You are currently browsing the monthly archive for October 2007.

Ketika lelah, aku suka berdoa sambil rebahan. Aku sama sekali tidak merekomendasikan siapa pun untuk melakukan hal ini. Sebab akhirnya akan sama: kau akan tertidur tanpa sempat mengucapkan amin. Kalaupun kau mengucapkan amin, kau tidak akan sadar apa yang kauucapkan.

Bagiku, berdoa dalam keadaan sangat lelah adalah cobaan paling berat. Sering kali aku harus mengulangi perkataanku karena dalam percobaan yang pertama aku tidak ingat apa yang sudah kukatakan. Malahan dalam doaku, aku sering ngelantur, seperti sudah melompat ke dunia lain.

Read the rest of this entry »

VII

Suatu ketika, terjadi kebakaran di kompleks kami itu. Kejadiannya di halaman rumah kami. Di halaman depan rumah, di salah satu pojok, ada pepohonan bambu. Aku tidak begitu ingat bagaimana dan dari mana datangnya api itu. Tapi yang jelas, api semakin membumbung tinggi. Hampir mencapai tinggi pucuk bambu itu sendiri, kalau tidak salah.

Read the rest of this entry »

VI

Aku iri melihat teman-teman–anak-anak tetangga–pada naik sepeda. Kami juga memiliki sepeda. Tapi aku tidak bisa menaikinya. Malah aku baru bisa naik sepeda ketika duduk di bangku SMP, kalau tidak salah ketika naik ke kelas dua. Aku tidak berani naik sepeda karena sepeda abangku rodanya dua. Biasanya untuk belajar naik sepeda kita akan naik yang beroda empat. Lalu dijadikan roda tiga, akhirnya roda dua.

Aku senang naik sepeda roda empat, itu lho, yang dua roda kecilnya ada di dekat roda belakang. Kami memang tidak punya sepeda seperti itu. Tapi tetangga kami yang tinggal di Jalan Darat itu punya. Jadi, setiap kali ke rumah mereka, aku akan dengan senang menaikinya di dalam rumah mereka. Tentu saja aku hanya meniru teman-temanku tuan rumah itu, kalau tidak mana aku berani.

Read the rest of this entry »

V

Aku tidak begitu ingat sampai kapan aku menggemari permainan menyusun bangunan dari kotak-kotak rokok itu. Tapi mungkin setahun dua tahun masih kugemari. Dan seiring bertambahnya waktu, bertambah banyak pula koleksi kotak rokokku. Tentu banyak pula yang dibuang papaku sehingga koleksiku tidak sebanyak kalau ia secara rutin menyumbangkan bahan baku bangunan. Aku ingat, kami sampai memiliki tiga kardus kotak rokok. Macam-macam. Aku ingat selain Djarum dan Gudang Garam, ada juga Panamas atau apalah itu, yang kotaknya didominasi warna kuning.

Read the rest of this entry »

IV

Papaku seorang perokok. Rokoknya macam-macam. Pernah merokok Djarum. Aku masih sangat ingat desain bungkusnya, tidak jauh berbeda dengan yang sekarang. Rokok itu sudah didominasi warna merah dengan warna hitam yang menyelingi, plus simbolnya yang keemasan itu. Pernah pula ia merokok Gudang Garam. Entah kenapa rokok ini disebut GP. Orang akan bilang, “Bang, GP-nya sebungkus,” kalau mau beli Gudang Garam. Kotaknya juga tidak beda jauh dengan yang sekarang. Ada juga Surya 16 yang sebenarnya Gudang Garam juga. Aku sudah tahu itu karena ada gambar rumah-rumah dengan jalan di depannya, meski sampai sekarang aku tidak tahu apa artinya.

Read the rest of this entry »

III

Sampai saat ini, aku masih bisa mengingat jeroan rumah tersebut. Ada banyak ruangan di rumah itu. Memang rumah yang sangat besar bila dihuni hanya oleh empat orang. Mungkin ini pula yang membuat mamaku dengan senang hati menerima kehadiran anak-anak kos. Mamaku memang orang yang senang bersosialisasi. Baginya, keramaian akan membuat suasana hangat.

Aku sudah lupa wajah masing-masing anak kos tersebut. Saat itu aku mungkin baru berumur dua atau tiga tahun. Mungkin sebelum tragedi berdarah menimpaku. Tapi aku senang dengan mereka. Setidaknya, dari merekalah pertama kali aku tahu bahwa penting untuk menyikat lidahmu, tidak hanya gigimu. Tentu saja aku sudah lupa alasannya, tapi itu penting. Aku suka sekali melihat buku-buku mereka, kalau tidak salah banyak yang foto kopian. Ada gambar gigi-gigi, mulut-mulut, dan lidah-lidah. Entah apa yang membuatku senang melihatnya, aku juga tidak ingat lagi.

Read the rest of this entry »

II

Kami pindah. Mungkin pada pertengahan 1980-an. Kami mengontrak sebuah rumah di lingkungan yang lebih kecil daripada lingkungan tadi. Masih pada sebuah jalan yang buntu. Tapi kali ini kami tidak menjadi yang paling ujung.

Rumah kami adalah yang pertama ditemui. Letaknya tidak jauh dari Sekolah Perawat Gigi. Kemudiannya, seingatku ada tiga mahasiswi perawat gigi yang kos di rumah kami itu.

Read the rest of this entry »

I

Rumah kami ada di ujung jalan buntu itu. Paling ujung, sebelah kanan. Rumahnya kecil dengan lingkungan yang menyenangkan. Ada etnis Cina. Ada etnis Jawa. Ada etnis India. Semua jadi satu.

Aku tidak punya kenangan lebih jauh tentang rumah itu. Aku tidak begitu tahu seperti apa kamar-kamar yang ada di sana. Aku tidak begitu tahu seperti apa pula halaman belakang rumah itu. Aku hanya mengetahuinya dari beberapa lembar foto zaman dulu–sudah berwarna, tentu saja–bagaimana ruang tamunya. Mamaku menggendongku yang masih bayi. Sepertinya waktu itu aku belum terlalu lama hadir di dunia ini, belum satu tahun.

Read the rest of this entry »

Goodreads

Blog Stats

  • 4,218 hits
October 2007
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Flickr Photos

Faith Writers

Visit us!

The%20NumbersQuantcast