Solitaire itu permainan kartu. Kita hanya perlu menyusunnya silih berganti: hitam-merah-hitam-merah. Susun semua dari yang paling besar sampai yang terkecil. Lalu masukkan ke tempat yang sudah disediakan. Susun secepat-cepatnya sebab semakin cepat tersusun, semakin besar pula nilai yang diperoleh; tergantung juga, mau diset supaya mendapatkan nilai atau tidak.

Masing-masing komputer tentu punya permainan ini. Bukankah ini permaina standar? Kecuali ia sudah dibuang oleh yang empunya komputer?

Tidak semenarik permainan dari GameHouse itu memang. Tidak ada pergantian tingkatan kesulitan. Tapi lumayan sebagai pembunuh waktu.

Aku selalu mencari permainan ini kalau sedang di warnet A. Kalau sudah menyelesaikan dalam sekitar dua menit, puas rasanya. Kalau bisa sampai kurang dari dua menit, lebih asyik lagi.

Hanya itukah tantangan yang ada? Tidak juga. Cobalah menyelesaikan permainan itu dalam tiga putaran berturut-turut. Kalau sanggup, coba lipat gandakan lagi.

Tapi rasanya tiap komputer punya Solitaire yang berbeda-beda kesulitannya. Entah ini perasaanku saja, atau memang memang demikian.

***

Solitaire itu nama salah satu judul lagu. Lagu lama. Yang menyanyikannya seorang wanita. Namanya Shirley Bassey. Tapi ada juga oleh the Carpenters. Atau oleh nama baru seperti Clay Aiken.

Itu lagu sudah ada sebelum diriku terlahir. Tapi herannya bisa saja aku menikmatinya.

Ah, seperti tidak mengenalku saja. Aku selalu bisa menikmati apa pun yang berasal dari masa jauh sebelum aku terlahir. Aku menikmati the Beatles. Aku menikmati Elvis Presley. Aku menikmati Buddy Holly. Aku menikmati Bee Gees. Aku menikmati Herman’s Hermitts. Aku menikmati ….

***

Solitaire itu teman yang menyenangkan. Setiap kali koneksi merambat, aku merasa terhibur oleh keberadannya.