Malam itu begitu sunyi. Sementara angin sesekali meraung membelah alam. Meniupkan udara dingin. Sedang aku baru saja tiba di pintu rumah, ingin segera masuk dan mendapat kehangatan. Rasa lapar yang membuatku gelisah, memaksaku untuk mendesak masuk ke ruang yang masih gelap gulita itu. Tidak ada siapa-siapa. Tapi aku tidak peduli. Aku senang kesenyapan.

Kuingat ada sate babi dari kafetaria anak-anak gereja tadi pagi. Dan kuingat ada nasi pula yang dibeli siang tadi. Segera saja kukeluarkan. Tidak ada sayur atau lauk lainnya. Hanya sate kecap. Ditambah saus sambal. Tidak apa, ini sudah mewah. Karena tidak setiap hari bisa makan sate babi. Lagipula, aku baru ingat, aku baru makan dua roti isi sepanjang hari ini. Maka segera saja kuramu.Kutinggalkan sejenak ramuanku itu di meja bundar. Hendak mengambil gelas hijau yang sudah beberapa waktu kugunakan.

Hanya sesaat. Namun, aku dibuat heran. Kenapa ada segumpal yang berada di luar kertas wadah ramuanku itu. Seingatku, aku tidak membuatnya tercecer. Aku sudah diajari untuk menghargai nasi, meski hanya sebutir. Tidak heran kalau aku bisa marah dan membenci perlakuan orang yang menyisakan banyak nasi, atau sayur dan lauk, di piringnya.

Terbersit di benakku kala itu, perihal lain yang mungkin membuatnya tergulir keluar wadah. Kusisakanlah sedikit di sana. Hendak mencari tahu, benarkah dia yang melakukannya.

Kuraih kertas wadah racikanku — aku malas memakai piring, hanya membuang sabun. Sembari makan, kusaksikanlah seorang sobat baru yang mungil itu.

***

Dalam sepiku, langit-langit sering kuterawangi. Hampa saja. Sesekali kugaruk gitarku seenak perutku. Kadang dari mayor, sering dari minor. Kumainkan lagu-laguku dulu. Kumainkan pula yang sekarang, yang belum berlirik. Kumainkan pula lagu-lagu lama.

Sembari menggaruk, kusaksikan seekor cicak merayap di dinding di dekatku. Seketika itu ia berhenti. Menatapku. Seolah hendak menghipnotisku. Dan aku pun berhenti menggaruk gitarku. Seolah terhipnotis pula olehnya.

“Apa maumu?” tanyanya.

“Kenapa bertanya padaku?” tanyaku balik. “Bukankah dirimu sendiri yang mendadak berhenti.”

“Kukira kau hendak melumatku.”

“Untuk apa?”

“Mana kutahu.”

Sejak itu, kami menjadi akrab. Sesekali dalam sepiku, ia hadir menemani. Kami berbincang banyak hal. Petualangannya di kolong-kolong kursi, di seluk-beluk dapur kami, di mana-mana. Ia juga berkisah tentang pertengkarannya dengan laba-laba yang protes karena Tuan Cicak ini sering merusak rumahnya. Untuk laba-laba, aku tidak mengerti juga, aku tiada dapat berkomunikasi dengannya. Mungkin karena aku punya trauma sendiri dengannya.

***

Aku juga tiada menyangka kalau aku akan bertemu Tuan Kadal. Mulanya aku sungguh terkejut. Sekejap aku melihatnya melintas. Aku tidak begitu yakin akan tamu yang baru ini. Ia menyelinap di balik sofa coklat yang terbuat dari kulit sintetis itu.

Wah, pikirku. Kalau ia sampai masuk ke kamar salah satu penghuni rumah ini, bisa celaka juga. Aku tidak terlalu suka dengan Tuan Kadal ini. Ia licin, tidak seperti Tuan Cicak.

Maka kuambil sapu untuk mengusirnya. Aku tidak suka memiliki tamu yang licin.

Begitulah ia kuhalau dari sudut ke sudut. Sampai sofa-sofa lainnya terpaksa kutarik dari tempatnya semula. Kulihat Tuan Kadal itu berlari terpontang-panting. Kasihan juga dia. Entah angin apa yang membawanya ke rumah orang yang tidak suka disinggahi kadal seperti dirinya.

Kubuka pintu depan dengan harapan ia bisa berlari bebas ke luar. Namun, tentu saja ia tidak bisa membaca maksudku. Sampai akhirnya, ia terbirit-birit lari keluar.

Begitu ia lenyap ke rerumputan, begitu Tuan Cicak muncul.

“Ada apa tadi?”

“Seekor kadal.”

“Kenapa diusir keluar?”

“Aku tidak suka yang licin.”

“Tapi kau belum mendengar cerita darinya, ‘kan?”

Aku terdiam.

“Kau hanya sendiri di dunia ini. Kalau ia pergi, siapa pula hendak menjadi temanmu berbagi? Aku pun tidak selamanya bisa bersamamu. Siapa tahu aku dilumat oleh salah satu penghuni rumah ini?”

Kurenungi kata-kata Tuan Cicak yang penuh kebenaran itu. Serta-merta kusesali pula perbuatanku yang mengusir Tuan Kadal tanpa bertanya satu-dua hal tentang dirinya. Bukankah pengalamannya sebagai kadal sangat berharga pula untuk dipelajari? Betapa bodohnya aku.

***

Sembari kunikmati sate babi dan nasi yang telah kusiram saus sambal itu, kuperhatikan gumpalan nasi yang kusisakan di meja bundar itu. Benar saja! Ia muncul. Si mungil yang gesit itu dengan segera tiba di meja bundar. Ia dekati gumpalan nasi itu, hendak melanjutkan santap malamnya.

Ya, itulah Tuan Tikus. Jadi, benar. Dialah yang menggulirkan segumpal nasi dari wadah kertasku.

Aku tak ambil pusing. Memang kenapa kalau berbagi dengan Tuan Tikus itu? Bukankah aku telah pula belajar untuk tidak serta-merta mengusirnya seperti yang kulakukan pada Tuan Kadal sebelumnya? Lagipula, aku sudah pula menyisihkan bagian yang kukira telah disentuh oleh Tuan Tikus. Sekadar berjaga-jaga, jangan sampai aku terkena penyakit darinya.

Kuperhatikan ia sesaat. Aneh. Aku coba berkomunikasi dengan matanya, ia bergeming. Kami tidak bisa berbincang-bincang. Tidak seperti halnya dengan Tuan Cicak. Kami tiada bisa mengerti satu dengan yang lain. Begitu kusentak, ia lari.

Aku berharap Tuan Cicak ada di dekatku. Supaya bisa kutanyakan padanya mengapa aku tiada bisa berkomunikasi dengannya.

Aku sudah mengambil satu prinsip. Bila tidak bisa berkomunikasi dengan makhluk apa pun, aku tidak hendak menerimanya berada di rumah tempat tinggalku.

Segera kuselesaikan santap malamku. Tidak, tidak bisa dibilang segera pula karena aku hendak menghabiskannya secara perlahan, menikmatinya saja.

Segera setelah usai, kusiapkan sapu, hendak menghalaunya keluar. Aku tiada sampai hati membunuhnya setelah sebelumnya kulakukan hal yang sama pada temannya. Ya, aku pernah membunuh satu tikus di rumah ini. Ia terjebak dalam plastik. Aku membunuhnya dengan sadis. Kubenturkan tubuhnya ke tembok berkali-kali. Terang saja ia mencicit kesakitan. Sampai akhirnya putuslah nyawanya.

Aku tidak hendak mengulangi kisah tragis itu. Jadi, kuhalau ia dengan sapu. Persis Tuan Kadal, Tuan Tikus ini pun berlari ke mana-mana. Ia ke sudut-sudut yang sulit kujangkau. Ke kolong, ke mana saja ia bisa lari. Tapi jelas ia lebih kencang daripada Tuan Kadal. Dan kali ini pun aku harus menggeser sofa-sofa itu agar ia tiada bersembunyi di baliknya. Pintu tentu saja kubuka lebar-lebar.

Butuh waktu sekitar lima belas menit juga untuk bisa menghalaunya. Begitu ia berhasil kuhalau, begitu kututup rapat-rapat pintu depan. Berharap jangan ada Tuan Tikus lagi. Sebab ia tiada dapat berkisah barang sepatah pun kepadaku.

Namun, seketika aku melakukan penghalauan yang kedua itu, aku tiada dapat berkomunikasi lagi dengan Tuan Cicak. Sekali aku bertemu lagi dengannya. Namun, ia tiada berujar sepatah pun. Sedangkan aku berusaha untuk menceritakan banyak hal, ia bergeming saja di langit-langit. Lalu ia ngeloyor pergi.

Aneh, pikirku. Ah, bagaimanapun juga, aku sudah punya pengalaman berbagi dengan Tuan Tikus. Entah secara langsung, maupun tidak langsung.

Tapi seketika itu juga, aku berpikir. Kalau aku sudah pernah bertemu Tuan Cicak, sudah pula bertemu dengan Tuan Kadal, lagi rumahku pun banyak dihuni Tuan Tikus. Akankah aku bertemu dengan Tuan Ular pula mengingat Tuan Tikus adalah santapannya?

Aku bergidik juga memikirkannya, apalagi kalau ia sampai masuk ke kamarku. Buru-buru kututup pintu depan itu. Tidak hanya takut Tuan Ular masuk menyelinap ke dalam, tapi juga karena angin dingin mulai bertiup ke dalam, membuat tubuhku menggigil.