Kalau Anda berkesempatan berkunjung ke kota Medan, cobalah melongok Toko Buku Gramedia yang terletak di bilangan Gajah Mada. Kalau sudah jam pulang sekolah, belasan hingga puluhan siswa, SD sampai SMA, akan memenuhi toko buku ini, khususnya di lantai dua. Tidak hanya dari Perguruan Raksana yang paling dekat dengan toko buku ini, tapi juga dari St. Thomas I dan II, Methodis, SMA Negeri 1, 2, 4, dan entah berapa lagi berjubel di sana. Dan bagian yang pasti dikerubuti ialah bagian komik. Tidak usah heran kalau Anda harus menikmati aroma keringat anak sekolahan di seksi komik tersebut.Itu pemandangan yang sangat umum di Medan. Apalagi hal ini dimungkinkan karena Gramedia Medan lebih murah hati ketimbang Gramedia Solo, yang membuka, setidaknya satu eksemplar komik maupun buku edisi terkini, meski pada praktiknya ada banyak juga tangan jahil yang tidak segan membuka plastik kemasan buku-buku itu.

Meski demikian, hal ini cenderung berbanding terbalik dengan seksi Sastra. Sama sekali tidak sebanding dengan bagian komik. Kalaupun ada yang melirik, tidaklah banyak. Beberapa mungkin berdiri, melihat-lihat ulasan di sampul, atau sekadar melintas saja. Hal seperti inilah yang diangkat oleh Febby Hendola Kaluara, siswi SMP Labschool Kebayoran. Kondisi yang menurutnya memprihatinkan.

“Sastra adalah hal yang berat dan membosankan,” begitulah anggapan umum para remaja. Sebuah anggapan yang juga membuat kita memahami mengapa karya-karya teenlit lebih digemari para remaja ketimbang Sitti Nurbaya-nya Marah Rusli. Padahal keberadaan sastra bukan sekadar hiasan, melainkan untuk dibaca, untuk dilestarikan, demikian Febby menegaskan. Padahal dari sebuah puisi, kita dapat mengetahui sesuatu yang tidak ada di depan mata. Kita menyimpan khayalan orang lain yang indah.

Kondisi ini memang berkaitan erat dengan masalah budaya membaca. Kebanyakan orang merasa bosan dengan menatap lembaran-lembaran yang hanya dipenuhi oleh teks. Budaya visual yang diperkuat dengan televisi dan video memang sudah begitu merasuk dalam kehidupan para remaja Indonesia.

Dalam tulisannya yang berjudul “Haruskah Seorang Remaja Membaca Sastra” ini, Febby juga menyebutkan bahwa budaya audio (baca: musik) juga memengaruhi kehidupan para remaja. Padahal kemajuan berbagai bidang kehidupan, termasuk musik, juga disebabkan oleh adanya budaya membaca. Dengan membaca, pengetahuan dan wawasan akan bertambah. Semakin tinggi minat membaca, semakin luas pula pengetahuan yang mungkin diperoleh. Dan salah satu jenis tulisan yang patut dibaca para remaja ialah sastra.

Saya ingat komentar Rendra di sekolah kami, hampir enam tahun silam. “Dengan sastra, hati kita akan damai, dan bisa awet muda,” ujarnya yang kala itu sambil berseloroh karena rambutnya yang begitu hitam (padahal di usianya yang sekitar lima puluh ke enam puluh kala itu, mestinya sudah mulai beruban).

Lewat diskusi dengan para sastrawan kaliber itu, saya juga menyadari betapa saya yang saat itu duduk di kelas tiga, belum pernah membaca selusin buku sastra dalam satu tahun, sesuatu yang justru jadi lalapan siswa-siswi di negara seperti Rusia.

Bagaimana dengan Anda? Masih terpaku pada budaya visual? Merasa bosan dengan membaca berlembar-lembar deretan tulisan? Coba ikuti cara-cara untuk menikmati sastra yang diusulkan oleh siswi yang kala menulis artikelnya masih duduk di bangku SMP ini.

  1. Bacalah buku sastra yang ringan (tidak tebal) dulu.
  2. Bacalah di ruangan atau tempat yang tidak berisik, bisa juga dengan ditemani iringan musik klasik.
  3. Buat diri Anda senyaman mungkin saat membaca.
  4. Jangan memaksakan diri kalau sudah mengantuk; membaca sastra bukan bertujuan menyiksa diri, melainkan untuk menghadirkan ketenangan batin.
  5. Coba tulis sinopsisnya, bagikan kepada orang lain, lalu diskusikan.
  6. Tonton dramanya untuk melihat bagian-bagian yang mungkin dihilangkan dari karya aslinya.

Nah, siap untuk membaca karya sastra pertama Anda?