Tidak biasanya bis hijau itu disesaki penumpang sedini ini. Belum sampai Pasar Baru, sudah berjubel penumpang yang berdiri. Nona-nona yang biasanya mendapat tempat duduk, kini memutuskan turun dan menanti bis berikutnya sambil berharap tidak seramai bis yang satu ini. Ibu-ibu yang biasanya duduk di bangku depan samping kiri supir itu pun kini harus berdiri pula. Tak lagi ia mendapatkan duduk di tempat favoritnya itu.

Aku sendiri tidak terpengaruh oleh itu semua. Aku sudah duduk dari Senen. Berbincang-bincang ngalor-ngidul dengan temanku. Mulai dari masalah perbukuan, penerbitan, kebijakan ini-itu, sampai urusan pelayanan, aktivitas gereja, masa-masa SMP, masa-masa SMA(U). Tidak ada pembicaraan yang terlalu rumit. Karena kami sama-sama tahu, hari ini cukup melelahkan.

Kami tak menyinggung keadaan yang tidak biasanya ini, aku yakin ia pun merasakan kalau bis ini penuh lebih cepat daripada biasanya. Tapi mungkin juga hal ini sudah biasa baginya karena memang ia sudah ratusan, mungkin ribuan kali, lebih sering menyaksikan kondisi ini. Sementara itu, kami masih terus berbincang seadanya. Sampai tiba saatnya ia turun. Dan meninggalkan bangku yang segera diisi oleh seorang gadis.

Perjalanan yang melelahkan terus berlanjut. Jendela bis ada di bagian atas. Membuat suasana menjadi gerah. Tubuh pun tidak nyaman. Kukira hal serupa dirasakan oleh semua orang. Tapi semua bertahan. Dan musik terus mengalun. Sementara kuselesaikan membaca sebuah cerpen lagi dari penulis favoritku, Korrie Layun Rampan.

Hari beranjak gelap. Sang surya mulai berpamitan. Menyebarkan merah di ufuk barat. Sementara bis melaju di tol. Tersendat-sendat. Sembari sesekali melaju kencang. Untuk kemudian berhenti kembali. Membuat sirkulasi udara tidak berjalan benar. Mengingat semua yang bernapas di dalamnya berebutan oksigen dalam ruang yang sempit.

Taman Mini segera menjelang. “Garuda, Garuda, Garuda!” teriak kondektur. Semua berjejalan keluar. Aku pun serta. Berdesak-desakan dengan penumpang lain yang juga ingin turun.

Betapa lega rasanya bisa berada di luar lagi. Kuhirup udara dalam-dalam. Lalu melangkah cepat-cepat. Menyeberangi jalan. Lalu segera menaiki angkutan yang akan membawaku langsung ke gubukku.

Kuambil duduk di depan. Di samping sang supir. Aku tak tahu apa yang membuatku memilih duduk di depan. Sebab selama ini aku selalu mengambil duduk di belakang. Posisi sudut. Mungkin juga karena aku tidak hendak mengulangi suasana di dalam bis tadi. Tapi aku akan bersyukur karena duduk di depan.

Kulayangkan pandanganku ke mana-mana. Kupandangi mereka yang tengah  menunggu angkutan. Kupandangi angkutan-angkutan yang berbaris seenak knalpot mereka dan menimbulkan kemacetan. Kupandangi pula para pengendara sepeda motor. Tapi ketika kupandangi langit atasku, takjubku hadir.

Di atas sana ia benderang. Memantulkan sinar dari sang surya yang sudah berpindah. Begitu bulatnya ia. Menyihirku untuk terus menatap dan mengaguminya. “Lihatlah, pandanglah kepadaku!” Warna kuningnya begitu kentara. Membuatnya menjadi benda langit terindah seketika itu juga.

Angkot berjalan meninggalkan kemacetan di belakang. Sementara mataku masih terus menatapnya di atas sana. Aku beruntung. Rumah-rumahan belum terlalu tinggi. Tidak ada gedung-gedung pencakar langit yang berdempetan di wilayah ini. Meski demikian, jalanan yang cukup rendah membuat rumah-rumah penduduk yang biasa menjadi penghalang bagiku yang terus menatapinya. Belum lagi pepohonan yang rimbun. Membuatku berharap-harap cemas, jangan-jangan ia akan pergi meninggalkanku.

Mendadak mengalir kata berbaris dalam benakku. Kurajut ia dengan rasa. Karena mendadak aku terkenang padanya. Seolah-olah ia ada di atas sana, di bulatnya sang benda langit yang memantulkan cahaya yang terang itu.

Kurogoh saku kemejaku. Dan seketika jari jempolku sudah menari-nari menekan tuts-tuts telepon genggamku. Kutuliskan padanya:

Malam ini bulan purnama.
Bisakah kaulihat dia?
Bulat besar dan indah.
Bisakah kaulihat dia?

Bermimpikah aku?
Terjagakah aku?
Sampai terbayang olehku,
di sana wajahmu?

Ya. Aku ingin ia melihat apa yang juga kulihat. Aku ingin ia menangkap keanggunannya pada malam ini. Kuingin pula ia merasakan apa yang kurasakan.

Ya. Aku serasa bermimpi. Melihat ia yang tergantung di angkasa kelam. Masih terus menebar sihir dan pesonanya. Seraya berkata, “Lihatlah, pandanglah kepadaku!”

Sementara itu angkot terus berlari. Sembari sesekali berhenti oleh angkot lain yang berhenti, masih seenak knalpotnya. Dan aku masih terus menatapi sang bundar kuning itu. Seperti tersihir oleh pesonanya.

Pesona serupa pulalah yang memikatku dua tahun yang lalu, setahun yang lalu–entah kapan tepatnya beberapa waktu lalu itu. Di balik jendela sebuah bus yang membawaku kembali ke Pusat Jawa dari Yogyakarta. Bundarnya yang begitu besar, memantulkan cahaya sang surya dari balik sana. Seolah mengiringi pulangku itu.

Lalu aku tersentak. Sebuah pesan masuk. “Yang ada cuma langit hitam tanpa ada yang bersinar, satu bintang kecil pun tidak, apalagi bulan bulat besar. Mimpikah?”

Tidak. Aku tidak sedang bermimpi. Bagaimana aku bermimpi selagi aku sadar mengirim serangkai pesan itu tadi? Ataukah memang langitnya di seberang sana sedemikian pekat? Sedemikian pekat oleh awan dan polusi Ibu Kota? Bukankah cerah di sini bukan berarti cerah di sana? Tidakkah langit di sini tidak serupa langit di sana? Sebab hujan di sini pun belum tentu hujan di sana?

Kulayangkan pandanganku kembali ke tempat sang bundar besar itu digantungkan Sang Pencipta. Ah, itu dia, masih di sana. Tampak sendiri. Sebab memang tiada bintang menemani. Karena awan-awan mulai berarak. Sebagian mulai menutupi.

Sementara angkot yang kutumpangi mulai membuatku terlonjak-lonjak. Memasuki daerah penuh lubang. Hampir seperti dihantam godam di sana-sini. Lubang besar, lubang kecil, lubang sedang. Yang entah sampai kapan akan dibiarkan berlubang-lubang oleh pemerintah setempat.

Lalu terlintas dalam benakku. Ah, mengapa tidak kujepret saja sang bundar besar di atas sana? Maka berkali-kalilah aku melirik ke tempatnya tergantung. Berharap jangan sampai ada awan hitam yang menutupi. Kalau tidak, aku tidak punya bukti. Dan segeralah sesampaiku di gubuk reyotku, kujepret ia dari bumiku berpijak, kujepret seadanya. Kukirimkan padanya.

“Lihatlah, aku tidak bermimpi. Semoga saja ini menjadi bukti kalau aku tidak bermimpi, meski tidak sempurna hasilnya.”

Keesokan subuhnya, dalam kantukku, teringat aku akan sang bundar besar itu. Dan amboi, lihatlah ia masih tergantung di sana. Dengan sinarnya yang begitu jelas. Kali ini dengan teman-temannya, para bintang-gemintang yang berkelap-kelip. Seakan mengiringi sang bundar besar beralih ke bagian bumi lainnya, memberi pintu bagi sang surya mengambil alih bagian bumi kami.

Kuharap ia masih bisa menikmati sang bundar besar di Ibu Kota sana.