Bulan Oktober yang lalu, ada pesta buku alias book fair di Solo. Ini momen yang tidak mungkin kulewatkan. Meski harus menghabiskan dana buat ransum bulanan, yang penting buku.

Seperti biasa kegiatan ini diadakan di Diamond Convention Center, Jalan Slamet Riyadi. Tempat ini juga digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan ini tahun lalu. Yah, memang tempatnya cocok, sih. Hanya lima hari mulai 1–5 Oktober. Jadi, kudu buruan kalau tidak mau kehabisan.

My Lates Books diambil dengan kamera ponsel BenQ-SIEMENS E61

Lalu apa yang kuperoleh? Buku-buku di atas itulah yang kuboyong pulang dari pameran tersebut. Sebenarnya, hari pertama aku hanya membawa pulang buku Stephen King, The Tommyknockers, dan buku Kreatif Berbahasa itu. Harganya berapa? Untuk buku Stephen King, aku hanya mengeluarkan Rp 15.000,00 dan untuk Kreatif Berbahasa, setengahnya.

Tapi tidak menjadi kebiasaanku untuk menahan diri. Apalagi tidak selamanya aku akan menikmati hidup di Solo. Jadi, hari Sabtunya, kupesankan buku-buku lain, khususnya Stpehen King kepada temanku yang juga ke sana. Maka dapatlah Cujo dengan harga yang sama.

Masih tidak puas, sepulang gereja, menumpang mobil omku yang saat itu dikendarai oleh menantunya, aku kembali ke sana. Dan kuperolehlah sisanya. Buku yang palin kiri di atas itu merupakan adaptasi dari sebuah disertasi tentang kurikulum bahasa Indonesia di SD. Lalu kubeli juga buku Tokoh-Tokoh Cerita Pendek Indonesia karya Korrie Layun Rampan. Dan sebuah novel Sepatu Sang Nelayan. Ketia buku itu masing-masing berlabel Rp 15.000,00 dan kudapatkan dari stannya Grasindo. Sebenarnya, masih ada yang menarik di stan Kompas-Gramedia. Namun, pikirku, cukuplah dari grup Gramedia.

Aku juga berharap dapat menemukan novel-novel Stephen King lagi. Namun, kala itu cukup sesak di stan yang kecil itu. Aku hanya berputar-putar sampai menemukan novelk fantasi, Dragon of Summer Flame yang sialnya merupakan novel saga; artinya terdiri dari beberapa seri lainnya, ketepatan itu adalah seri pertama. Yang cukup menyejukkan, aku menemukan sebuah buku yang merupakan intisari dari karya tulis A. W. Tozer, Gems from Tozer salah satu teolog kenamaan. Untuk dua buku berbahasa Inggris ini, aku mengeluarkan Rp 20.000,00.

Nah, puas berbelanja buku, pulanglah aku dengan menaiki dua kendaraan umum, mengeluarkan Rp 5.000,00.

Dalam kesempatan lain, aku bergurau dengan temanku. Kataku, “Yeah, kalau kehabisan duit, tinggal bukunya dibikin bubur saja,” karena dia juga membeli buku tak kalah banyaknya, malah lebih banyak daripada aku. Kebanyakan berupa novel-novel suspense-thriller dalam bahasa Inggris seperti Tom Clancy; dia memang hobi baca buku begituan. Dia malah terkekeh-kekeh menyetujui gurauanku.

Yeah, beginilah kalau jadi penggila buku. Aku harus rela menahan lapar hanya untuk membeli buku yang kuanggap sebagai investasi masa depan. Malah sekarang aku harus berpikir, bagaimana kalau pindah dari Solo? Soalnya aku tidak cuma mengoleksi buku-buku berat seperti itu. Komik-komik pun tak kalah banyaknya. Walaaaaaah.