Ketika lelah, aku suka berdoa sambil rebahan. Aku sama sekali tidak merekomendasikan siapa pun untuk melakukan hal ini. Sebab akhirnya akan sama: kau akan tertidur tanpa sempat mengucapkan amin. Kalaupun kau mengucapkan amin, kau tidak akan sadar apa yang kauucapkan.

Bagiku, berdoa dalam keadaan sangat lelah adalah cobaan paling berat. Sering kali aku harus mengulangi perkataanku karena dalam percobaan yang pertama aku tidak ingat apa yang sudah kukatakan. Malahan dalam doaku, aku sering ngelantur, seperti sudah melompat ke dunia lain.

Kadang-kadang, aku seperti sedang berada dalam gedung yang tinggi. Saking tingginya, ketika aku melihat ke bawah, aku segera meluncur, terjatuh. Kala itu, kepalaku pun segera terjun dari posisi doaku dan tertahan karena tersadar: aku sedang berdoa! Kalau sudah begini, buru-buru kuperbaiki posisi doaku, lalu kembali mengulangi pokok doa yang terlintas dalam benakku.

Terkadang aku memilih untuk berdoa sambil berlutut di sisi tempat tidurku. Sesekali pula kuputuskan untuk berdoa sambil berbisik. Selain dapat lebih konsentrasi, kukira aku akan dapat mengusir rasa kantuk yang mulai menerpa.

Strategi ini berhasil! Tapi untuk beberapa saat. Aku bisa mengucapkan sejumlah pokok doa. Tapi sering kali aku mendapati diriku sudah tergeletak di atas tempat tidur, entah itu pada pagi harinya, entah itu pada dini hari ketika aku terbangun.

Aku tahu, semua ini sebenarnya tidak baik. Bukan saja akhirnya aku gagal untuk mensyukuri hari yang sudah kulalui. Aku malah akhirnya melupakan apa yang sudah terjadi dengan dalih terlalu lelah. Ah, Tuhan, ampuni aku.

Aku masih berjuang untuk menjaga kesadaran selama berdoa. Mungkin aku harus berdoa segera setelah pulang bekerja. Atau segera setelah mandi sepulang kerja. Karena biasanya saat-saat begitulah yang menjadi saat-saat paling positif untuk menaikkan doa.

Aku ingat ketika masih di Medan dan menginap di rumah Pakdeku. Ini sebenarnya lucu juga. Soalnya, rumahku dan rumah Pakdeku hanya berjarak sebuah ruas jalan yang tak terlalu luas, sebuah toko pakaian, sebuah toko roti, sebuah bank, sebuah toko kacamata, dan sebuah toko peralatan tulis. Kau dapat menempuhnya kurang dari semenit!

Pokoknya, ketika menginap di sana, beliau punya kebiasaan untuk berdoa dan membaca Alkitab sekitar pukul delapan malam. Kadang-kadang membaca satu pasal saja. Kadang-kadang setelah membaca satu pasal, Pakdeku yang juga seorang pendeta penjara–benar, beliau pendeta yang melayani di penjara-penjara–memberi sedikit penjelasan, lalu menutup dalam doa mini syafaat. Kusebut demikian karena cukup umum, meski mencakup berbagai aspek: keluarga, pengabaran Injil–benar, BUKAN pekabaran Injil, gereja, juga bangsa dan negara. Jadi, pemilihan jam itu sangat baik menurutku. Sebab jam-jam itu adalah jam-jam yang cenderung masih ideal bagi kebanyakan orang untuk fokus kepada sesuatu. Dan beliau selalu mengajak berdoa pada saat itu.

Nah, aku ingin melakukan hal yang serupa. Sayangnya, sampai hari ini, sering kali aku menunggu sampai hendak naik tempat tidur. Alhasil, aku jatuh lagi dalam buaian bantal yang sarungnya sudah cukup lama tidak kucuci itu. Ah, aku ini memang bengal sekali. Tuhan, ampunilah aku yang bengal ini.