Aku tersentak. Melihat diri yang menggertak. Dengan tatapan yang entah kosong entah polos.

“Ada apa?” tanyaku.

Dia terdiam. Menutup rapat mulutnya. Sedangkan matanya menatap lekat-lekat padaku. Seolah ingin masuk ke dalamnya. Membawa masa lalu dan masa kini. Bertempur menuju masa mendatang.Kami tidak banyak berkata-kata.
Tapi kami seperti mengerti isi kepala.

“Benar begitu?”
“Begitulah.”
“Tapi aku tidak mungkin demikian.”
“Tapi engkau memang harus memilih, bukan?”
“Engkau sendiri tahu, ‘kan?”
“Karena itu aku ada.”
“Tapi aku memang tidak bisa.”
“Tidak bisa? Tidak mau? Yang mana?”
“Aku tidak tahu.”
“Engkau harus memutuskan.”
“Aku sudah pernah menempuh jalan tersebut.”
“Aku tahu.”
“Dan kau tahu keadaanku sekarang.”
“Tentu saja. Aku adalah kau. Kau adalah aku.”
“Lalu mengapa masih bertanya?”
“Itu tugasku. Untuk selamanya.”

Sepi.

“Lalu?”
“Aku tidak tahu.”
“Katakanlah segera.”
“Aku tidak tahu.”
“Aku tahu apa yang kaupikirkan.”
“Aku tidak tahu.”
“Ingin, enggan, atau tidak berani?”
“Aku … takut.”
“Takut?”
“Tidak ingin mengalami hal itu lagi.”
“Takut?”
“Tidak ingin hal itu terjadi lagi.”
“Takut?”
“YA.PUAS!”
“Tidak. Karena aku tahu semua perasaan itu.”
“Lalu kenapa masih bertanya?”
“Itu tugasku. Untuk selamanya.”

Senyap.

“Aku merindukan masa lalu.”
“Aku mengharapkan masa depan.”
“Aku ingin mengembalikan waktu.”
“Aku ingin mempercepat waktu.”
“Kenapa kau malah bertentangan denganku?”
“Kenapa pula harus dianggap demikian?”
“Karena engkau bertentangan denganku. Bukankah aku dan kau adalah sama?”
“Karena itu aku memahami dirimu. Engkau tidak jujur.”

Sepi lagi.

“Apa yang harus kulakukan?”
“Apa yang harus engkau lakukan?”
“Entahlah.”
“Entahlah?”
“Lalu?”
“Putuskanlah.”
“Apanya?”
“Kau tahu yang kumaksud. Jangan mengingkarinya.”
“Maksudnya?”
“‘Engkau tidak akan menjadi sama,’ begitu kata mereka. ‘You won’t be the same,’ kata orang Inggris.”

Dia pergi.