VIII

Aku sangat suka lingkungan rumah kami ini. Cuma tiga keluarga yang tinggal di sini. Kami rumah nomor satu di lingkungan kecil ini. Tidak hanya memberikan ketenangan yang kini masih kudambakan, tapi untuk keluarga yang hanya berjumlah empat orang pun, kami punya kamar yang sangat lebih daripada cukup.

Aku ingat, di depan, ada sekamar yang besar. Dulu kami sempat ramai-ramai tidur di sana, satu keluarga. Kamar depan ini — aku tidak ingat berapa lama kami ramai-ramai menempatinya — meninggalkan banyak kenangan buatku.

Di kamar tersebut, aku dan abangku menata diorama-dioramaan. Bangunannya tentu saja kami buat dari koleksi kotak rokok. Tapi tidak hanya itu. Ada sejumlah ornamen, yang kini sulit kuingat ragam dan bentuknya, yang dibuat abangku. Kalau kuingat, aku memang tidak banyak membantu. Karena arsiteknya langsung terjun ke lapangan tanpa memerintahku. Aku hanya melengkapi saja.

Di kamar itu juga aku pernah mengalami kejadian yang gaib. Begini ceritanya.

Aku dan abangku menempati tempat tidur ganda (bukan double springbed, kami tidak mampu membelinya), ranjang yang pertama dijumpai, dekat dengan pintu. Orang tuaku menempati tempat tidur yang di belakang tempat kami. (Sebenarnya, kamar itu bisa dibagi dua lagi, tapi tidak ada dinding apa pun yang membaginya. Jadi, bagiku yang waktu itu masih kecil, kamar itu sangat luas.)

Aku biasa tidur di sisi dalam. Sedang abangku di sisi luar. Suatu ketika, aku berbalik, membelakangi dinding. Seingatku juga, di atasku, ada jendela kayu yang bercelah, tapi tidak begitu dekat denganku. Jaraknya agak tinggi denganku yang berbaring. Nah, tatkala membelakangi dinding itulah aku merasa ada sesuatu yang mencolek punggungku. Aku kaget. Apa itu?

Seingatku, abangku sempat terbangun karena gerakanku. Aku berbisik, “Ada yang mencolekku dari belakang. Apa itu, Bang?” Dia hanya bergumam. Aku agak merinding karena tidak berani memikirkan apa yang mencolekku itu.

Tikuskah itu? Tidak mungkin, pikirku. Pertama, aku yakin kamar kami ini bersih sekali. Lagipula, tikus pasti sudah memorak-porandakan diorama kami. Selain itu, tepi tempat tidurku sama sekali tidak menyisakan celah apa pun. Kalaupun ada, hanya selembar kertas saja yang bisa melewatinya. Dan aku yakin, yang mencolekku bukan kertas. Itu persis seperti dicolek orang! Sedangkan abangku dalam posisi yang tidak memungkinkan melakukan itu. Demikian juga orang tuaku, tidak mungkin berbuat iseng menggoda anaknya.

Kukira, itulah salah satu misteri yang tidak pernah terpecahkan olehku. Tidak ada anggota keluarga kami yang mungkin akan mengingat peristiwa ini kalau kuceritakan lagi sekarang.