Suatu pagi, mungkin saja aku bangun dari tidurku. Sepertinya kepalaku masih berat, pertanda tidurku terlalu singkat. Mungkin saja saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Pertanda aku sedikit terlambat untuk ke kantor.

Mungkin saja waktu itu, di kepalaku, masih terngiang sebuah lagu:

いっそこのまま この夜に心を置いて行こう
ヒラリヒラリと降り出した雪 君の鼻先に落ちて
言葉は限りなく 二人を責め立てる
キラリキラリとネオンが点(つ)いても帰る場所も無い

Lagu yang tak pernah kumengerti artinya apa. Namun yang selalu terasa familiar dengan nuansa diri yang tak kunjung sembuh.

Aku tak pernah mengerti apa arti lirik itu. Video klip mungkin berbicara banyak. Tapi bukan jaminan kalau ia menyampaikan arti yang sesungguhnya. Tapi yang kutahu, ia melantunkan salam perpisahan.

Mengawali pagi hari dengan kepedihan bukanlah gagasan yang baik. Bukanlah keputusan yang bijak. Kata orang, hal itu bisa menghancurkan hari-harimu. Tapi rasanya itu yang terus-menerus harus kujalani.

Entah di mana ia tercecer. Entah di mana ia terjatuh. Entah di mana ia menghilang. Ataukah ia bersembunyi di balik awan? Ataukah ia bersembunyi di balik pepohonan? Adakah pula ia bersembunyi di balik meja besar? Adakah ia sesungguhnya melarikan diri dariku?

Rasanya sudah berbulan-bulan terakhir ini aku tak menemukannya. Kucari-cari di lemari pakaian, di sana tak kutemukan. Kucari-cari di laci meja kerjaku, di sana tak kutemukan. Kucari-cari di kamar kecil, di sana tak kutemukan. Kucari-cari di tempat yang bisa dicari-cari, di mana pun itu, tak juga kutemukan.

Hilang asaku, putus harapku. Bagaimana kulanjutkan semua ini? Tidak cukupkah tekadku? Tidak kuatkah keinginanku?