Tiga malaikatku adalah gadis-gadis manis nan rupawan. Dua berambut panjang, sedangkan satu berambut sebahu. Aku sangat bahagia mereka di sekitarku. Meski sempat membuatku menderita hingga kini. Tapi aku sangat mencintai ketiganya. Kok bisa, ya?

Kutarik lengannya, menyepi sejenak, jauh dari kerumunan orang-orang. Ini orang kelewatan banget, main tarik aja. Kalau orang biasa mungkin akan berpikir begitu. Tapi meski kugamit, ia mengikutiku jua.

“Mereka itu lucu,” kataku. “Doanya kok lebih banyak ke kita daripada yang lain, ya?” sambungku lagi. “Padahal katanya itu syafaat?”

Ia melirik padaku, tersenyum simpul. Apa gerangan di benaknya? Apakah ia menganggapku terlalu menghakimi?

“Iya, ya?” akhirnya ia berujar dengan suaranya yang merdu. Aku sungguh suka mendengarnya berujar demikian.

“Ah, ikat rambutmu mau jatuh, tuh,” ujarnya memperingatkanku.

“Oh, benar juga, terima kasih.”

Ikat rambut itu sendiri sebenarnya merupakan miliknya. Semula dipakai sebagai gelang oleh malaikatku yang lain yang berambut sebahu itu. Kupinjam untuk mengikat rambutku yang mulai panjang, meski tiada menandingi rambutnya, dari panjangnya, maupun dari lembutnya. Paling cuma sama-sama lurus.

Kami masih menghabiskan waktu beberapa lama di sore jelang malam kala itu. Sampai keramaian kembali menyapa dan aku terlibat di dalamnya jua.

Pada kesempatan lain, kudekati ia kala makan siang. Kunikmati caranya mengangkat sendok, memasukkan makanan ke mulutnya, lalu mengunyahnya. Begitu anggun. Meski kacamatanya agak bergeser. Setidaknya, tak separah kacamataku yang remuk dihajar gadis Kempo PON.

Aku mengerti sekarang, mengapa banyak yang suka kepadanya. Aku pun menyukainya. Ia tidak seelok artis Korea favoritku, tapi bagiku ia jauh lebih anggun daripada Anggun C. Sasmi, atau anggun-anggun lainnya.

Malaikatku yang kedua, rambutnya juga panjang. Lebih panjang dari malaikatku yang pertama. Yang ini sampai ke bahu, meski tiada sampai pinggang.

Yang ini lebih eksplosif. Kadang-kadang saking percaya dirinya, ia jadi ceroboh. Lucu juga, ya? Ada saja malaikat yang ceroboh? Tapi itu membuktikan bahwa malaikat memang bukan makhluk yang sempurna. Tapi aku menyukai sifatnya yang eksplosif. Benar-benar menjadi pasangan yang sangat unik dengan malaikat pertamaku yang lebih tenang. Bagiku, ia menghadirkan nuansa yang ceria. Di mana pun ia berada, keberisikannya, meski sesekali membuatku kesal, turut memeriahkan suasana hatiku yang sering murung. Kalau bersama malaikat yang pertama, aku akan terbawa dalam nuansa yang sendu, bila bersama malaikat kedua ini, aku akan lebih ceria, lebih bahagia.

Sementara malaikatku yang ketiga, yang berambut sebahu itu, jauh berbeda dari dua yang lainnya. Ia seakan menjadi perpaduan dari kedua malaikat sebelumnya. Meski tidak tergambar dari keanggunan dan sikap yang eksplosif, pembawaannya yang begitu gaul membuat siapa saja merasa asyik bersamanya. Itu pula yang kurasakan ketika dulu bersamanya. Berkeliling melewati awan-awam hitam dan putih.

Meski demikian, aku sama sekali tidak tahu hendak bersikap bagaimana dengannya. Aku tiada dapat berkata lebih jujur dari bahasa tubuhku yang terus kutunjukkan sejak kehadiranku kembali ke hadapan mereka bertiga. Aku ingin ia mengitariku. Aku pun ingin memeluknya jua. Namun, tiada dapat kulakukan. Dosa sudah menjauhkan kami.

Meski demikian, masih ada dua lainya yang masih mau menemaniku. Dan di masa-masa terakhir, aku sangat sedih. Sebab tiada dapat kulihat mereka secara kasat mata lagi. Tiada dapat kugapai mereka dengan tangan jasmaniku lagi. Tiada dapat kucanda-tawa bersama mereka secara bertatap muka lagi. Tiada dapat kubercerita dengan menikmati keelokan mereka lagi.

Hatiku hancur, malaikatku hilang. Bagai ditelan bumi, aku hendak membunuh diriku.

“Kembalilah!” teriakku dari dasar bumi yang panas.

Namun, kulihat di ujung sana, sosok yang masih menanti. Kulihat di sana, kedua malaikatku yang masih menaruh harapan. Ada cahaya surgawi yang bersinar di ujung sana. Dan memaksaku untuk mendaki dari dasar bumi yang gelap dan panas itu. Meski masih belum dapat kutemui sosok yang ketiga.

“Biarlah,” ujarku dalam hati. “Sekarang ini, aku tiada dapat mengalihkan pandangku dari dua yang di hadapanku.”

Kugapai tebing-tebing terjal. Kubangunkan segenap sisa dayaku. Berupaya menjangkau mereka yang tiada lagi di sampingku. Meski tiada kutahu, sampai kapan asa ini kan berada. Sampai kapan napas ini kan menderu. Sampai kapan, sampai kapan, sampai kapan.