Sudah lama buku catatan harianku kutinggalkan. Benar-benar menjadi onggokan saja di salah satu sisi tempat tidurku. Sesekali ia berada di atas tumpukan yang lain. Tapi keseringan ia berada di bawah buku-buku yang lain. Dan aku pun telah lupa tanggal terakhir aku menorehkan pensilku di atasnya.Ya, aku lebih suka pakai pensil. Kalau salah tinggal disetip saja.

***

Siang hari, aku sering melayang. Meninggalkan ragaku untuk menggapai angan. Sungguh-sungguh aku berdosa. Karena pekerjaanku tiada pernah maksimal kukerjakan.

Lalu, sudah lama pula sosoknya pergi dariku. Sejak terakhir kali, aku tiada pernah mengharapkan salam itu. Sungguh tiada nyaman kurasa. Meski saat itu aku seolah terhipnotis olehnya, uluran tangannya kusambut seketika pula.

Beberapa kali kami masih bertemu. Namun, sudah tiada seperti dulu. Makin lama makin melebar. Jaraknya sudah terbentang.

Bagiku itu fakta yang sesungguhnyalah telah kulihat jauh sebelumnya. Entah kenapa aku merasa menyesal memiliki pemikiran yang seperti ini. Aku sering kali bisa melihat bayangan masa depan. Pikiranku selalu membawaku melintasi ruang dan waktu dalam nuansa yang berlainan. Namun, ketika ia muncul sebagai kenyataan, kusadari bahwa ini sungguh telah kulihat sebelumnya.

Lalu, sungguh kumengharapkan perbincangan terjadi lagi. Seperti aku telah merasakan sebelumnya. Berjalan lancar, tanpa halangan. Bagai air sungai yang mengalir, bagai air hujan yang tercurah, bagai keran air yang melimpah. Tiada halangan.

Namun, meski aku memanggil, hanya lantunan sendu saja yang menyapa. Lantunan sendu yang sungguh menyayat hati.

***

Aku selalu memutuskan untuk menempuh arus yang kelam itu. Menembus angin malam. Meski dengan kemungkinan masuk angin. Tapi aku tiada hendak merisaukan hal itu pula. Yang penting, aku bisa tiba di perhentianku, tempatku meletakkan kepala, meringkuk dalam selimut yang membungkus.

Memang, sudah lama kubuang rasa-risi itu. Meski demikian, sungguh aku menantikan masa: bilakah perbincangan ini kembali mengalun?