III

Sampai saat ini, aku masih bisa mengingat jeroan rumah tersebut. Ada banyak ruangan di rumah itu. Memang rumah yang sangat besar bila dihuni hanya oleh empat orang. Mungkin ini pula yang membuat mamaku dengan senang hati menerima kehadiran anak-anak kos. Mamaku memang orang yang senang bersosialisasi. Baginya, keramaian akan membuat suasana hangat.

Aku sudah lupa wajah masing-masing anak kos tersebut. Saat itu aku mungkin baru berumur dua atau tiga tahun. Mungkin sebelum tragedi berdarah menimpaku. Tapi aku senang dengan mereka. Setidaknya, dari merekalah pertama kali aku tahu bahwa penting untuk menyikat lidahmu, tidak hanya gigimu. Tentu saja aku sudah lupa alasannya, tapi itu penting. Aku suka sekali melihat buku-buku mereka, kalau tidak salah banyak yang foto kopian. Ada gambar gigi-gigi, mulut-mulut, dan lidah-lidah. Entah apa yang membuatku senang melihatnya, aku juga tidak ingat lagi.

Kalau lagi kosong, aku suka meminta mereka membacakan majalah Bobo padaku. Pernah saking tidak sabarnya, aku menyeruak masuk kamar mereka. Padahal mereka hendak berganti baju. Karena aku takut mereka akan mengingkari, aku berkeras menanti mereka berganti baju di dalam kamar mereka. Tentu saja aku tidak melihat. Dan hasilnya, aku bisa menikmati cerita-cerita yang menarik.

Karena mereka belajar pada Sekolah Perawat Gigi, aku tidak pernah pusing kalau gigiku bermasalah. Pernah mereka sampai membawa perangkat dari kampus yang tidak jauh dari rumah kami untuk mencabut gigiku. Memang kala itu aku jadi bahan praktik. Tapi setidaknya gratis.

Saat itu, aku sangat suka makan jeli. Merk yang terkenal saat itu, kalau tidak salah namanya Morello. Kardusnya berbentuk mobil-mobilan dari karton dan figurnya seekor kucing. Makanya aku suka sekali dengan jeli itu karena akan menambah koleksi mainanku. Maka setiap kali mau cabut gigi–entah kenapa dulu itu aku cukup sering bermasalah dengan gigiku–aku selalu minta sekotak jeli Morello. “Iya, nanti kalau sudah dicabut giginya, Mama beliin satu,” demikian mamaku berjanji. Tentu saja tidak selalu dibelikan karena jajanan itu tampaknya cukup mahal. Mungkin setara dengan kalau Taro bungkus 60 gram itu.