VI

Aku iri melihat teman-teman–anak-anak tetangga–pada naik sepeda. Kami juga memiliki sepeda. Tapi aku tidak bisa menaikinya. Malah aku baru bisa naik sepeda ketika duduk di bangku SMP, kalau tidak salah ketika naik ke kelas dua. Aku tidak berani naik sepeda karena sepeda abangku rodanya dua. Biasanya untuk belajar naik sepeda kita akan naik yang beroda empat. Lalu dijadikan roda tiga, akhirnya roda dua.

Aku senang naik sepeda roda empat, itu lho, yang dua roda kecilnya ada di dekat roda belakang. Kami memang tidak punya sepeda seperti itu. Tapi tetangga kami yang tinggal di Jalan Darat itu punya. Jadi, setiap kali ke rumah mereka, aku akan dengan senang menaikinya di dalam rumah mereka. Tentu saja aku hanya meniru teman-temanku tuan rumah itu, kalau tidak mana aku berani.

Meski tidak bisa naik sepeda, aku suka membawa sepeda ke mana-mana. Aku akan menuntunnya ke rumah Ibu Ujung, begitu aku menyebutnya karena memang rumahnya terletak paling ujung dari ketiga rumah di kompleks kecil itu. Kadang-kadang kalau mamaku membantunya membuat kue, aku suka ikut ke sana sambil menuntun sepeda.

“Kok cuman dituntun? Dinaikin dong?” begitu goda mereka karena sering melihatku hanya menuntun sepeda abangku. Kalau sudah begitu aku jadi malu juga. Tapi namanya anak kecil, aku tidak ambil pusing.

Perkenalanku dengan sepeda motor dari dekat juga berlangsung di Kompleks Perumahan Ikes ini. (Kelihatannya Ikes itu singkatan dari Institusi Kesehatan–entahlah.) Tahun 1980-an, kendaraan roda dua itu tampaknya masih tergolong cukup mewah. Bukankah prosedurnya tidak semudah sekarang ini, yang konon tanpa uang muka pun katanya ada yang sudah bisa membawa pulang sepeda motor? Pokoknya, barang satu ini menjadi salah satu favoritku juga. Yang membawanya tentu saja salah seorang kakak mahasiswi yang ngekos di rumah kami itu. Sepeda motor ini diparkir di garasi.

Aku memang penasaran dengan sepeda motor ini. Maka suatu ketika, aku memberanikan diri untuk menaikinya. Cukup tinggi untuk anak kecil seusiaku, saat itu aku mungkin baru dua atau tiga tahun.

“Jangan dinaikin,” ujar mamaku yang kala itu sedang menjemur pakaian (atau mengangkat pakaian, ya?). Dasar nakal, aku tidak menggubris omongan mamaku. (Mamaku saat itu juga belum bisa mengendarai kendaraan beroda dua itu. Bertahun-tahun setelah itu ia baru berkesempatan belajar. Tapi sekarang mungkin ia sudah tidak berani naik lagi.)

Ketika berhasil menaikinya, aku sangat senang. Soalnya tanpa menjaga keseimbangan, aku tidak jatuh. Tentu saja demikian, soalnya ada cagaknya. Tapi karena tidak memakai cagak ganda, tentu saja posisinya agak miring ke samping.

Namun, nasib buruk menghampiriku. Karena aku lasak goyang ke sana ke mari, sepeda motor itu pun oleng. Bruk! Ia roboh ke samping. Aku tidak tertimpa memang. Malah seingatku aku tidak terluka barang sedikit pun. Tapi akibatnya, aku kelabakan setengah mati. Bagaimana mengembalikan kendaraan ini seperti semula? Bagaimana mendirikannya lagi?

Kendaraan itu memang tidak rusak. Mungkin agak lecet karena berciuman dengan lantai yang tidak mulus.

Karena takut, aku berusaha untuk mendirikannya. Tapi mana ada anak usia batita yang bisa mendirikan sepeda motor yang jatuh karena kenakalannya? Sampai berkeringat sekalipun aku tak kunjung bisa mengembalikannya ke posisi semula. Aku ingat mamaku berujar, “Tuh kan,” ketika melihat kejadian itu.

Aku tidak ingat bagaimana nasib sepeda motor itu. Kelihatannya ia kubiarkan tergeletak begitu saja. Dan mamaku tampaknya tidak bakalan membantuku mendirikan kembali sepeda motor itu. Soalnya dia itu tidak berani melakukan sesuatu pada apa yang tidak ia kuasai, lagi bukan miliknya, meskipun ia sebenarnya ingin. Atau memang ialah yang menolongku mendirikan kembali sepeda motor itu? Entahlah.