Kemarin ibadah sore. Ada perjamuan kudus di gereja. Tapi kehadiranku bukan semata-mata karena mengejar perjamuan. Semata-mata karena paginya aku meramaikan kegiatan kafetaria pemuda, tidak bisa masuk untuk ibadah. Juga karena aku tidak mau masuk hanya untuk makan roti dan minum anggur.Sesungguhnya, tubuhku telahlah berasa lelah. Tiada sejenak pun aku meletakkan tubuh di ranjang untuk beristirahat. Sepanjang hari berkelana ke sana-ke mari. Padahal istirahat di hari Minggu sangatlah berguna bagiku. Bukan sekadar melepas kejenuhan dari pekerjaan yang seolah tak kunjung selesai. Apalagi bila hendak ibadah sore. Tidur siang menjadi penangkal kantuk yang paling ampuh.More…Jadi, aku tetap pergi. Karena aku sudah bertekad untuk ibadah pagi tadi.

Setiba di sana, kupilih bangku baris kedua dari belakang. Meski bukan tempat favoritku, aku tetap duduk di sana. Kuposisikan tubuhku di bagian tengah. Aku tidak suka duduk di pinggir. Kalau ada orang mau duduk, mereka harus bersempit-sempit melewatiku. Jadi, kuputuskan untuk berada di tengah.

Ibadah berlangsung. Khotbah berjalan. Aku diserang kantuk. Tidak banyak dapat apa-apa. Lalu perjamuan dilangsungkan. Lalu ibadah selesai.

Aku baru sadar sesuatu. Sore itu jemaat yang hadir jauh lebih banyak daripada sebelum-sebelumnya pada ibadah sore. Mungkin saja perjamuan yang diadakan sore itu menjadi segitiga bermuda yang menyedot mereka. Tapi di tengah jemaat tersebut, aku sadar, tidak seorang pun duduk sejejeran denganku. Lebih mengejutkan lagi, aku mengenal sejumlah pemuda, tentu mereka pun mengenalku. Tapi tiada satu pun memilih sejejeranku. Padahal aku tidak berada di depan.

Sepanjang jalan pulangku, aku merenungkan hal tersebut. Aku memang sudah biasa berada dalam kesendirian. Meskipun demikian, aku tetap tidak mengerti kondisi tersebut. Bukannya tiada mengambil upaya apa pun. Tetapi ini seolah mengulang apa yang pernah kualami beberapa tahun lalu.

Sudah umum kalau di tubuh pemuda ada dua kelompok. Kelompok pertama biasa diwakili oleh mereka yang sudah senior. Sedangkan kelompok kedua ialah para pemuda yang baru menjadi bagian dalam gerakan pemuda. Namun, kehadiranku selalu menambah kelompok yang ada. Aku selalu menjadi kelompok ketiga. Sebab aku tiada dapat masuk ke kelompok mana pun. Pembicaraan mereka tidak ada yang mengena bagiku.

Pun di kota baru ini, hal tersebut tampak bakal terulang.

“Tidak mengapa,” ujarku menghibur diri. “Engkau semakin teguh dalam kesendirianmu itu.”

Dan aku terus berjalan, sementara angin dingin sesekali berhembus dibarengi dengan asap kendaraan yang mengepul.