V

Aku tidak begitu ingat sampai kapan aku menggemari permainan menyusun bangunan dari kotak-kotak rokok itu. Tapi mungkin setahun dua tahun masih kugemari. Dan seiring bertambahnya waktu, bertambah banyak pula koleksi kotak rokokku. Tentu banyak pula yang dibuang papaku sehingga koleksiku tidak sebanyak kalau ia secara rutin menyumbangkan bahan baku bangunan. Aku ingat, kami sampai memiliki tiga kardus kotak rokok. Macam-macam. Aku ingat selain Djarum dan Gudang Garam, ada juga Panamas atau apalah itu, yang kotaknya didominasi warna kuning.

Di ruang makan, kami memiliki lemari dengan pintu geser. Pintu geser itulah yang kujadikan tempat menyimpan koleksi kotak rokok tersebut. Kalau sedang rajin, semua kotak rokok berada di dalam kotak kardus. Tapi lebih sering sebagian berada di luar. Tidak mengapa karena selain koleksi itu, seingatku memang tidak ada barang-barang lain kepunyaan papa atau mamaku yang disimpan di sana.

Meski rasanya cukup lama asyik dengan koleksi kotak rokok, kejayaan kotak rokok itu tidak berlangsung lebih lama daripada yang kuharapkan. Suatu kejadian yang sangat tidak diharapkan menyebabkan hancurnya kejayaan kotak-kotak rokok itu.

Ceritanya begini. Selain kami berempat dan mahasiswi-mahasiswi itu (hmm, aku tidak begitu ingat, apakah mereka sudah bersama kami pada era kejayaan kotak rokok), kami juga ditemani oleh dua atau tiga ekor kucing. Ada yang belang merah–aku tahu, warna ini tidak cocok untuk menyebutkan warnya sesungguhnya, tapi aku juga tidak tahu mau menyebut warna apa. Ada juga yang belang hitam, dia ini kesayangan abangku. Satu lagi belang apa, ya? Entahlah. Pokoknya ada lebih dari satu kucing.

Suatu ketika, yang betina mengandung anak kucing. Karena sudah saatnya, ia pun memilih tempat bersalin yang nyaman baginya untuk melahirkan anak-anak kucing yang lucu. Sial bagiku, ia melihat celah pada lemari geser yang memang sedikit terbuka itu. Baginya, tempat itu adalah tempat yang hangat dan nyaman untuknya dan anak-anaknya. Maka ia masuk ke sana tanpa kuketahui. Dan beranaklah ia di sana.

Ketika mengetahuinya, tentu saja semuanya telah terlambat. Alhasil, ada banyak kotak rokok yang harus dibuang karena sudah tidak layak pakai lagi.

Tampaknya aku masih berusaha mengembalikan kejayaan kotak rokok sebagai mainanku. Tapi aku tidak begitu ingat apakah semangatku masih cukup untuk mengumpulkannya lagi.