar berikutnya hadir.

Tuk-tuk-tuk-tuk. Bunyi air hujan yang menetes ke suatu tempat. Mungkin itu atap di bawah sana. Diiringi bunyi kecipakan air yang turun terus-menerus. Diselingi oleh geluduk di kejauhan sana.

Lalu mendadak aku teringat padanya. Kalau hujan begini, ingin sekali aku berbagi cerita dengannya. Sebab sudah begitu lama kami tidak bertemu. Tergoda juga aku meraih ponselku. Mencari namanya di buku telepon, lalu meneleponnya. Berharap suaranya yang meskipun tidak bisa dibandingkan dengan suara merdu Mayumi Itsuwa, tetap bisa memberi ketenangan bagiku. Sekadar melepas rindu. Tidak salah bukan? Tidak salah bukan?

Irama hujan di luar sedikit berganti. Temponya berubah. Ketukannya kini menjadi 4/4. Tadi lebih cepat lagi.

Lalu aku teringat akan cerita orang tua zaman dulu, jauh ketika aku masih kecil. Mereka bercerita bahwa jauh di atas sana, ada malaikat. Malaikat mencuci kakinya. Bunyi kakinya, itulah yang menyebabkan geluduk di sana. Air yang dipakai mencuci kakinya, itulah yang tercurah hingga ke bumi.

Aku tidak tahu ada berapa banyak cerita, dongeng yang diciptakan para leluhur mengenai hujan. Entah untuk menghibur, entah untuk mengajar. Mungkin yang diceritakan orang tuaku dulu itu hanya salah satu versinya.

Sekarang, geluduk sudah sedikit reda. Hujan juga sepertinya sudah tidak sederas sebelumnya. Tapi nanti dulu. Dulu-dulu, aku ingat, pernah terjadi seperti ini. Seolah-olah hujan  sudah hendak berhenti. Namun mendadak, disambung dengan deraian yang lebih gila lagi. Dan sudah tentu, bunyi geluduk yang mahahebat terdengar lagi.

Aku masih belum berani meneleponnya. Sebab meskipun sudah lama, aku tidak tahu mau bicara apa. Aku belum bisa menumpahkan perasaanku selama ini padanya. Lagi pula, seingatku pulsaku tidak bakal cukup untuk bicara panjang lebar.

Aneh. Aku tidak tahu mau bicara apa, tapi aku berharap bisa bicara panjang lebar dengannya. Seperti tempo hari. Ketika kami masih bisa bertemu dengan bebas. Meskipun sering kali ia yang mengendalikan pembicaraan. Seperti ketika suatu saat aku hendak membicarakan suatu hal yang penting, sampai akhirnya aku lupa membicarakannya karena ia mengajakku mendiskusikan hal yang lebih penting dan lebih menarik.

Nah, lihat. Hujan kini sudah reda. Bunyi geluduk makin lama makin samar. Meski sesekali terdengar, namun tak lagi sedahsyat sebelumnya. Bunyi kecipakan air pun tak lagi terdengar. Meski aku tahu, ini bukan berarti hujan sepenuhnya berhenti. Pastilah di luar sana masih rintik.

Kuhela napasku panjang. Aku agak lelah seharian ini. Pekerjaan kantor menyiksaku. Bukan hanya karena aku harus mengerjakan topik yang paling kubenci. Tapi juga karena orang yang menggarap sebelum aku sepertinya mengerjakannya setengah hati. Padahal jadwalku sudah hampir sampai pada batasnya. Aku kira aku tak bakalan bisa menyelesaikannya dalam seminggu atau dua minggu.

Lalu mendadak, perutku terasa lapar. Dua mangkuk mi goreng tentu akan nikmat dirasa seusai hujan begini ….