Kemeriahan telah usai dari sebuah keramaian. Perlahan-lahan mereka kembali ke peraduan. Entah jugalah, mungkin masih ada yang berniat raun-raun, menikmati malam dengan anginnya yang semakin menusuk tulang. Aku jadi salah seorang dari mereka. Maka ketika usai kemeriahan tersebut, kuputuskan untuk kembali pula. Sebab siapakah ada bersamaku selain ketiadaan?

Gemerlap malam memang luar biasa. Aroma dari ranah Eropa berbaur dengan nuansa lokal. Perbauran yang kemudian menjadi nyata pada puncaknya. Mendengungkan beraneka nuansa ke udara malam. Aura kehangatan yang menggeliat. Ingin juga rasaku turut berkerumun di sana. Tapi tentu tiada kulakukan.

Seusai semua itu, kuberjalan dengan sejuta rasa. Sebab pengalaman yang tiada biasa. Pengalaman yang tiada mungkin kurasakan lagi dalam kurun ke depan.

Sembari menyusuri jalanan sepi yang sesekali dilalui kendaraan bermotor, kuhapusi pesan-pesan yang masuk ke ponselku. Kubersihkan pula pesan-pesan yang terkirim selama ini dari Sent box. Soalnya sudah mencapai batas. Kalau tidak dihapus, bisa-bisa tidak bisa menerima pesan lagi.

Baru saja kuhendak menghapus salah satu pesan, kuperhatikan pergerakan yang begitu lambat. Dan tiba-tiba sebuah pesan baru menyeruak.

Aku tersenyum simpul.

Saat hendak membalas dengan pesan singkat pula, tebersit di benakku, “Kenapa tidak langsung ditelepon saja?” Ya, tidak ada salahnya. Bukankah lebih menyenangkan?

Ya! Masih bisa. Nada sambung terdengar: tuuuuut …, tuuuut ….. Dan diangkat olehnya. Suara yang merdu menyahut di seberang sana, menembus ruang. Membuat hatiku gembira.

Tiada kusangka ia akan merespons panggilanku. Memang kami sudah beberapa kali saling balas pesan singkat. Masih ketika aku ada dalam kerumunan yang meriah itu. Masih ketika aku di Eropa. Masih ketika aku di Nusantara. Sudah pasti pertemuan ini menjadi sangat menyenangkan. Terlebih di tengah kesunyian yang mengiringi langkahku.

Kala itu malam memang telah semakin larut. Bulan yang terbelah di atas dan angin yang berhembus turut menemani perjalananku. Tapi perbincangan kami di sepanjang jalan lebih membuatku tiada rasa sepi.

Tidak ada yang istimewa dalam perbincangan kami. Tapi inilah perbincangan panjang kami yang pertama. Sebelumnya, dalam perjumpaan pertama, tiada selama malam itu perbincangan kami.

Aku bercerita tentang keramaian Eropa yang kusaksikan tadi. Aku bercerita tentang statusku di kota kecil ini. Aku bercerita tentang kecintaanku akan kota kecil ini. Aku pun bercerita tentang rencanaku ke depan.

Ruas demi ruas jalan kutelusuri. Belok kiri, belok kanan, belok kiri, belok kanan, belok kiri, belok kanan, belok kiri, belok kiri, belok kanan, belok kiri, dan belok kanan. Namun perbincangan kami tiada hingga setibaku. Pulsaku tak cukup. Jelang bagian akhir perjalananku, kami mengakhiri perbincangan malam itu.

Kapan kita bisa ketemu? Ah, andaikan engkau adalah malaikatku yang keempat. Bisikku dalam hati, sembari melanjutkan perjalanan.