Aku termasuk salah seorang penggemar anjing. Pernah pada suatu ketika, kami memelihara tujuh ekor anjing sekaligus dalam satu rumah. Satu model mini pinser, enam lainnya anjing pudel.

Rumah kami yang di lantai tiga sebuah ruko menjadi ramai. Terutama ketika bel berbunyi. Masing-masing selalu berlomba untuk menyambut. Malah sudah menyambut dengan lolongan, yang kalau tidak segera dijemput, lolongan mereka bertambah panjang.Sayangnya, serbuan virus menghabisi peliharaan kami itu. Satu demi satu harus mati. Hanya tersisa tiga, sampai saat ini.

Maka setiap kali aku melihat foto-foto mereka, aku menjadi begitu merindukan mereka. Betapa tidak, mereka seperti memiliki indra khusus yang bisa mengetahui kepulangan salah seorang tuannya.

Pernah suatu ketika, aku kembali dari luar kota. Jauh sebelum aku tiba di kota asalku, mereka sudah terlihat gelisah. Seakan tahu kalau aku hendak pulang. Orang tuaku berkata kalau mereka senantiasa melihat ke tangga, ke bawah, menantikanku pulang. Dan benar saja, ketika aku menekan bel, mereka bertiga sudah menyalak dan melolong.

Aku sangat rindu dengan tiga makhluk berbulu itu. Setiap kali aku melihat foto-foto mereka, aku jadi ingin pulang. Bagiku, bersama kedua orang tuaku, merekalah yang paling dekat denganku. Mungkin kalau lebih jauh lagi, tak lama lagi aku pun bisa mengerti bahasa mereka.

Tapi belum lama ini, aku bermimpi buruk tentang mereka. Anjing-anjingku itu melompat dari lantai tiga ruko kami. Setelah mengintip-intip dari celah teras luar di lantai tersebut, salah satu melompat.

Aku tidak kuasa mencegah mereka. Meskipun melompat hendak menangkap kakinya, atau bulunya, atau ekornya yang pendek itu, aku tidak bisa menjangkau. Dan aku mendengar bunyi “kaing” yang keras.

Ketika aku tiba di bawah, aku melihat, anjingku masih hidup. Kepayahan untuk bangkit berdiri karena kakinya patah. Dan ususnya pun sedikit terburai. Aku tidak tahu mengapa bisa demikian. Aku sungguh tidak tahan melihatnya. Namun, buru-buru ia kugendong, kubawa masuk.

Tapi belum lama, baru sampai di lantai dua, di teras di lantai dua itu, kulihat anjingku yang lain hendak melompat pula.

***

Anjing pudel adalah anjing sirkus. Kalau Anda pintar melatihnya, ia akan bisa melakukan berbagai atraksi. Bisa diajak berjalan dengan dua kaki belakang, bisa diajak mendorong bola, bisa diajak berjumpalitan, dan berbagai atraksi lainnya.

Induk anjing pudelku, sangat pintar untuk berdiri dengan dua kaki belakangnya. Kemampuan ini tidak diturunkan pada anak-anaknya. Maka aku sangat kehilangan tatkala si induk ini harus menghembuskan napas terakhirnya di pelukanku.

Dulu, sebelum mimpi burukku itu, aku sudah pernah bermimpi melihat anjing pudelku itu berdiri dengan dua kaki belakangnya, sambil mengayun-ayunkan kaki depannya, tepat di tepi gedung ruko kami. Berkali-kali, namun tidak terjatuh. Berkali-kali pula aku berlari untuk menangkapnya. Tapi tidak ada yang terjadi.

Beberapa tahun setelah berkali-kali memimpikan hal tersebut, barulah kemarin ini, sekitar tiga malam yang lalu dari tanggal pengiriman tulisan ini, aku mendapati anjing-anjing pudelku jatuh dari lantai tiga dan sekarat.