Bukan malam ini saja aku melihat mereka. Sudah beberapa kali rasanya aku melihat mereka. Dari apa yang kulihat, aku yakin mereka adalah kakak-adik.

Yang berambut pendek pasti kakaknya. Aku kira begitu. Sedangkan yang berambut panjang tentulah adiknya. Sekali lagi, awalnya memang itulah dugaanku. Aku tidak pernah tahu kebenarannya sampai kemudian.

Pada malam Natal, aku duduk di depan mereka sekeluarga. Sedangkan pada ibadah Natal keesokan harinya, aku duduk tepat di belakang mereka.

Tidak ada yang terlalu istimewa dengan keduanya. Namun, keduanya tampak begitu unik bagiku. Sang kakak, rambutnya pendek seperti yang kukatakan tadi, dengan tinggi rata-rata, dengan gigi yang sedikit mancung. Sang adik, dengan mata yang rada sipit, sampai aku mengira kalau mereka tentu etnis Tionghoa, dengan bahasa orang zaman sekarang ia terbilang imut dan tampak sedikit lebih manis daripada kakaknya. Tapi keduanya sama dalam satu hal: mata mereka berbinar-binar dan periang. Kukira hal itu sering terjadi di kalangan anak gadis yang usianya berjarak tidak jauh. Mungkin mereka hanya berbeda antara satu dan tiga tahun.

Kuakui, aku senang melihat mereka tampak begitu akrab. Mungkin karena aku tahu aku takkan lagi pernah bisa bersikap seperti itu. Mungkin ini bagaikan mengangankan sesuatu dan terwujud pada orang lain, tidak pada diri sendiri. Mungkin karena itu pulalah aku suka melihat mereka. Tidak ada perasaan lebih daripada perasaan seperti itu, aku yakin itu.

Aku tidak pernah berharap akan mengenal mereka. Tidak pernah berharap mengetahui nama mereka. Aku tidak pernah berharap lebih daripada yang bisa kudapatkan selama ini.

Pada ibadah malam Natal aku berada tepat di belakang mereka sekeluarga. Ya, aku tahu itu ketika mereka berempat, dengan ayah dan ibunya, tiba dan duduk persis di depanku. Keakraban yang kudambakan mereka tunjukkan tanpa mereka sadari. Sesekali kuperhatikan apa yang mereka lakukan di depanku. Mulai dari perbincangan ringan, sampai bermain-main dengan kamera HP.

“Pertemuan” pertama kami terjadi dalam penyalaan lilin. Kami sempat berbagi lilin. Namun, tidak ada hal lain setelah itu. Dan aku tidak pernah berharap akan bertemu mereka lagi dalam berbagai kesempatan, meski aku tahu mereka merupakan anggota jemaat gereja ini, tidak sepertiku yang berkeliaran ke sana ke mari (meski dalam kurun waktu enam bulan terakhir aku lebih sering beribadah di gereja ini).

Tidak sampai malam Perayaan Natal. Keputusanku untuk membatalkan sebuah kunjungan pada 27 Desember 2008 itu ternyata tidak sia-sia.

Seperti pada malam Natal dan hari Natal, aku bergegas menuju gereja lebih awal. Harapannya cuma satu: agar aku mendapat tempat duduk di dalam gedung, mengingat gedung gereja ini terbilang mungil bila dibandingkan dengan sejumlah gereja lain sesinode, kecuali satu di negeri yang baru setahun kutinggalkan.

Aku tidak bertemu dengan mereka dalam gedung ibadah. Tapi aku berkenalan dengan seorang ibu yang menceritakan banyak hal mengenai gereja ini sejak awal kehadiranku. Ia memperkenalkan putrinya, lalu putranya yang malam itu bertugas mengiringi dari balik piano. Lalu ia memberitahuku suaminya, yang adalah majelis–aku sudah beberapa kali melihatnya. Ia jugalah yang mengajakku untuk mengurus statusku di gereja ini dan berbagian dalam kegiatan di gereja, terutama di paduan suara yang konon minim pria mengingat kebanyakan bapak sibuk bekerja sehingga hanya sedikit yang mau berbagian.

Pembicaraan dengan ibu ini berbuntut. Ketika hendak bersalaman, sang bapak yang ketepatan berada di depanku langsung berujar pada Ketua Majelis Jemaat yang tadi membawakan renungan singkat, “Pak, ini ada anggota baru,” sambil memperkenalkanku. Tentu saja Sang Pendeta langsung menyambut sembari memberi salam jemaat.

Di luar telah disediakan makan malam. Prasmanan. “Silakan makan saja dulu, saya akan ambilkan kartu jemaatnya,” ujar si bapak tadi sembari menuju ke kantor gereja meninggalkanku yang segera mengantri.

Tepat ketika aku mengambil piring, bapak tadi muncul sambil membawa kartu jemaat yang masih kosong. “Nanti diisi, sertakan semua surat baptis dan sidi, sekaligus surat atestasi, lalu bisa dikembalikan ke sini,” ujarnya sembari menyodori kartu tadi, dan membuat tanganku penuh: sebelah kanan dengan kartu jemaat dan sebelah kiri dengan piring kosong. Tentu saja adegan ini membuat semua yang ada di sekitarku mengenaliku sebagai si-orang-baru.

Setelah mendapatkan jatahku, seperti biasa aku pasti mengambil semua jenis makanan yang dihidangkan. Dan meskipun aku mengambil sedikit nasi, piringku menjadi penuh menggunung oleh sayur, daging ini dan itu, dan sebagainya. Aku ambil posisi berdiri di tempat yang tidak terlalu ramai. Kukira aku hanya akan memperhatikan para jemaat yang tengah mengantri makanan sembari memikirkan ulang semua tawaran tadi.

Kupikir aku akan terus seperti pada posisiku memperhatikan jemaat dan merenungkan tawaran tadi. Tidak sampai seorang ibu yang lain datang dan mengajakku berbincang-bincang. Dan ibu ini adalah ibu dari kedua nona itu! Dan aku baru tahu bahwa mereka ternyata jemaat yang masih tergolong baru di gereja ini, baru sekitar tiga bulan.

“Oh iya, kenalan dong,” ujarnya kepada kedua putrinya tak lama kemudian.

“Olive,” sahut sang adik, persis seperti dugaanku sejak semula.

“Audrey,” timpal sang kakak.

Kusambut uluran tangan mereka dengan sunggingan senyum. Lalu kujabat pula tangan ayah mereka.

Seperti biasa, aku tidak begitu tertarik untuk menanyakan pekerjaan bapak dan ibu itu. Aku hanya memberi tahu mereka apa yang mereka ingin tahu dariku: tempat tinggalku (yang ternyata masuk sektor empat, seperti halnya mereka) dan pekerjaanku. Dan seperti ibu di sebelah kananku di dalam ruang ibadah tadi, ibu ini pun mengajakku untuk mengurus statusku, meskipun sebagai simpatisan, agar bisa dilayani kalau terjadi apa-apa. Dalam hatiku, ibu ini seolah-olah bersekongkol dengan ayahku yang juga berkata demikian pada malam Natal yang lalu. Bedanya, ayahku berbicara demikian sambil mengomeliku ini-itu.

“Kedua putrinya masih sekolah, Bu?” akhirnya aku bertanya mengenai kedua gadis itu, meski semula aku hendak mengajak bicara langsung kepada keduanya.

“Ya. Yang kecil masih SMP kelas tiga, sedang kakaknya SMA kelas dua,” jawab sang ibu. Lagi-lagi persis seperti yang kuduga sebelumnya: usia keduanya pasti tidak berbeda jauh.

Sembari berbincang, sesekali kuperhatikan keduanya. Keakraban yang kuangankan itu lagi-lagi mereka pertontonkan. Sungguh menyenangkan melihat mereka demikian. Ingin juga aku berbicara langsung kepada mereka. Tapi aku kira tidak terlalu sopan meninggalkan orang tua mereka begitu saja sementara dari lagunya aku merasa bahwa saatnya tidaklah tepat untuk hal itu.

Tak lama mereka minta diri. Dan karena aku pun sudah puas makan, kukira tidak salah juga jika kuikuti langkah mereka meninggalkan pelataran itu dan bergegas pulang.

Sungguh malam yang menyenangkan. Aku tidak hanya bisa mengenal mereka berdua secara langsung, tapi juga sejumlah jemaat lainnya. Malam itu terlintas pula dalam benakku untuk benar-benar mengurus statusku di sana. Bukankah dengan demikian kesempatanku untuk berbincang-bincang dengan Olive dan Audrey tadi akan lebih terbuka? Lalu, tidakkah aku akan menikmati lagi berbagian dalam sebuah kelompok paduan suara?

Entahlah. Meski sempat berpikir demikian, aku masih sulit memutuskan hal itu. Terutama karena statusku di negeri baru ini pun masih belum jelas dua bulan ke depan. Mungkin kalau ada kepastian keberadaanku harus lebih lama lagi di sini, barulah aku mengambil langkah tegas. Yang jelas, malam itu benar-benar menyenangkan. Bahkan langit pun seolah menyuarakan hal itu dengan bersikap cerah dan mempertontonkan bintang gemintang serta bulan sabit yang benar-benar indah.