I

Rumah kami ada di ujung jalan buntu itu. Paling ujung, sebelah kanan. Rumahnya kecil dengan lingkungan yang menyenangkan. Ada etnis Cina. Ada etnis Jawa. Ada etnis India. Semua jadi satu.

Aku tidak punya kenangan lebih jauh tentang rumah itu. Aku tidak begitu tahu seperti apa kamar-kamar yang ada di sana. Aku tidak begitu tahu seperti apa pula halaman belakang rumah itu. Aku hanya mengetahuinya dari beberapa lembar foto zaman dulu–sudah berwarna, tentu saja–bagaimana ruang tamunya. Mamaku menggendongku yang masih bayi. Sepertinya waktu itu aku belum terlalu lama hadir di dunia ini, belum satu tahun.

Namun, kala kupejamkan mataku, aku serasa kembali ke ruangan itu, ruangan yang tidak begitu besar. Sepertinya, nuansa coklat muda–kata orang sepia–menyeruak dalam benakku, mewarnai kehadiran imaji-imaji masa itu. Muncul keinginan, seandainya kudapat kembali kepada masa tersebut, menghentikan waktu agar bisa kunikmati tenangnya hari-hari itu, tentu amat menyenangkan.

Aku dibesarkan dalam lingkungan yang multietnis. Aku digendong oleh orang Cina. Aku diberi makan oleh orang India. Aku senang dengan wewangian orang Cina. Aku senang dengan wewangian orang India. Yang dipadu dengan perpaduan Sunda dan Jawa. Aku orang Indonesia.

Saat ini mereka masih tinggal di sana. Aku ingat, setelah rumah kami di sudut sana, masih ada dua rumah lagi sebelum rumah orang India yang setiap tahun selalu kami kunjungi, minimal pada saat Depavali. Di depannya, rumah orang Cina yang beberapa kali kami jaga tatkala mereka sekeluarga berkunjung ke Lhokseumawe–om itu bekerja di Mobil Oil.

Sebenarnya, etnis Cina dan India di lingkungan itu tidak hanya mereka. Ada banyak. Tapi cuma mereka saja yang paling kuingat. Dan sampai saat ini mereka masih menetap di lingkungan yang sudah berubah itu.