IX

Aku sangat suka musim hujan. Meski halaman belakang rumah, mmm mungkin lebih cocok kalau kubilang halaman samping rumah,  akan tergenang air, namun aku sangat suka. Biasanya mama atau papa menggoreng singkong. Kukira saat itulah aku mulai menggemari singkong goreng. Kadang-kadang juga ubi rambat. Tapi tak ada yang lebih asyik daripada singkong goreng. Saat itu aku juga tidak terbiasa menikmatinya dengan lombok atau sambal colek, tidak seperti sekarang.

Halaman sebelah itu ditanami berbagai jenis pepohonan. Selain pohon bambu yang kuceritakan sempat terbakar itu, agak ke dalam lagi ada pohon belimbing. Pohon ini sebenarnya tidak terlalu rutin berbuah. Kalaupun berbuah, buahnya tidak begitu menarik bagiku. Ada juga pohon rambutan. Ini juga tidak terlalu rutin berbuah, meski tergolong favoritku.

Halaman tersebut juga tidak sepenuhnya diselimuti oleh rerumputan. Ada bagian-bagian yang botak juga.

Suatu ketika, musim hujan tiba lagi. Aku tidak ingat apakah peristiwa ini terjadi November-Desember atau masa-masa awal tahu. Kala itu, makhluk pemanggil hujan bernyanyi dengan riangnya di tengah guruh petir dan bunyi hujan yang deras. Aku tidak tahu ada berapa banyak. Tapi banyak sekali. Apalagi halaman kami itu memang tergolong luas dan cukup nyaman untuk dijadikan lapangan bermain bagi mereka.

Begitu berisiknya mereka, sampai papaku kesal. Ia pun keluar dan menghajar kodok-kodok tersebut. Kukira waktu itu ia tidak berhasil menghajar seluruhnya. Mungkin hanya kena beberapa ekor saja. Tapi tampaknya cukup berhasil mengurangi anggota paduan suara saat itu.

Hanya menghajar? Tidak. Papaku menggorengnya. Aku yang waktu itu tidak terlalu pilih-pilih makanan, tentu tidak menolak ditawari daging goreng tersebut. Saat itu aku memang tahu kalau itu adalah kodok goreng, almarhum anggota paduan suara kodok. Dan aku memang senang makan sesuatu yang digoreng, lebih daripada yang direbus, kala hujan turun. Maka aku tidak ambil pusing, kuambil saja gorengan papaku itu.

Kres. Rasa renyah gorengan itu terasa oleh bibir mungilku.

“Kayak rasa ayam goreng, ya?” ujarku gembira menikmati santapanku itu.

Aku tidak ingat berapa potong yang kumakan malam itu. Tapi itulah pertama kalinya aku menikmati kodok goreng. Sangat nikmat. Ini kenangan lain yang tidak mungkin hilang dari ingatanku selama aku dan keluargaku tinggal di rumah kami itu.