Kepahitan dalam hidup merupakan bagian yang tidak akan pernah hilang dalam sejarah kehidupan umat manusia. Tidak sampai kapan pun juga. Setidaknya sampai dunia yang baru diwujudnyatakan. Begitulah kira-kira.

Kepahitan justru memberi inspirasi banyak bagi sebagian orang untuk berkarya. Sebut saja Paul McCartney. Dedengkot grup musik legendaris asal Liverpool, the Beatles ini turut mengangkat masalah kegetiran hidup dalam salah satu lagu di album Chaos and Creation in the Backyard (2005). Simak bait pertama liriknya berikut.Laugh when your eyes are burning
Smile when your heart is filled with pain
Sigh as you brush away your sorrow
Make a vow
That it’s not going to happen again
It’s not right, in one life
Too much rain

Baris kedua benar-benar mengingatkan saya pada Nico Robin. Salah satu tokoh dalam komik One Piece karya Eiichiro Oda ini pun memiliki masa lalu yang sangat kelam. Ketika berusia delapan tahun, ia dianggap monster karena memiliki kemampuan ajaib. Ia juga harus merelakan kampung halamannya, Negeri Ohara, negerinya para arkeolog dimusnahkan hanya karena hendak mencari kebenaran sejarah yang hilang. Namun, ketika bertemu Sauro, seorang raksasa, ia diajarkan untuk tertawa ketika menghadapi masalah maupun kesedihan.

Masa lalu yang kelam sering membuat kita tidak berani melangkah. Secara refleks, kita akan membentuk benteng pertahanan. Rasa takut akan masa lalu, kecemasan terulangnya masa lalu di masa kini, ancaman masa depan yang semakin kelam; siapa yang tidak takut akan hal-hal seperti ini?

Meski demikian, Paul McCartney melanjutkan dalam lagunya ini,

You know the wheels keep turning
Why do the tears run down your face

Benar! Kehidupan itu masih terus berjalan–tentu sampai saatnya harus berakhir. Dan ketika menyadari kalau kehidupan kita terus berjalan, mengapa air mata itu harus terus mengalir?

It’s not right, in one life
Too much rain

Tidaklah baik terlalu banyak menangisi kehidupan di masa lalu.

Sejauh ini saya memang masih berteori. Faktanya memang sulit untuk melupakan masa lalu. Karena masa lalu memang tidak bisa dilupakan. Masa lalu adalah sejarah yang berharga. Namun, ketika kita masih ingin tinggal di sana, kita tidak akan pernah sampai pada tujuan yang telah disediakan.

Sekali lagi, itu masih teori saya. Perjuangan untuk tidak terpaku pada masa lalu masih harus terus dilakukan.

Make a vow
That you’re going to be happy again
It’s alright, in your life
No more rain