IV

Papaku seorang perokok. Rokoknya macam-macam. Pernah merokok Djarum. Aku masih sangat ingat desain bungkusnya, tidak jauh berbeda dengan yang sekarang. Rokok itu sudah didominasi warna merah dengan warna hitam yang menyelingi, plus simbolnya yang keemasan itu. Pernah pula ia merokok Gudang Garam. Entah kenapa rokok ini disebut GP. Orang akan bilang, “Bang, GP-nya sebungkus,” kalau mau beli Gudang Garam. Kotaknya juga tidak beda jauh dengan yang sekarang. Ada juga Surya 16 yang sebenarnya Gudang Garam juga. Aku sudah tahu itu karena ada gambar rumah-rumah dengan jalan di depannya, meski sampai sekarang aku tidak tahu apa artinya.

Saking sukanya merokok, mungkin dalam sepekan dua bungkus lebih habis dihisapnya. Sebenarnya, aku tidak tahu pasti berapa bungkus per minggu yang dihabiskannya, hanya kira-kira saja, soalnya itu sudah lama sekali. Waktu itu perekonomian masih sangat bagus. Gaji orang tuaku cukup besar pada masa itu. Jadi, tidak usah heran kalau papaku sering membeli rokok.

Meski tidak merasa nyaman dengan kepulan asapnya, toh aku tidak pernah keberatan berada di dekatnya. Mungkin karena aku merasa aman kalau berada di dekat laki-laki yang merokok. Tapi jangan ditanya kalau sekarang. Aku pernah diam-diaman dengan papaku hanya karena aku menyindir keras kebiasaan merokoknya yang kuanggap menjajah jatah udara segarku.

Saking banyaknya ia merokok, bungkus-bungkus rokok berupa kotak itu pun bertebaran di mana-mana. Tapi kotak-kotak rokok itu menjadi keuntungan buatku. Aku mengoleksi setiap kotak rokok yang ada. Sering kali ketika papaku pulang kerja, aku akan meminta kotak rokok, atau sekadar berpesan agar kotak rokoknya tidak dibuang.

Terang saja, dalam tempo tidak terlalu lama–mungkin sebulan–aku sudah memiliki setumpuk kotak rokok. Meski bisa dibilang berada di tataran ekonomi menengah, orang tuaku tidak cukup kaya untuk membelikan mainan buatku. Maka kotak-kotak rokok itulah yang kupakai sebagai mainanku. Melaluinya, aku membangun gedung-gedung, yang seiring bertambahnya koleksi kotak rokokku, semakin tinggi pula bangunan itu. Imajinasi kanak-kanakku saat itu memang sudah tereksplorasi. Tidak hanya bangunan yang tinggi, tapi juga bangunan yang luas, melebar. Aku juga membuat mobil-mobilan dari dua kotak rokok. Mau tahu caranya, buka saja tutup kotaknya, lalu masukkan kotak rokok yang lain. Sesuaikan panjangnya untuk menentukan mana bagian depan dan mana bagian belakang.

Meski demikian, aku harus mengakui kalau imajinasiku itu dipicu oleh abangku juga. Dia itu pintar dalam urusan kreativitas. Tulisan tangannya juga bagus. Kemampuan bangun-membangunnya juga bagus, lebih bagus daripada aku. Bolehlah dibilang kalau aku cuma meniru-nirunya saja.

Pokoknya, urusan bangun-membangun dengan kotak rokok menjadi kegemaran kami. Sering kali dengan mobil-mobilan beroda, kalau tidak salah yang kuperoleh sebagai hadiah Natal, aku merubuhkan bangunan yang kususun.

“Bruak!” teriakku dengan semangat.

Tapi kalau sedang iseng, aku juga akan mengganggu abangku yang tengah menyusun bangunan. Jadi, belum sempat bangunan itu berdiri gagah, sudah kutabrakkan mobil-mobilanku. Tentu saja aku dihajarnya karena berani menghancurkan bangunannya.

Aku ingat, ide bangunan itu memang berasal dari dia.