Aku sungguh tiada habis pikir. Ada apa? Apa yang terjadi? Sepulangku dari petualangan jauh, segala sesuatunya berubah. Aku dibiarkan dalam tembok rapat. Terkurung oleh sepi. Mau maju terbentur, mau mundur terbentur, mau lompat tidak sampai, mau ke mana tidak tahu.

Sepulangku dari bertualang sejenak, ia sudah berubah jauh. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Berbeda dengan masa-masa kala kami masih bercanda. Berbeda kala kami masih bertegur sapa. Dengan mesra.

Namun kini, boro-boro. Ia melintas, kumelintas, aura aneh berbaur di udara. Seakan menguap ditelan mentari pagi yang menaungi kami.

Keramaian di gereja menenggelamkan masing-masing. Ia sibuk menata segala sesuatunya. Aku sibuk mempersiapkan diri bersama para tua-tua, ibu-bapak.

Mau melangkah sebenarnya berat. Tidak nyaman menatapnya. Tidak lepas untuk menyapanya. Tidak nikmat rasa yang menggantung. Padahal aku sudah rindu mendengarnya. Aku sudah rindu menyapanya. Sudah rindu menggapainya. Meski tiada segerai lampau.

Apakah untuk mengenal pun kini sudah tiada memungkinkan? Inikah caranya menghukumku setelah menimbulkan keributan cukup besar beberapa masa silam? Walau itu sekadar menyuarakan kecurigaanku pada udara tak sedap yang membayang di mana-mana?

Selama sekian lama sempat kubertanya, salahkah orang Medan bila berteriak di bumi Kalimantan? Bila berteriak di bumi kaum Dayak tatkala asap kebakaran hutan menggantung dan membuatnya sesak napas? Seperti itulah rasaku kala sesak napasku menghadapi nuansa yang semrawutan itu.

Kurenungkan semuanya. Kala kuhendak melangkah, namun selalu terbentuk depan-belakang, kanan-kiri, atas-bawah, mengapakah tiada kuhantamkan diriku pada tembok yang membentang? Mengapakah tiada kucabik-cabik saja bata yang menghalangiku? Bukankah lebih baik mati dalam usaha, daripada diam menunggu ajal menghampiri? Mengapa tiada menantangnya saja? Dalam usaha dan daya? Itu berharga! Sangat berharga!

Ini memang sedikit beda dengan apa yang hendak kututurkan. Tapi karena sudah kusinggung tentang menantang ajal, tiada maksudku hendak melegalkan fatalisme. Tiada maksudku mengamini bunuh diri daripada menanti ajal. Menantang maut bukan berarti membunuh diri. Tapi melawan diri!

Ya, aku harus melawan diri dari keadaan yang mengungkung. Kuharus benturkan tubuhku yang kuyu ini ke bata di hadapanku.

***

Malam ini, kucoba menyapanya. Telepon selularku sudah mulai kehabisan pulsa. Setelah berindu-sapa dengan papa dan mamaku. Sebab sudah hampir dua tahun aku minggat dari hadirat mereka.

Enam kali kucoba, tiada tersampaikan pula. Aku mulai merasa sakit di sekujur tubuhku. Pikiran jahat merasuk. Berkata, “Engkau tiada diterimanya! Lupakan saja dia, takkan kembali kepadamu!”

Kalau aku berbuat dosa pada Tuhanku, ia masih mengampuniku. Masih memberiku kesempatan menghirup udara pagi, kadang udara kotor kalau di luaran. Mengapakah harus berpatokan pada tiga kesempatan? Pada tiga kesempatan kali dua? Cobalah yang ketujuh.

Kutekan tombol ajaib pada kotak padat berlayar itu. Nada sambung menyapa. Dan … DIA MENYAHUT DI UJUNG SANA!

***

Malam ini aku menaklukkan tembokku. Malam ini aku menang dari stigma yang kuciptakan. Malam ini aku menang dari suara-suara sesat itu. Kemenangan yang kecil memang karena aku masih harus menghadapi pertempuran lainnya. Tapi kemenangan itu seakan kemenangan dari sebuah perang besar. Ah, ini pun perang besar pula. Sudah berapa lama kuterpengaruh dan menurunkan selera selama ini? Ini kemenangan besar.

Malam itu, meski baru sebatas suara, aku dapat melepas rindu. Ya, aku merindukannya. Sempat memimpikannya pula.

***

Ada banyak hal yang bisa dibenarkan kalau memang kita berniat membuka komunikasi. Ada banyak hal. Tapi itu kalau kita mau menabrak tembok penilaian kita pada orang lain. Selama kita masih memegang teguh penilaian yang belum tentu selaras dengan fakta yang sefakta-faktanya, jangan harap bisa melihat kebenaran.

Ada banyak hal salah yang sudah berpekan-pekan berkutat di kepalaku. Tapi malam ini semuanya seakan tersapu oleh badai yang nyaman. Suaranya yang khas, yang begitu kurindukan menyapa ramah. Meski kuakui sempat tebersit bahwa itu sekadar basa-basi, kumendapati itu pun tiada benar. Ia jujur seadanya. Dan cintaku padanya pun bertumbuh kembali.

Akankah pertemuan kembali esok hari akan membawa nuansa yang benar-benar berbeda? Aroma yang harum, akankah berhembus kembali?

Ah, bicara masalah aroma, baru kusadari, aku belum mandi sampai pukul 11 malam ini. Masih mengenakan kemeja dan celana yang kupakai di kantor tadi. Ah, peduli amat.