Sekali lagi untuk kesekian kalinya, aku lunta-lantu di depan kantorku. Tak jelas hendak ke mana kuarahkan langkah kakiku. Ingin lekas tiba di rumah, tapi itu mustahil. Jarak yang jauh, jalan yang macet, bis yang sesak penuh, angkutan yang berjalan lelet. Semua itu selalu menghiasi.

Ada pula tempat bernaung lain. Tapi ke sana pun sama. Harus mengantri Transjakarta di halte yang sesak. Meski telah dihias kipas raksasa, tak jua memberi kelegaan. Lagi pula, naungan ini masih akan merepotkan temanku. Maka semakin lunta-lantulah aku.

Satu per satu teman-teman kantorku pulang. Ojek satu menjemput, membawa temanku yang satu pulang. Ojek yang lain datang, pulanglah yang satu lagi. Sementara temanku yang satu lagi dibawa lari kekasihnya, menembus udara sore hari. Tinggal aku sendiri, yang segera memutuskan melangkah pergi.

Lama juga aku berjalan. Sampai menjumpai Mayasari Bakti. Dalam hati, untung bis hijau itu ngetem. Kalau tidak, sudah ke Kota aku melanglang, membuang waktu.
Bis berjalan. Perlahan-lahan saja, perlahan-lahan. Di belokan Pejambon, beberapa orang yang wajahnya tak asing satu per satu naik. Yang dari Pertamina, yang dari mana-mana. Bis melaju, Gambir berlalu, menanti di depannya Pasar Baru.

Lalu naik pemuda, berpakaian compang-camping. Penuh curiga kutatap, compang-campingnya bikinan. Berteriak meminta-minta. Berkoar-koar seandainya ia seperti kami yang duduk. Uang lima ratus seribu tentu tidak berarti bagi kami. Mengatakan ia bisa saja menjambret, ia punya nyali untuk itu. Berujar bosan masuk-keluar bui hanya karena lima ratus dan seribu. Mengaku buat beli nasi.

Kutatap sinis ia dengan ekor mataku. Sambil membaca buku di tanganku. Tak konsentrasi aku dibuatnya. Kataku dalam hati, ”Seenakmu saja mengatakan lima ratus dan seribu tak berarti bagi kami! Dasar pemalas! Mengaku mengemis untuk mengisi perut dan makan nasi. Omong kosong, titik-titik kucing samamu! Turun dari bis ini paling kaulari pada tukang rokok. Mengisi perutmu dengan asap-asapan. Makan kaulah rokokmu itu! Takkan sepeser pun duitku kuberi. Kaubilang punya nyali untuk menjambret? Coba saja kalau berani! Semua kami punya nyali menggebukimu. Tubuh masih kuat, anggotanya masih lengkap, usia masih muda. Memang dasar pemuda pemalas!” Dan sumpah serapah lain yang mungkin saja terlintas kalau kulanjutkan. Lalu ia berlalu.

Macet pun menjelang. Hari mulai gelap. Sonata piano no. 14 C sharp minor melantun di telingaku saat tersadar bahwa bis sudah di tol, hari benar-benar mulai gelap. Sementara perjalanan masih membentang.

Kubuang pandanganku ke kiri. Menatap kendaraan yang berbelok arah dan yang berjalan lurus. Dan ketika kupandang langit nun di sana. Kupandanglah Sang Bundar telah menggantung. Warnanya yang khas kuning tua memancar di langit yang mulai gelap. Ia baru saja hadir.

Musik mengalun. Penyanyi melantun.

眺めのいいあの窓辺
何も言わなくても  あなたが好きな事
全部知ってたつもりでいたんだ

Kupandangi ia terus …. Membayangkanku tidak sedang menuju tempat tinggalku. Tetapi tengah menuju dunia baru. Dunia baru yang memberikan ketentraman.

昼間の星を見つけたよ あなたを見つけた日も
同じくらい嬉しかったんだ 今までよりも特別なのに

Mendadak aku merasa tengah melaju di jalan raya di Salatiga. Jalan-jalan di Jalan Diponegoro. Pun jalan-jalan di Jalan Jendral Sudirman. Seolah aku sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Di dalam bis yang nyaman. Diiringi dengan mentari yang segera tenggelam.

Lalu aku terlempar ke masa ketika aku segera meninggalkan Bekasi. Menuju ke Yogyakarta. Memulai karierku di dunia tulis-menulis. Mengawali karierku mengutak-atik bahasa tulisan. Membedah dan membongkarnya sesuai sistem yang semestinya.

さよならを上手に言えない私は 明日へ飛べない鳥
少しでも勇気を持つ事できたら ほんの少しだけでも

Semua itu serasa baru kemarin berlalu. Aku merindukan masa-masa itu. Kubiarkan diriku larut pada masa laluku. Sementara aku mulai terlonjak-lonjak di dalam angkot yang melabrak lubang-lubang jalanan, gerakan-gerakan yang membuyarkan lamunanku.

Namun, lihatlah. Lihatlah di atas sana. Sang Bundar sudah semakin tinggi. Warna kuning tuanya telah berubah menjadi kuning yang lebih cerah. Memantulkan cahaya dari Sang Surya. Memeriahkan langit malam, melengkapi lamunan.

Aku sadar, takkan lagi ia bisa kunikmati sesempurna ini. Langitku akan segera berubah. Pekaranganku yang hijau dan liar akan berganti gedung-gedung kelabu diselimuti polusi kelam. Semoga saja aku tak tenggelam. Semoga saja tak berubah aku menjadi mayat hidup.