Masalah hak cipta kembali menyentil pikiran saya belum lama ini. Isunya muncul kembali tatkala salah seorang staf di kantor kami menyajikan sebuah presentasi yang merupakan prasyarat diterima tidaknya ia sebagai staf tetap di tempat kami.

Sebenarnya, presentasinya tidak berkenaan dengan masalah hak cipta. Ia mempresentasikan masalah perpustakaan. Namun, diskusi yang muncul, membuat saya memikirkan masalah hak cipta. Sudah bukan rahasia kalau negeri kita ini merupakan salah satu negara pelanggar hak cipta terwahid. Pembajakan VCD, DVD, hingga perangkat lunak merajalela. Beberapa waktu lalu, Kompas juga memberitakan pembajakan buku yang dilakukan berbagai pihak yang membuat para penerbit besar sempat beritikad tidak hendak melakukan pencetakan ulang lagi. (DI satu sisi, saya juga membenci sikap para pemain besar penerbitan, termasuk Gramedia, yang mempersulit saya dalam mencari berbagai literatur linguistik, sebut saja Analisis Wacana Brown dan Yule yang diterjemahkan I. Soetikno.)

Perihal pembajakan buku, memang menjadi kendala lain. Saya sendiri mengaku, terpaksa melakukan pembajakan dengan melakukan foto kopi dari sampul depan sampai sampul belakang. Tidak ada cara lagi, mengingat para penerbit “angkuh” itu tidak berniat untuk mencetak ulang buku yang saya butuhkan.

Nah, sekarang permainannya sudah makin canggih. Sebagian besar pihak mulai senang dengan format digital. Blog pun makin marak.

Meski blog semakin ramai, tapi harus diakui, milis masih menjadi sebagai salah satu alternatif praktis lain. Meski berlandaskan teks (text-based), setidaknya informasi yang dibutuhkan masih dapat diperoleh di antara penikmatnya. Sebut saja Komunitas Penjunan, salah satu komunitas para penulis Kristen. Aktivitas di sana tidak hanya dilakukan oleh para penulis amatir, tapi juga senior. Ada juga Pasar Buku yang menawarkan informasi seputar perbukuan.

Komunikasi via e-mail memang masih dominan. Bahkan tidak lengkap rasanya bila menyodorkan kartu nama tanpa dilengkapi alamat e-mail.

Namun, yang jadi masalah, saya malah menemukan bahwa salah satu tempat yang marak sebagai wadah pelanggaran hak cipta justru terjadi di jalur komunikasi e-mail ini. Termasuklah melalui milis-milis yang beredar dam juga melalui jaringan pertemanan di Friendster. Tak jarang para anggota milis (dan Friendster) mem-forward artikel-artikel yang dianggap bagus ke milis(-milis) yang diikutinya, demikian pula kepada teman-temannya.

Saya bisa memahami maksud baik mereka. Kebanyakan mereka merasa terkesan dengan pesan atau isi artikel tersebut. Meski demikian, satu hal yang saya tidak pernah lihat adalah tidak adanya sumber yang jelas mengenai asal-usul tulisan tersebut. Boro-boro sumbernya, penghargaan terhadap penulis artikel yang di-forward itu pun tidak dilakukan. Alhasil, tidaklah jelas siapa yang menulis artikel tersebut untuk pertama kalinya.

Kalau memerhatikan sejumlah pesan yang masuk di Friendster saya, salah satu yang demikian adalah pesan yang menyuruh kita untuk mem-“forward” lagi pesan itu kepada teman-teman kita yang lain. Terus terang saja, itu model pesan yang saya benci. Selain tidak menunjukkan kreativitas pribadi, kita pun tidak pernah menyertakan kredit bagi penulisnya, meski itu berlabel “anonim”.

Maka satu hal yang saya bisa lihat, berbagai tulisan yang tersebar di milis menjadi sumber yang tidak bisa dipertanggungjawakan, kecuali menyertakan sumber-sumber yang jelas. Ia tidak bisa dijadikan patokan apalagi referensi.

Bagaimanapun juga, satu hal yang sangat saya sesali ialah perilaku ini dilakukan oleh mereka yang berlatar belakang dari dunia akademik. Tidak usah bicara dari perspektif kekristenan dulu. Dari segi akademik saja pun kita sudah gagal menghargai karya orang. Sepertinya kuliah metode penelitian dulu, atau kuliah apa pun yang berkenaan dengan teknik penulisan, sama sekali tidak berguna.

Tapi sebelum dituduh yang bukan-bukan, saya tegaskan kalau tulisan ini murni dari kepala dan tangan saya, ditulis di sebuah warnet di kota Solo, sejajar dengan salah satu rumah makan yang bernama Mama Nasgor. (Yang ketepatan berasal dari Solo, atau pernah pesiar keliling Solo, mungkin tahu warnet yang saya maksud.)

Nah, akhir kata, apakah Anda termasuk salah seorang yang tidak menghargai tulisan orang lain?