II

Kami pindah. Mungkin pada pertengahan 1980-an. Kami mengontrak sebuah rumah di lingkungan yang lebih kecil daripada lingkungan tadi. Masih pada sebuah jalan yang buntu. Tapi kali ini kami tidak menjadi yang paling ujung.

Rumah kami adalah yang pertama ditemui. Letaknya tidak jauh dari Sekolah Perawat Gigi. Kemudiannya, seingatku ada tiga mahasiswi perawat gigi yang kos di rumah kami itu.

Kompleks Perumahan Ikes. Itulah nama kompleks perumahan kami. Jangan bayangkan kalau ada banyak rumah di kompleks tersebut. Hanya ada tiga. Rumah kontrakan kami itu bernomor satu.

Rumah itu kami kontrak, kalau tidak salah dari seseorang bernama Pak Kardono. Dia itu tampaknya pernah mengenyam pendidikan militer. Aku tidak tahu bagaimana keluarga kami bisa mengenal dia. Tapi dari foto-foto zaman dulu itu, bisa kulihat kalau keluarga kami cukup dekat mengenalnya.

Rumah yang kedua ini sangat luas. Halaman depannya ada. Halaman belakangnya ada. Pepohonan buah juga ada. Ada mangga. Ada jambu: jambu mente, jambu bol, jambu air. Ada sirsak. Ada rambutan. Ada kelapa. Malah pohon pepaya juga pernah meramaikan suasana. Demikian juga dengan belimbing dan alpokat.

Kalau lagi musim buah-buahan, kami sangat senang menikmati semuanya. Memang tidak sepanjang tahun. Sebab kami tidak pernah memupukinya. Mereka tumbuh begitu saja.

Ada banyak kenangan di rumah ini. Sampai aku sangat mencintai masa-masa itu. Waktu musim jambu air, aku dan abangku bersama anak-anak tetangga–tetangga kami itu seingatku punya tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan–akan bermain perang-perangan dengan jambu air yang sudah jatuh ke tanah. Aku ingat, mukaku pernah terkena lemparan peluru jambu itu sampai aku menangis. Dan peperangan pun terhenti sejenak karena salah satu prajuritnya terkena peluru.