Belakangan ini aku memang sangat sulit untuk bangun pagi. Pekerjaan di kantor membuatku ingin segera lenyap dari muka bumi ini. Sungguh menyiksa. Sebanyak 45 jam dan 45 menit sudah hilang tiada tahu kan ke mana. Itu sudah cukup membuatku tersiksa setengah mati. Lalu akhirnya, aku pun dicopot dari posisi “pengurus”. Lalu kemudian, aku pun dilengserkan dari posisi koordinator. Lalu terakhir, aku dipusingkan oleh permainan yang tiada kunjung menyiksaku. Adu domba sana-sini, lempar batu sana-sini, sampai harus mempertanggungjawabkan sesuatu yang tiada seharusnya kami tanggung. Seolah-olah kalau dirasa “sesuatu tidak beres” sedang berlangsung, haruslah benar-benar tiada beres diperlangsungkan sehingga meneguhkan perasaan “sesuatu tidak beres” tersebut.

***

Sudah lama juga setelah terakhir aku mengandaikan kematianku di negeri orang ini. Aku sungguh ingin mati dengan cara yang mengerikan. Di kamarku yang cukup kecil itu, darahku muncrat hingga memenuhi langit-langit kamar. Mataku terbelalak dan tentunya tersirami darah. Lalu orang-orang akan gempar, termasuk kantorku. Lalu polisi pun meminta mereka memberi keterangan perihal apa yang terjadi padaku, yang tentu saja tiada mendapatkan hasil apa-apa sehingga kudikira membunuh diri dengan cara yang sangat tiada wajar.

Tapi tentu saja hal tersebut tiada terwujud. Semakin keras keinginanku meninggalkan dunia ini, semakin kuat pula kehidupan itu diberikan Sang Pencipta. Semakin aku ingin melarikan diri, semakin aku berada dalam situasi yang tiada berbeda. Semakin aku berlari, semakin aku ditangkap.

Aku ingat dengan sejumlah mimpi yang terus berulang dalam kehidupanku di masa lampau. Berkali-kali aku bermimpi, aku terlambat ke sekolah. Dalam kondisi yang sudah serba terdesak, buru-burulah kumandi dan berkemas, lalu berlari menuju sekolah. Namun, aku tiada pernah tiba karena ternyata lariku sangat payah. Sebegitu inginnya kuputar kakiku untuk berlari, semakin lambatlah gerakanku.

Tiada pernah kupahami artinya. Itu mimpi telah berkali-kali hadir menyapa. Meski kini tiada pernah kurasa lagi. Namun, aku merasa seperti itu pulalah kondisi yang kualami kala ini.

Sesungguhnyalah aku telah menghabiskan jatah cutiku. Seminggu kerja, lima hari, 45 jam, telah habis. Namun, aku tiada ingin kembali ke kantor itu. Betapa kuat keinginanku kembali ke kampung halamanku. Seperti kulakukan dua tahun lampau. Sungguh aku ingin berlari dari semua itu. Apalagi aku kembali dihantam oleh badai kehilangan yang berikut.

Aku membenci diriku sendiri dalam hal ini. Ketika mereka berada di sampingku, aku tiada dapat melakukan apa-apa. Tiada dapat pula aku berkata apa-apa. Sampai hari ini, aku masih sakit. Jiwa dan hatiku sungguh sakit melihat semua ini. Dan aku tiada tahu hendak berbuat apa.

***

Andai kudapat berlari ke mana pun juga.
Andai kudapat menghilang barang sewaktu  pun juga.
Andai kudapat menghentikan waktu barang sekejap pun juga.
Maka aku ingin mematikan waktu kala itu juga.