“Baik-baik sajakah?” Begitulah pertanyaan yang ia ajukan kepadaku kala aku meneleponnya. Nada suaranya tidak berubah sedikit pun, meski sebelumnya aku sempat ragu, apakah suara ini memang suaranya. Semula ia memang tidak mengenali suaraku. Entah sampai kapan aku hendak menghukumnya demikian, sampai ia menyadari sendiri.

Ia masih seorang gadis yang riang. Aku tahu sejak pertama kali bertemu dengannya tiga tahun lampau. Dan hal ini masih sangat terasa siang itu, ketika suara kami akhirnya bersua lagi. Nada yang optimis, positif, dan semua yang baik-baik, bisa kurasakan, meski aku tidak bisa menjelaskan mengapa bisa kusimpulkan demikian.“Sudah pindahkah? Atau masih di tempat yang sama?” tanyanya.

“Begitulah,” jawabku singkat.

“Katanya kamu pindah ke Jakarta?”

“Begitulah,” jawabku lagi, singkat, tidak berniat menjelaskan lebih lanjut perihal keberadaanku yang sebenarnya.

Tidak banyak yang bisa kami bicarakan dalam dua menit empat belas detik itu. Dia masih mengharapkan keikutsertaanku dalam pertemuan mendatang. Entah karena rasa bersalah karena lama tidak meresponsku, entah karena rasa persahabatan, entah rasa apalagi, kutangkaplah dari nada berbicaranya, keinginan untuk bertemu denganku lagi.

Sesungguhnyalah aku tidak pernah keberatan bertemu lagi dengannya. Lelaki mana yang tidak hendak bertemu seorang gadis, cantik pula? Ya, kalau aku memandang ke belakang, sesungguhnya dia itu termasuk tipe idamanku. Rambut lurus panjang, sedikit di bawah bahu, hidung yang cukup mancung, kulit yang bersih, tingginya pun tiada sejauh tinggiku pula. Ia pun termasuk dalam anggota paduan suara pula, yang artinya ia pintar bernyanyi.

Tapi apakah alasanku untuk bertemu lagi dengannya? Bila kupikirkan baik-baik, aku tidak tahu untuk apa aku bertemu dengannya? Melepas rindukah? Berbagi ceritakah? Berbagi apakah? Semua itu memang bisa menjadi alasan. Tapi benarkah itu yang kucari? Untuk apa melepas rindu kalau sebenarnya tidak ada perasaan rindu? Untuk apa berbagi cerita kalau memang cerita itu tidak pernah ada? Bisa saja aku mengarang cerita karena aku pun cukup piawai. Tapi untuk apa aku mengarang cerita? Apalagi kalau selama ini aku sudah banyak bercerita, bagai seorang pawang cerita yang disuruh bercerita di depan lapangan kosong.

Aku memang pernah berharap untuk bertemu dengannya lagi. Dulu sekali aku pernah bermimpi untuk bertandang ke rumahnya, di kota yang jauh itu. Sampai aku memeras keringat dan otakku untuk mengumpulkan modalku. Kuceritakan pula kepadanya semua impianku, semua pikiranku, semua perasaanku kepadanya, baik dengan kiasan maupun dengan terus terang. Tapi itu dulu. Dulu sudah berlalu.

Aku masih ingat waktu pertama kali aku bertemu dengannya tiga tahun lampau itu. Waktu itu aku memang sudah terpesona juga. Meski selama sepekan itu aku tidak sempat memikirkan dia secara khusus. Tapi dari beberapa kesempatan untuk duduk bersamanya, aku belajar banyak hal dari dirinya. Dan tampaknya demikian pula halnya dengan dirinya. Apalagi ketika ia berkali-kali menyanjungku, terkadang di depan teman-teman yang lain, terkadang secara langsung di hadapanku.

Aku menyadari sesuatu, kenapa aku merasa senang berbincang-bincang dengan dia. Tidak sekalipun nada suara yang negatif keluar dari mulutnya. Sedangkan aku, kalau perlu kubawa hingga ke liang kubur. Tapi dia, akan selalu membawa hingga ke langit. Sungguh bertolak belakang. Tapi mungkin memang karena inilah aku suka berkata-kata dengannya.

Tidak terhitung berapa lama waktu kuhabiskan untuk berbagi cerita dengannya pascapertemuan kami itu. Kubiarkan diriku melintasi langit-langit malam hanya untuk bertemu dengannya. Kubiarkan pula diriku untuk menembus angin malam, melampaui batas-batas yang sulit ditembus, hanya untuk bertemu dirinya. Itu adalah masa-masa yang sangat menyenangkan.

“Ya? Kita akan bertemu di sana ‘kan?” pintanya lagi.

“Aku tidak tahu,” jawabku. Benar, aku sama sekali tidak tahu. Sekarang ini aku tidak berminat untuk bertemu dengannya, meski masa lalu menunjukkan betapa menyenangkan bertemu dengannya. Tapi sekarang adalah masa kini. Dan aku sama sekali ingin melepaskan diriku dari semua yang ada di sekitarnya.

Bukan karena aku sudah menambatkan hatiku pada orang lain, sama sekali bukan itu. Ada perasaan berat untuk membawa diriku kepadanya. Karena aku tahu, keputusan itu akan menjadi keputusan yang akan mengubah segalanya.

“Aku akan menjelaskannya kalau aku mendapatkan pesan darimu nanti,” ujarku sebelum mengakhiri pembicaraan kami.

Selesai. Dua menit dan empat belas detik kami pun berakhir.