Mendadak aku tak bisa lagi menulis! Setiap kali kupusatkan perhatian untuk menulis, tulisanku hanya berputar-putar di situ-situ saja. Setiap kali pulang ke tempat yang disebut orang sebagai rumah, fokusku hilang. Akhirnya, aku malah lari ke FIFA 2008.

Aku sudah punya sejumlah ide. Sempat kutuangkan kerangkanya. Berharap bisa dikembangkan menjadi tulisan.

Aku sudah menemukan sejumlah bahan untuk kubahas. Sempat kutuangkan juga. Namun, berkali-kali mencoba, tak satu pun yang sukses.Pernah ketika menjelang Paskah aku menulis. Sudah jadi. Tapi aku berpikir, kok tulisan ini kurang patut ya? Terkesan dipaksakan. Daripada mengundang caci-maki, tulisan itu tak pernah kupasang di blog.

Lalu aku merasa, aku sudah harus menulis. Aku suka menulis dongeng. Aku punya beberapa ide untuk dongeng. Ide-idenya bagus. Begitu kata salah satu temanku yang sempat mendengar salah satu ideku. Tapi begitu memulai, aku cuma bisa melahirkan satu paragraf yang akan menjadi trademark dongengku. Selanjutnya? Boro-boro nulis. Aku malah tertidur di depan komputer lipatku.

Aku merasa harus menulis lagi. Kali ini soal realita. Bahan-bahan sudah beragam. Tinggal menganalisis. Tapi begitu memulai, aku tak tahu mau memulai dari mana. Akhirnya, setelah menulis beberapa kalimat yang rasanya tidak cukup kuat, aku terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa.

Aku terpaksa beralih kepada membaca. Aku beralih pada diskusi dengan seseorang. Kami bahas teologi. Kami bahas gereja. Kami bahas doktrin. Kami bahas Calvin. Kami bahas pelayanan. Kami bahas … sampai tiba giliranku kembali merespons.

Akhirnya, aku tak bisa menulis apa-apa selain menulis surat. Menulis surat yang bersifat pribadi kepada pribadi yang lain. Kuselipkan pendapat pakar ini pakar itu. Kububuhkan sejarah. Dengan harapan dia mendapat berkat dari suratku itu. Sekadar mengulang masa lalu yang tak pernah ketahuan ke mana menguapnya.

Minggu kemarin (10/05/09) aku membuat agenda. Aku mungkin perlu pulang malam dari kantor. Mungkin suasana kantor yang senyap akan membantuku menulis. Bukankah dulu keheningan membuatku berkonsentrasi penuh? Lalu membuatku banyak menulis? Meski sebagian besar adalah tuntutan pekerjaan?

Satu per satu teman-teman kantor berpulangan. Aku menatap monitor komputerku yang baru saja diganti dengan ukuran 17 inci. Lalu langit perlahan-lahan menjadi merah. Dan aku tidak beranjak dari halaman dokumen Word yang didominasi warna putih. Aku hanya mengulang apa yang kukerjakan di gubukku, di komputer lipatku. Aku tidak bisa menulis!