Closing the window

Sudah berapa lama sejak aku terakhir bermimpi? Aku tidak tahu. Aku merindukan menjalani mimpi di dalam mimpi. Melangkahkan kaki dalam warna-warni yang indah, tiada yang mengganggu. Ya. Aku merindukan sebuah mimpi yang indah.

Mimpi. Impian. Aku sudah lupa semua itu.

Pernah aku bermimpi menyentuh tangan para malaikatku lagi. Aku berharap bisa bercerita tentang banyak hal pada mereka, dari hati ke hati. Aku berharap mereka juga bisa bercerita tentang diri mereka kepadaku secara terbuka. Aku berharap tidak hanya aku yang memanggil. Aku berharap mereka juga memanggilku. Betapa bahagianya hatiku ketika mendapati pesan dan panggilan dari mereka.

Namun, waktu berlalu. Detik berganti menit; menit berganti jam; jam berganti hari; hari berganti minggu; minggu berganti bulan; sampai akhirnya bulan berganti tahun.

Ku berteriak.

“Ke manakah kalian? Mengapa membiarkanku sendiri? Janganlah kiranya melepaskan tanganku!”

Mereka bergeming dalam keberadaan masing-masing. Seolah-olah masa-masa yang lalu sudah tiada berarti. Seolah-olah diriku tidak pernah ada pada mereka sebelumnya. Seolah-olah tiada berharga keberadaanku.

Aku tak pernah mengerti mereka lagi. Mereka tak pernah berkata-kata, bahkan sepatah pun kepadaku.

Apa yang harus kulakukan?

Segala macam pikiran melintas dalam benakku.

Apa yang harus kulakukan?

Aku harus berjalan sendirikah? Aku harus melangkah sendirikah? Aku harus berjuang sendirikah? Aku harus …-kah?

Mengapa kalian berdiam? Wahai kalian yang pernah menjadi malaikatku? Dan engkau, mengapa engkau pun membeku? Sudah sirnakah segala sesuatunya?  Mengapa tak kunjung kaujawab panggilanku hari demi hari itu?

***

Hari itu kuputuskan menghampirinya. Kuputuskan menjumpainya. Kuputuskan menghadapnya. Berharap segalanya jelas. Berharap tiada rahasia di antara kami. Ya, ia salah satu malaikat yang pernah ada. Kuharap mengakhiri segalanya.

Maka berakhirlah segalanya. Ia pun meninggalkanku dalam sepi.