Angin malam serasa menderu. Tanda-tanda peralihan musim yang tahun lalu membuatku harus terkapar seharian. Pengalaman tersebut sampai sekarang tidak bisa kutentukan: haruskah aku bersyukur atau menangisinya. Gara-garanya, tabungan jamku yang semula hendak ditujukan sepekan penuh di Salatiga, malah harus dialihkan ke Jakarta sebulan berikutnya, yang akhirnya memberi pengalaman yang begitu menyakitkan dan tidak mungkin bisa kulupakan. Tapi itu tahun lalu.Sekarang angin yang sama kembali berhembus. Seakan tidak ambil pusing kalau di sini ada warga pendatang yang tak kunjung memegang KTP Solo. Yang tanpa pandang bulu menghajar siapa saja yang berani keluar malam.

Kusaksikan bintang gemintang di atasku. Sementara Venus memantulkan cahaya matahari dari belahan bumi yang lain. Begitu membuatku kagum. Tidak pernah bisa kusaksikan langit yang seperti sekarang ini di kota asalku. Walikota kami sudah membuat kota begitu terang-benderang. Seakan hendak mengurangi kerja garong yang suka berkeriapan di malam gelap, sudut-sudut kota pun dikeja menyala. Saking terangnya, langit di atasku pun tiada jelas lagi.

Sebenarnya, usaha Pak Abdillah, begitu nama Walikota kami untuk beberapa tahun ke depan, bukanlah hal yang buruk. Ia bisa dibilang cukup baik memajukan dunia bisnis. Sehingga sekarang kami punya banyak pilihan untuk berbelanja. Selain Yuki Supermarket, ada juga hipermarket asal Perancis. Sedangkan ruko tempat kami menetap sejak ’89 berada di antara keduanya.

Bagaimanapun juga, aku sudah meninggalkan kota yang hiruk-pikuk mulai pagi hingga petang itu. Aku pun sudah meninggalkan langit petang yang sangat kucintai, yang dengannya aku selalu bercerita segala keluh kesahku, yang kepadanya aku sering juga mengisahkan angan dan asaku, tentang masa lalu, tentang masa kini, tentang masa depan. Dan tentu saja aku sangat merindukan semen hangat dan angin semilir di puncak ruko yang bisa membuatku terlelap sejenak. Karena, kuingat, di sana pula kami sering berbicara, menghabiskan pulsa, hanya untuk melepas rindu karena tak kunjung bersua lagi.

Malam itu aku, dengan setelan lengkapku, bersiap untuk berjalan keluar. Kuperhatikan sepatuku, sudah sedikit terkoyak. Mungkin karena dulu aku pakai untuk berlari setiap pagi, kegiatan yang kini sudah tidak pernah kulakukan lagi. Lalu kusandang tas kuning yang meski kubeli di diskonan di Sun, tetap membanggakan karena memang bermerk.

Begitu kukayuh sepeda hijauku itu, angin serasa berhembus lebih kencang. Meski sudah memakai baju berlapis, dinginnya tetap terasa. Dan kini aku mengerti kenapa warga kota ini kebanyakan akan memilih keluar dengan jaket. Tidak sekadar untuk menepis dinginnya malam, tapi juga menghindari asap knalpot yang kalau malam lebih tidak terlihat.

Sesaat kemudian, aku tiba di sebuah wartel. Rasa penasaranku dengan pembicaraan terakhir mendorongku untuk menghubunginya.

***

Kami bertemu satu setengah tahun yang lalu di Salatiga. Pertemuan akbar dari seluruh Indonesia itu sangat menyenangkan. Meski gaya kami bertolak belakang, aku senang mengenalnya. Apalagi ketika aku berkesempatan mengunjungi kotanya, ia tidak segan mengantar ke mana-mana, termasuk menemui para petinggi yayasan.

Bulan-bulan pascapertemuan merupakan bulan-bulan yang sangat hangat. Banyak di antara kami yang masih saling kontak. Sesuatu yang bagiku sangat positif di tengah aura negatif yang selalu kubawa. Aku seakan mendapatkan semangat untuk menemui mereka lagi, meski entah kapan. Tentu saja dia termasuk.

***

Tidak ada apa-apa, kok,” ujarnya di ujung sana.

Benarkah begitu?” tanyaku lagi.

Beneran, tidak kenapa-kenapa.”

“Baiklah kalau memang begitu,” kataku lagi seraya menutup sambungan interlokal tersebut.

Dengan gontai aku keluar dari wartel. Pembicaraan yang sangat singkat. Biasanya aku akan menghabiskan minimal sepuluh menit. Bahkan dengan dia dulu aku sempat menghabiskan satu setengah jam dengan layanan selular yang tentu saja memeras pulsa. Namun, bangunan relasi lebih penting daripada jumlah berapa pun. Itulah yang kupahami sejauh itu.

Kukayuh sepedaku lagi. Kali ini dengan lebih parah. Goyang kanan-kiri. Aku tidak tahu mau bagaimana lagi. Orang yang selama ini kupercaya ternyata telah mengubah segalanya. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

***

Peristiwa itu sudah lama berlalu. Namun, benar-benar tidak bisa kulupakan. Tidak peduli seberapa besar keinginanku untuk menghapus ingatan, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali berharap suatu saat aku mengalami insomnia sehingga aku tidak mengingat siapa pun lagi. Kala hal itu tiba, aku sangat berharap aku bisa mengisinya dengan ingatan yang betul-betul baru. Tapi tentu saja ini omong-kosong yang tidak akan terwujud. Mungkin Tuhan menilai keinginanku itu adalah keinginan cengeng yang hanya mau lari dari kenyataan.

***

Kutatap lagi langit sore itu. Warna merah menyala bercampur lembayung nan indah tergores di langit petang itu. Sementara angin kembali berhembus. Kilatan-kilatan itu berkelebat dalam benakku. Terbayang hal-hal lampau. Aku selalu terbawa kembali ke alam lampau kala menatap senja. Ada perasaan damai, tapi ada perasaan cemas, tidak tahu cemas akan apa. Semua masih tersembunyi, meski orang lain bisa berkata kalau aku saja yang tidak berani menyingkapkannya.

Aku ingin menghentikan waktu. Menyaksikan langit yang kian memerah. Sembari menikmati angin yang berhembus. Meskipun semakin dingin, sebagai tanda peralihan musim. Tapi tentu saja aku tidak bisa menghentikannya. Aku bukan Tuhan.

Di tanganku, kupegang beberapa lembar kertas yang merupakan kumpulan puisiku dalam masa kreatif yang pernah kurasakan beberapa tahun lalu. Sambil menikmati petang itu, kubuka-buka kembali kumpulan puisi yang masih ditulis tangan itu. Dan kenangan-kenangan yang menyertainya pun bermunculan.

Aneh memang. Itu sudah lima tahun yang lalu. Tapi aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Tapi kalau mengingatnya lagi, apalagi melihatnya dengan jelas, aku merasa sangat tersiksa. Hatiku seakan diiris-iris dengan sebilah pisau. Ada kepura-puraan, ada kesedihan, semua terangkum dalam rangkaian kenangan masa lalu.

Kalau sudah sampai di sini, aku malah ingat dengan komentar salah seorang temanku. Ia pernah berkata, “Kamu benar-benar orang masa lalu.” Aku tidak tersinggung. Malah aku lebih sering berbangga diri dengan anggapan demikian. Betapa tidak, aku masih bisa bertahan dalam apa yang kusebut keaslian, meski mungkin keaslian dalam diriku pun hanya merupakan tiruan. Tapi aku tidak pernah merasa sesuai dengan zaman ini. Mungkin kalau pimpinanku membaca kalimat ini, aku bisa dipecat. Sebab ini menunjukkan kalau aku juga orang yang tidak mungkin berubah ketika sudah memegang teguh sesuatu. Efeknya apalagi kalau tidak mengakibatkan lambatnya aku beradaptasi dengan posisi baru dan sistem yang juga serba baru itu. Tapi tidak mengapa. Toh aku menikmatinya juga, meski dalam tekanan.

Aku masih termangu menatap senja dengan kilasan-kilasan masa lalu. Meski teman-teman kantor masih bercanda tawa di teras rumah kos kami itu, entah kenapa aku tak kunjung bisa menikmati alam yang demikian. Seperti semakin ditarik ke arah yang berbeda: aku berada di tengah mereka, namun tidak berupa bagian mereka.

Aku bukannya tidak suka, tapi ada sesuatu yang selalu membuatku tidak bisa benar-benar bergabung. Entah rasa takut, entah rasa angkuh, entah rasa benci, aku tidak tahu. Di kepalaku berkecamuk semuanya. Sampai sulit rasanya untuk memutuskan banyak hal. Terlebih dalam beberapa bulan terakhir ini.

***

Pesan singkatku tidak dibalas lagi. Aku sebenarnya sudah menjilat ludahku sendiri, menyamakan diriku dengan seekor anjing yang kembali pada muntahannya. Aku pernah bertekad kalau aku tidak akan menghubunginya lagi. Tapi aku selalu terdorong untuk memperbaiki hubungan di antara kami. Meski selalu membuatku merasa tersiksa, aku tetap didorong untuk menanyakan khabarnya, skripsinya, dan rencana Agustus mendatang. Tapi tentu saja nomorku yang sekarang sudah tidak dikenalnya. Aku sengaja memang. Karena kalau memakai yang lama, tentu tiada berbalas pula. Dan meskipun aku tahu kalau dengan nomor yang baru pun tiada berbalas pula, toh aku tetap mengirimkan pesan tersebut.

Ia membalas pesan pertamaku. Dengan gaya berpesan singkat yang biasa dilakukan kalangan muda sekarang, ia membalas dengan tiga kata. Pendek. Menanyakan siapa aku. Kubalas segera dengan cukup panjang. Dan sebagaimana dugaanku semula, pesanku tidak dibalasnya. Mungkin jawabanku menyadarkannya akan siapa aku. Tapi memang itu juga yang kuharapkan. Tapi hasilnya memang tidaklah positif.

Itulah harga sebuah hubungan. Aku selalu dibiarkan berlari sendiri. Semakin lama aku semakin terbiasa dalam kelamku, berlari sendiri. Seperti yang akan kulakukan malam ini, ketika aku akan menembus malam yang kelam, dengan angin perubahan yang menderu di sekitarku. Semuanya membuatku berada dalam zona yang nyaman meski tiada pernah nyaman. Hidup di dalam impian, meski tiada kunjung terwujud. Tidak mungkin melepaskannya.

Kemarin ini, semula aku berharap aku bisa mengawali kehidupan yang baru. Tapi sekali lagi, ternyata aku masih hidup dalam impian. Aku tidak akan berada di sana sekarang. Demikian juga tahun-tahun mendatang. Mungkin aku terlalu muluk dalam menjalani kehidupanku. Mungkin aku terlalu berharap menikmati kenyamanan hidup. Sebab semua orang berkata, “Jangan hilangkan harapan dalam hidupmu.” Tapi bagiku sepertinya hal itu sudah berlalu. Sejak aku dilepas mengembara dalam alam yang tak kutahu lagi.

***

Derai tawa sudah tidak ada lagi. Mereka sudah pulang. Sementara aku masih termangu. Masih tidak percaya kalau aku sudah setahun lebih di kota kecil ini. Masih tidak percaya kalau aku masih harus merasakan sakit yang sama. Semakin membuatku tersiksa karena meski tahu akan mendapatkan hasil yang sama, aku tetap melakukannya juga, tetap mengharapkannya juga.

Nyamuk di sekitarku menyadarkanku. Aku belum mandi. Keringat yang tadi siang mengucur deras sudah dikeringkan angin yang kian rajin berhembus.

“Andai aku bisa ikut kalian,” bisikku dalam hati.