<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Corat-Coret Pikiran</title>
	<atom:link href="http://francolingua.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://francolingua.wordpress.com</link>
	<description>realita, imajinasi, alam mimpi, dan renungan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 12:11:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='francolingua.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/ed0a9574aa5acb265e64960f9c57ad2b?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Corat-Coret Pikiran</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://francolingua.wordpress.com/osd.xml" title="Corat-Coret Pikiran" />
	<atom:link rel='hub' href='http://francolingua.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Elmer, Autrix, dan Natal Anak Pasar Modal</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2010/12/29/elmer-autrix-dan-natal-anak-pasar-modal/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2010/12/29/elmer-autrix-dan-natal-anak-pasar-modal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Dec 2010 18:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Kak, kenapa bahasa Inggris sih? Anak perempuan itu bertanya kepadaku. Aku sudah menduga kemungkinan pertanyaan begitu. Film yang tengah diputar, sama sekali tidak dilengkapi dengan terjemahan bahasa Indonesia. ”Itu cerita tentang kelahiran Yesus,” ujarku. ”Coba kamu lihat, tuh, ada bintangnya ’kan? Nah, lihat, itu para majusnya.” ”Iya, Kak!” ”Nah, sekarang, kamu lihat baik-baik karena nanti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=147&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><em>Kak, kenapa bahasa Inggris sih?</em></p>
<p><img class="alignleft" style="margin:10px;" src="http://www.sp.org.hk/sp-content/images/upload/occ_0792DL_A218_l.jpg" alt="" width="320" height="212" />Anak perempuan itu bertanya kepadaku. Aku sudah menduga kemungkinan pertanyaan begitu. Film yang tengah diputar, sama sekali tidak dilengkapi dengan terjemahan bahasa Indonesia.</p>
<p>”Itu cerita tentang kelahiran Yesus,” ujarku. ”Coba kamu lihat, tuh, ada bintangnya ’kan? Nah, lihat, itu para majusnya.”</p>
<p>”Iya, Kak!”</p>
<p>”Nah, sekarang, kamu lihat baik-baik karena nanti akan ada pertanyaan dari film itu.”</p>
<p style="text-align:center;">
-oOo-</p>
<p><span id="more-147"></span>Sampai ibadah berlangsung, aku masih celingak-celinguk. Kelompok lain sudah mulai ramai. Dari 15 kelompok, cuma aku yang menjadi pembimbing kelompok warna putih dan seorang kakak pembimbing kelompok warna coklatlah yang belum kebagian anak layan. Begitu pun, aku mulai merasa agak lega. Pikirku, dengan begitu, aku bisa konsentrasi membantu mengawasi anak-anak lainnya.</p>
<p>Namun, panitia segera bersikap. Beberapa anak, meski dengan label warna coklat, merah jambu, kuning, digiring kepadaku. Mula-mula hanya dua anak. Sepertinya kakak beradik. Lalu tiga anak lainnya bergabung. Dan lagi. Dan lagi. Sampai total ada enam belas anak harus kuawasi. Dan … tidak ada kesempatan untuk saling mengenal.</p>
<p>Tidak lama aku pun harus memperhatikan mereka semua. Seorang anak menyodorkan kotak sandwich-nya kepadaku.</p>
<p>”Mau Kakak bukakan?” tanyaku yang segera ia balas dengan anggukan. Belum lagi selesai aku membukakan <em>sandwich</em> buatnya, seorang anak lainnya meminta hal yang sama. Sedangkan anak lainnya memintaku membukakan sambal.</p>
<p>”Sebentar ya,” ujarku sembari segera membuka plastik yang membungkus <em>sandwich</em> itu, sebelum beralih kepada anak yang lainnya.</p>
<p style="text-align:center;">
-0Oo-</p>
<p>Tak pernah kubayangkan kalau aku harus kembali berurusan dengan anak-anak! Tapi itulah faktanya. Malam sebelumnya, seorang teman kakakku memintaku untuk berbagian dalam Perayaan Natal Anak-anak, yang merupakan bagian dari Perayaan Natal Pasar Modal Jakarta. Mengetahui acara akan berlangsung pukul 17.00 dengan sebelumnya diminta agar aku hadir pukul 15.00, kusanggupi ajakan tersebut.</p>
<p>Sabtu, 11 Desember itu, aku langsung bertolak dari Cibubur. Sebelumnya, aku                diminta menemani beberapa rekan yang hendak menjenguk seorang rekan kami lainnya, yang baru saja dikaruniai seorang putri. Kurasa sedikit lelah karenanya. Biasanya, kalau ada kegiatan penting, aku tidak akan melakukan agenda lainnya.</p>
<p>Untunglah aku bisa tiba cukup awal. Ada waktu untuk makan, dan istirahat, meskipun aku tidak menyentuh makanan yang disediakan. Perutku masih terasa kenyang oleh jamuan di Cibubur tadi.</p>
<p><em>Briefing</em> diadakan dengan singkat. Dan aku masih bingung dengan tugasku. Setelah sempat tanya sini-situ, barulah jelas tugasku. Membimbing anak-anak dalam kelompokku. Jumlahnya akan sebanyak 25 anak, sesuai 25 bingkisan yang disediakan. Kalau mereka ingin buang air kecil, aku harus mengibarkan bendera.</p>
<p>Begitulah aku kembali menjadi guru Sekolah Minggu karbitan. Setelah pensiun lima tahun lamanya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku tidak mungkin lupa nama anak itu. Elmer. Perhatiannya selalu ke mana-mana. Sebentar kualihkan perhatian, ia sudah lenyap dari lingkaran kami.  Menjaga dia, berarti mengabaikan yang lain. Memperhatikan yang lain, berarti perhatianku kepadanya akan berkurang, dan ia segera lenyap dari pandangan.</p>
<p>Aku benar-benar kehilangan dia ketika acara kuis dan permainan dimulai. Aku kelabakan. Apa yang harus kulakukan? Mencarinya dan mengabaikan yang lain? Atau membiarkan dia? Akhirnya, kuputuskan untuk membimbing kelompok kecil kami. Aku yakin, ia tidak akan keluar dari lokasi acara.</p>
<p>Sembari memperhatikan dan mengarahkan anak-anak itu menyusun <em>puzzle</em>, seorang anak yang lain, kalau tidak salah, namanya Autrix, usianya mungkin baru 2 tahun, sibuk memanjat punggungku. Ia mulai jenuh. Kakaknya, yang aku lupa siapa namanya, masih mending. Mungkin usianya berbeda dua tahun dari adiknya ini.</p>
<p>Saat perhatianku agak kulonggarkan dari anak-anak yang sibuk dengan <em>puzzle</em>, kucari-cari Elmer. Dan ah, seorang nona, mungkin kakaknya, menuntunnya kembali ke kelompok kami.</p>
<p>Namun, tidak sampai lama, ia sudah lenyap lagi. Aku dan kakaknya kembali berpandangan, melongo. Begitu kami mengalihkan perhatian, begitu ia segera lenyap, entah ke mana.  Hal ini terjadi beberapa kali. Aku masih merasa dilema karena mesti memperhatikan anak-anak lainnya.</p>
<p style="text-align:center;">
-oOo-</p>
<p>Akhirnya, acara berakhir. Kubagikan bingkisan kepada anak-anak itu. Aku merasa kerepotan. Selain menyerahkan bingkisan, aku harus memberi tanda centang pada nama penerima, sekaligus memberikan stempel pada tangan mereka, pertanda mereka sudah menerima bingkisan. Sementara itu, beberapa orang tua mulai menjemput anak-anak mereka.</p>
<p>”Kakak, Kakak! Kami pulang ya?” kakaknya Autrix berujar kepadaku.</p>
<p>”Orang tua kalian sudah menjemput?” tanyaku.</p>
<p>”Sudah. Itu di sana!” ujarnya sambil menunjuk jauh ke luar wilayah acara.</p>
<p>”Baiklah, kalau memang benar, pergilah menghampiri orang tua kalian.”</p>
<p>”Terima kasih, Kak!”</p>
<p>Dan aku masih harus melayani anak-anak yang lain, tanpa mengetahui masalah yang segera timbul.</p>
<p>Tidak lama, sang nona, kakak Elmer, berdiri di depanku. Aku tersenyum, dan menandai Elmer sembari memberinya bingkisan berisi boneka dan CD, plus jajanan khas anak-anak.</p>
<p>Lalu seorang ibu, ibu dari kakak beradik lainnya menghampiriku sembari menyodorkan tiket.</p>
<p>”Bagaimana dengan ini?” tanya ibu itu.</p>
<p>”Oh, tidak apa-apa, Bu, dibawa saja. Yang penting saya tahu, Ibu sudah menjemput anak-anak Ibu.”</p>
<p>”Terima kasih, ya?”</p>
<p>Dan aku tidak tahu, kalau tiket itu harusnya kuterima, sebagai bukti lain bahwa orang tua sudah menjemput anak-anak mereka.</p>
<p>Tatkala kukira aku sudah bisa bernapas lega, tiba-tiba seorang ayah dengan wajah begitu cemas datang.</p>
<p>”Saya ke sini bukan karena anak saya belum mendapat bingkisan, tetapi anak saya belum ketemu!” sahutnya dengan nada cemas.</p>
<p>”Siapa nama anak Bapak?”</p>
<p>Ia menyebutkan nama Autrix dan kakaknya. Dua anak yang menjadi tanggung jawabku. Kekhawatiranku di awal acara terbukti sekarang.</p>
<p>”Tapi tadi, mereka berkata kalau mereka sudah melihat orang tuanya menjemput, mungkin mereka melihat ibu mereka,” ujarku memberi penjelasan, yang mungkin lebih cocok disebut pembelaan.</p>
<p>”Tapi saya tidak datang dengan istri saya,” ujar si bapak, yang kontan saja membuatku makin khawatir. Bagaimana kalau mereka tak kunjung ketemu?</p>
<p>Sementara itu orang-orang yang berada di lokasi acara mulai berkurang, beralih ke sayap sebaliknya dari Ballroom lantai 17 itu. Beberapa anak tampak berseliweran di tengah orang dewasa. Dan aku mencari-cari, kalau-kalau kedua anak kecil itu terpantau oleh mataku yang rabun ini.</p>
<p>Aku berseru dalam hati ketika melihat kedua anak kecil itu kembali ke lokasi acara. Kusambut mereka sambil berkata, ”Itu ayah kalian mencari dari tadi.”</p>
<p>Kubawa mereka kepada sang ayah. ”Ini mereka, Pak.”</p>
<p>Sang ayah langsung menyentil telinga anak-anak itu. ”Bandel! Bego lu! Ke mana saja kalian?”</p>
<p>Aku berusaha menengahi, ”Sudah, Pak, sudah. Yang penting mereka sudah ketemu.” Namun, sang ayah tidak terlalu memperhatikan dan melayangkan sentilan lainnya kepada anak-anaknya.</p>
<p>Ujaranku tidak digubris. Sampai akhirnya ia berkata, ”Terima kasih, ya,” dan langsung menggiring anak-anaknya disertai dengan omelan pedas.</p>
<p>Kakak-kakak pelayan yang lain berujar, ”Bapaknya pasti benar-benar <em>kuatir</em>, apalagi sekarang ’kan banyak penculikan anak.”</p>
<p>Dalam hati, aku bersyukur, kedua anak tadi tidak diculik. Kalau itu yang terjadi, aku harus mempertanggungjawabkannya. Syukur kepada Tuhan, hal itu benar-benar tidak terjadi.</p>
<p style="text-align:center;">
-oOo-</p>
<p>Kami diperkenankan untuk menikmati santap malam yang disediakan Panitia Natal Pasar Modal Jakarta. Namun, aku sudah keburu tidak berselera makan. Rasanya kejadian tadi sudah cukup mengisi perutku—keputusan yang sebenarnya keliru karena harusnya aku tetap mengisi perut demi menjaga kondisi. Aku hanya memaksa menikmati sup, seperti krim sup menu gocengan itu.</p>
<p>Ini benar-benar pengalaman berharga. Sekaligus pengalaman pertama setelah bertahun-tahun tidak berhadapan dengan anak berbagai lapis usia. Teringat olehku bagaimana aku bisa menangani anak-anak di kelasku dulu. Tapi itu lebih karena mereka ada dalam kelompok usia yang lebih dewasa.</p>
<p>Aku juga belajar dari Elmer dan Autrix. Dua nama yang mungkin akan sulit kulupakan. Bagaimana aku menghadapi anak yang sepertinya autis. Dan bagaimana aku menghadapi anak yang gampang jenuh, seperti Autrix, terlepas dari fakta bahwa acara terlalu lama untuk anak-anak seusia mereka.</p>
<p>Apa lagi yang kupelajari di sini? Bahwa anak-anak lebih suka warna biru daripada putih. Itulah yang kuketahui dari seorang kakak layan. Anak-anak yang diberi kebebasan memilih kelompok, lebih banyak memilih warna biru ketimbang putih. Ini sekaligus menjelaskan mengapa kelompokku tidak kunjung ramai. Tidak ramai, sampai sejumlah anak berlabel warna lain dibawa kepada kelompokku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/147/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/147/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/147/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=147&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2010/12/29/elmer-autrix-dan-natal-anak-pasar-modal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.sp.org.hk/sp-content/images/upload/occ_0792DL_A218_l.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mengenang Mula Harahap</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2010/09/17/mengenang-mula-harahap/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2010/09/17/mengenang-mula-harahap/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Sep 2010 17:12:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[BPK Gunung Mulia]]></category>
		<category><![CDATA[IKAPI]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Mula Harahap]]></category>
		<category><![CDATA[obituari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sudah tahu belum, Pak Mula meninggal?&#8221; begitu rekan di balik telepon memberi tahu. Tak kutanggapi informasinya secara serius. Tapi pelan-pelan, kutanya juga pada rekanku yang senior, &#8220;Pak Mula meninggal, apa betul?&#8221; Kontan sikapnya berubah. Ia segera memberi tahu, betapa ia merasa agak heran mengetahui ada beberapa temannya di Buku Wajah yang mengucapkan &#8220;selamat jalan&#8221; kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=138&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 247px"><img style="margin:10px;" title="Mula Harahap" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs416.snc4/47941_429119529212_544334212_5122086_7628120_n.jpg" alt="" width="237" height="258" /><p class="wp-caption-text">Mula Harahap beserta cucu-cucunya</p></div>
<p>&#8220;Sudah tahu belum, Pak Mula meninggal?&#8221; begitu rekan di balik telepon memberi tahu. Tak kutanggapi informasinya secara serius. Tapi pelan-pelan, kutanya juga pada rekanku yang senior, &#8220;Pak Mula meninggal, apa betul?&#8221; Kontan sikapnya berubah. Ia segera memberi tahu, betapa ia merasa agak heran mengetahui ada beberapa temannya di Buku Wajah yang mengucapkan &#8220;selamat jalan&#8221; kepada Mula Harahap. Aku yang biasanya tak suka membuka Buku Wajah, terutama pada jam-jam kantor, segera saja membukanya. Penasaran dengan berita itu. Ketepatan pula aku baru &#8220;berteman&#8221; dengannya.</p>
<p>Dasar bandit! Begitu dibutuhkan, lama sekali halaman Buku Wajah itu terbuka. Dalam hati, Bandit satu ini mungkin balas dendam karena tak kuperhatikan selama di kantor. Tak mau menanti sampai seluruh halaman tampil sempurna, kuketik nama Mula Harahap di bagian &#8220;pencarian&#8221; itu, dan begitu tampil hasilnya, langsung kuklik. Sekali lagi butuh waktu lama. Dan begitu tampil sempurna, sudah tampak begitu banyak orang mengucapkan salam perpisahan maupun apresiasi kepada beliau. Aku masih tidak begitu yakin. Barulah belakangan kudengar, beliau kena serangan jantung.<br />
<strong><span id="more-138"></span>Cuma tiga kali</strong><br />
Orang lain memanggil Abang kepadanya, karena bukan abangku dia, dan jauh lebih sepuh daripadaku, kupanggil Bapak sajalah kepadanya. Pak Mula, begitu aku memanggilnya sejak pertama kali bertemu. Waktu itu, aku mengikuti pelatihan IKAPI Jakarta di Depok. Dan beliau menjadi salah satu pembicaranya. Inilah awal pertemuan kami.</p>
<p>Penampilannya tidak terlalu istimewa memang. Namun, gayanya khas. Rambut gondrong sebahu. Brewokan. Dengan badannya yang tinggi. Namun, sorot matanya tampak ramah. Mudah menebar senyum. Waktu itu, sengaja kuhampiri ia, sekadar memberi salam. Sebab boleh dibilang, dia terbilang seniorku juga di BPK, walaupun beliau itu sudah meninggalkan BPK belasan tahun lampau. Saat itu, tidak banyak aku berbincang dengannya. Maklum, ada banyak orang, mungkin termasuk orang-orang di lingkaran IKAPI Jakarta, yang mengajaknya berbincang.</p>
<p>&#8220;Kalau kalian tidak punya kemampuan manajemen, jangan berani-berani buka penerbit. Pusing kalian nanti,&#8221; begitu kira-kira kata-katanya waktu itu.</p>
<p>Kali kedua, saat Komunitas Penjunan mengundang beliau sebagai pembicara berkenaan dengan Festival Membaca dan Menulis (atau kurang lebih begitu judulnya, aku tidak betul-betul ingat) di Newseum Cafe, Jakarta. Di kafe remang-remang itu, kami kembali berbincang. Kali ini ia lebih banyak bercerita. Maklum, tidak banyak yang menghadiri diskusi waktu itu. Ia cerita masa lalunya di BPK. &#8220;Aku gebrak meja direktur waktu itu,&#8221; ujarnya mengenang masa-masa itu, sembari menikmati rokoknya (yang belakangan ia malah kebingungan, merasa rokoknya menghilang).</p>
<p>Waktu itu, ia sudah bertanya, &#8220;Kau punya Facebook?&#8221; kepadaku. Tapi karena aku ogah-ogahan main Buku Wajah waktu itu, selesailah omongan kami saat itu. Namun, aku mulai getol membaca blog beliau, <a title="Etsa" href="http://mulaharahap.wordpress.com/">Etsa, Kumpulan Esai dan Tulisan Kreatif Lainnya</a>.</p>
<p>Terakhir, karena memang cuma tiga kali aku bertemu dengannya, kami bertemu di Yakoma PGI. Lagi-lagi acara dari Komunitas Penjunan. (Harus berterima kasih aku karena mendapat undangan terus dari komunitas ini, walaupun aku tidak pernah menjadi anggotanya.) Dan sekali lagi, seperti ketika di Newseum Cafe itu, ia bertanya, &#8220;Di mana kita ketemu?&#8221; Sayangnya, aku lebih tertarik untuk ngobrol dengan seorang guru Bahasa Indonesia yang getol mendorong anak didiknya untuk menulis.</p>
<p><strong>Logat yang khas</strong><br />
Sejak pertama kali bertemu, satu hal yang paling berkesan darinya, logat Medannya yang khas. Praktis setelah meninggalkan Medan, sangat jarang aku mendengarkan logat ini. Di Solo, banyak orang Batak. Tapi yang kukenal malah lebih jago berbahasa Jawa. Di Jakarta, lebih banyak lagi orang Batak. Tapi lebih banyak yang ber-loe-gue-gethooo-loohhhh. Paling aku bisa mendengar logat Medan dari beberapa senior, itu pun sudah tidak terkesan &#8220;alami&#8221; karena mereka sudah sangat lama bermukim dan beroperasi di Jakarta. Ada juga rekan kerja yang berlogat demikian, namun lebih banyak ber-loe-gue (untungnya yang satu ini nggak pakai gethooo-loohhhh).</p>
<p>Maka ketika bertemu di Newseum waktu itu, kontan saja langsung kukatakan, &#8220;<em>Sor</em> kali aku mendengar logat Medan Bapak. Sudah rindu aku mendengar logat begitu setelah beberapa tahun merantau.&#8221;</p>
<p>Memang bukan cuma urusan logat saja yang mengesankan dari beliau. Dalam kesempatan terakhir, aku kagum kepadanya yang tidak membawa selembar kertas pun ketika berjejer dengan dua pembicara lain yang diundang oleh Komunitas Penjunan (yang tidak ingat aku siapa namanya, yang jelas satu dari Media Indonesia, yang lain pendeta yang punya nama Calvin apalah itu). Dan ia bisa menyampaikan hal-hal yang relevan dengan topik saat itu dengan lancar, menunjukkan luasnya pengalamannya.</p>
<p><strong>Berpulang</strong><br />
Aku tetap masih sulit menerima fakta berpulangnya beliau. Maklum, baru akhir Agustus lalu kami bertemu lagi. Dan bagiku, ia tampak bugar. Masih asyik dengan gayanya yang khas. Ketika dua pembicara lainnya sibuk, sesekali ia tampak merenung, manggut-manggut, tersenyum. Pokoknya, tidak ada tanda-tanda kalau beliau itu punya penyakit. Dan hal yang sama menjalar di benak orang-orang BPK yang mengenal beliau: apa penyebabnya.</p>
<p>Kuputuskan untuk ikut melayat. Ketepatan beliau disemayamkan di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto yang cuma sejengkal dari BPK. Dan berangkatlah rombongan dari BPK, dua mobil, ke sana.</p>
<p>Sudah tentu banyak orang sudah berkumpul di sana. Tidak satu pun yang kukenal (meskipun belakangan kukenali pula Direktur Yakoma, yang ajaibnya, ingat pula kepadaku yang cuma sekali bersalaman dengannya waktu itu). Beramai-ramai kami menghampiri peti mati itu, menyaksikan almarhum di dalamnya. Janggutnya sudah dipotong menjadi lebih pendek daripada sebelumnya. Dan sudah pasti ia tak bergerak lagi. Dan pelan-pelan, ketika acara kami selesai, aku mulai tahu, oh, ini istrinya yang kini harus berstatus janda. Oh, ini anak-anaknya, menantunya, bahkan cucunya. Dan lihat, itu ibundanya yang sudah begitu renta.</p>
<p>&#8220;Ada satu cita-cita dia yang belum kesampaian sampai sekarang,&#8221; ujar atasanku yang juga kawan karibnya. &#8220;Dia bermimpi, BPK membuat semacam tempat mangkal, tapi buat para penulis.&#8221; (Atau begitulah kira-kira kata atasanku itu, seingatku.) Mungkinkah almarhum bermimpi melanjutkan komunitas Pasar Senen itu? Bisa jadi. &#8220;Dan dia sangat stres di BPK karena berseberangan dengan manajemen.&#8221; Belakangan aku tahu dari seorang kawan karibnya yang lain yang kini bekerja di kantor Yayasan Gunung Mulia, bahwa pihak manajemen tidak bisa mengikuti gagasan-gagasan almarhum karena keterbatasan dana.</p>
<p>Masih dalam perjalanan pulang kami ke BPK, atasanku kembali bercerita tentang masa lalu bersama almarhum. Bagaimana beliau menaruh sebungkus rokok di meja kawannya ini, dengan catatan, &#8220;Kemarin kuambil rokokmu, Sihotang. Inilah gantinya samamu.&#8221; Dan sejumlah kekonyolan beliau pada masa lalu. Herannya, bisa sekilas bisa kubayangkan seperti apa kejadian-kejadian yang diceritakan atasanku itu. Juga bagaimana Mitra Utama, penerbit yang ia kelola selepasnya dari BPK begitu maju pada masanya, namun harus pailit diterpa krisis ekonomi.</p>
<p>&#8220;Salah satu keberhasilan beliau,&#8221; ujar kawan karibnya yang satu lagi itu, &#8220;adalah memenangkan seri Little House, yang waktu itu juga diperebutkan oleh Gramedia.&#8221; Aku manggut-manggut mendengarnya. &#8220;Itu semua karena beliau melakukan korespondensi dengan pihak di luar sana. Hebat kan? Padahal waktu itu belum ada internet seperti sekarang.&#8221;</p>
<p><strong>Pesan</strong><br />
Meskipun tidak pernah menulis buku, bukan berarti almarhum tidak gemar menulis. Bagi yang berkawan dengannya di Buku Wajah, pasti menikmati buah pikirannya di sana, entah lewat status, entah lewat notes. Kunjungi pula Etsa, blognya. Dijamin mendapat banyak hal dari tulisan-tulisan beliau. Mulai dari yang serius, sampai yang bikin tertawa terpingkal-pingkal. Dan semua itu menunjukkan bahwa dunia literatur merupakan dunia yang sangat ia cintai. Meskipun tidak menghasilkan uang, tetap saja ia menulis. Dan bersama-sama berbagai penulis, motivator dunia penulisan, ia selalu berseru, &#8220;Menulislah.&#8221;</p>
<p>Dunia penerbitan di Indonesia jelas kehilangan sosok Mula Harahap. Aku yang baru tiga kali bertemu juga. Mereka yang baru sekali saja bertemu pun juga. Selamat jalan Pak Mula.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=138&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2010/09/17/mengenang-mula-harahap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs416.snc4/47941_429119529212_544334212_5122086_7628120_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mula Harahap</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Aksi di Damri</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2010/09/06/tentang-aksi-di-damri/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2010/09/06/tentang-aksi-di-damri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 14:51:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita]]></category>
		<category><![CDATA[Bandara]]></category>
		<category><![CDATA[Damri]]></category>
		<category><![CDATA[kriminal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Semenjak meninggalkan rumah lebih dari setahun yang lampau, aku memang harus mengandalkan internet untuk mengikuti perkembangan. Radio? Tidak pernah menjadi pilihan. Sudah lebih lama lagi aku meninggalkannya. Koran? Tidak bisa tiap hari kubeli. Sementara internet, minimal Senin sampai Jumat bisa kuakses. Sore tadi (06/09), mataku tertuju pada sebuah berita. Berita kriminal. Kalau berita kriminal biasa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=132&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 284px"><img style="margin:10px;" src="http://image.tempointeraktif.com/?id=43294&amp;width=274" alt="Suasana terminal 1 keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. TEMPO/Aditia Noviansyah" width="274" height="156" /><p class="wp-caption-text">Suasana terminal 1 keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. TEMPO/Aditia Noviansyah</p></div>
<p>Semenjak meninggalkan rumah lebih dari setahun yang lampau, aku memang harus mengandalkan internet untuk mengikuti perkembangan. Radio? Tidak pernah menjadi pilihan. Sudah lebih lama lagi aku meninggalkannya. Koran? Tidak bisa tiap hari kubeli. Sementara internet, minimal Senin sampai Jumat bisa kuakses.</p>
<p>Sore tadi (06/09), mataku tertuju pada sebuah <a title="Hati-hati, Pembius Incar Penumpang Bis Bandara -- TempoInteraktif" href="http://tempointeraktif.com/hg/kriminal/2010/09/06/brk,20100906-276778,id.html">berita</a>. Berita kriminal. Kalau berita kriminal biasa, tentu tak kusentuh. Namun, yang sekali ini, mau tak mau kusimak juga.</p>
<p>Kalau biasanya penghipnotisan maupun pembiusan dilakukan di Metro Mini (dan dengan demikian Kopaja), atau Mikrolet (dan dengan demikian, semua jenis kendaraan seukurannya), atau Taksi, kini hal tersebut terjadi di bis Damri Bandara. Terang saja berita ini membuatku gerah. Betapa tidak? Salah satu hiburanku selama di Jakarta adalah menikmati perjalanan dari Gambir menuju Bandara. Dan angkutan apa pula yang senantiasa membawaku selain daripada Damri?</p>
<p><span id="more-132"></span>Dikabarkan bahwa korban dibius setelah menerima minuman dari plastik yang ditawarkan pelaku yang ditemui saat berada di dalam bis. Dan bla-bla-bla … demikianlah korban baru tersadar di kawasan Apartemen Kalibata. Konon mereka menaiki Damri arah Pasar Rebo. Diduga, pelakunya ada tiga orang dan berhasil merugikan korbannya hingga mencapai Rp3 juta.</p>
<p>Ada dua hal yang menjadi perhatianku dalam peristiwa ini. Pertama, semakin beraninya pelaku kejahatan. Semakin bervariasinya langkah-langkah yang mereka lakukan.  Entah apa yang sekarang ada di benak para pelaku kejahatan ini. Sebagian orang mungkin berasumsi bahwa hal ini merupakan bagian dari kesemrawutan masalah sosial. Sebagian mungkin berpendapat ini salah pemerintah.</p>
<p>Mungkin para pelaku kejahatan itu berpikir, ”Ah, dia ’kan orang berada. Boleh dong bagi ke kita,” lalu seenak perutnya saja merampok, mencuri, dan membunuh, nah Saudara, Anda bisa menilai betapa keterlaluannya orang seperti ini. Kupikir, kecemburuan sosial karena yang satu lebih kaya sedangkan yang lain lebih miskin tidak perlu ada, selama si kaya memperoleh kekayaannya dengan bekerja keras. Celakanya, si miskin tidak membuat hal itu sebagai pendorong baginya untuk berjuang memperbaiki kehidupannya.</p>
<p>Aku tidak berniat menyudutkan si miskin. Sebab aku pun orang yang miskin juga. Namun, ketika kecemburuan itu muncul karena tidak mampu, jangan salahkan orang yang kaya! Jangan salahkan orang yang berhasil! Jangan karena dirinya gagal, dirinya miskin, serta-merta mewajibkan orang lain pun harus sama dengannya.</p>
<p>Hal berikutnya, kita tahu pola-pola yang dilakukan oleh penjahat (terlalu panjang kubiasakan menulis pelaku kejahatan, sementara maknanya sama saja) dari berita-berita seperti itu. Menawarkan minuman, atau makanan, atau apa pun. (Bahkan mereka yang jago menghipnotis, konon, bisa menghipnotis siapa pun dengan cara apa pun!) Namun, hal ini membuatku sedih.</p>
<p>Sudah bukan rahasia lagi kalau orang-orang kota selalu curiga dengan siapa pun di dekatnya. Tidak heran jika tidak ada keramahan di wajah orang-orang kota. Biar bertemu tiap hari, jangan harap ada tegur sapa. Apalagi dengan pola kriminal yang terjadi belakangan: menawarkan ini-itu, pura-pura menolong, padahal membunuh.</p>
<p>Oleh karena alasan inilah, aku sangat membenci para penjahat itu. Mereka tidak hanya memperburuk suasana perkotaanm, tetapi juga menghapuskan kebaikan sejati. Maka ketika seseorang tampak kehausan, jangan coba-coba Anda menawarkan minum kepadanya. Bisa-bisa Anda akan dicurigai hendak melakukan kejahatan. Mungkin hanya jika Anda melakukan hal itu kepada pengemis di jalananlah Anda tidak dianggap penjahat (meskipun ini tidak menjadi jaminan).</p>
<p>Dengan peristiwa Damri itu, mau tak mau, aku merasa cemas pula. Tidak terlalu cemas terhadap diriku, tetapi kepada mereka yang mungkin menjadi korban. Mungkin sudah saatnya perusahaan transportasi menyediakan mesin pemindai motivasi penumpang guna mencegah kejahatan di angkutan umum, termasuk kejahatan pelecehan di Transjakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=132&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2010/09/06/tentang-aksi-di-damri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://image.tempointeraktif.com/?id=43294&#38;width=274" medium="image">
			<media:title type="html">Suasana terminal 1 keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. TEMPO/Aditia Noviansyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Kedua</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2010/07/21/surat-kedua/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2010/07/21/surat-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 11:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Impian]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Aku tidak yakin dirimu masih mengingatku. Tidak masalah. Sebab diingat orang lain, pada satu sisi, tidak selalu menyenangkan. Sejujurnya, aku malah tidak melihat apa menyenangkannya diingat orang. Yah, abaikan saja salamku, kalau kalimat di atas memang dapat dianggap salam. (Dalam analisis percakapan, sah saja kita menyebutnya sebagai &#8220;salam pembuka&#8221;, tergantung dari mana kita melihatnya.) Sudah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=127&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://library.uvic.ca/site/lib/instruction/research/images/letter_000.jpg" alt="" width="237" height="227" />Aku tidak yakin dirimu masih mengingatku. Tidak masalah. Sebab diingat orang lain, pada satu sisi, tidak selalu menyenangkan. Sejujurnya, aku malah tidak melihat apa menyenangkannya diingat orang.</p>
<p>Yah, abaikan saja salamku, kalau kalimat di atas memang dapat dianggap salam. (Dalam analisis percakapan, sah saja kita menyebutnya sebagai &#8220;salam pembuka&#8221;, tergantung dari mana kita melihatnya.)</p>
<p>Sudah berapa lama sejak terakhir kita bertemu? Aku tidak tahu pasti. Apa setelah lulus SMP? Tidak juga. SMU? Aku tidak yakin. Waktu sepertinya mempermainkanku sedemikian rupa. Mungkin itu juga alasannya mengapa aku mulai tidak dapat membedakan antara Rabu dan Kamis, Kamis dan Rabu. Entahlah. Tapi cobalah menyebutkan bilangannya. Sepuluh? Lebih? Bisa jadi.<br />
<span id="more-127"></span>Anehnya, aku masih ingat beberapa hal dari masa lalu itu. Bagaikan sebuah mozaik yang menghias masa laluku. Dengan dirimu yang sempat menjadi salah satu bagian utamanya. Betapa aku merindukan maa-masa itu. Betapa aku ingin memutar waktu dan kembali ke masa itu. Tapi kita tahu, itu mustahil &#8216;kan?</p>
<p>Senin dini hari yang lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku bermimpi bertemu denganmu. Aku tidak tahu mengapa dirimu mendadak hadir. Meskipun pernah menyimpan perasaan kepadamu, namun itu sudah berlalu, lama sekali. Meskipun sedikit banyak, aku masih bisa merasakannya.</p>
<p>Anehnya, aku sama sekali tidak pernah memikirkanmu. Tidak pernah memikirkanmu selama beberapa tahun terakhir. Aku cuma memikirkanmu setelah memimpikanmu, bertahun-tahun lampau. Dan ketika bertemu denganmu lagi kemarin, aku juga tidak tahu mengapa.</p>
<p>Aku bekerja pada perusahaan ayahmu. Begitulah mimpiku. Aku tidak tahu apa yang kukerjakan, tidak jelas dalam mimpi itu. Aku tahu, aku bekerja pada ayahmu, namun belum sekali pun aku bertemu denganmu. Lalu kudengar, kakakmu laki-laki terkena suatu masalah. Lagi-lagi aku tidak jelas apa masalahnya. Dan ketika aku berpaling, di sanalah aku bertemu denganmu. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari sepuluh tahun. Putri majikan dan kacungnya bertemu. Dan mimpiku buyar.</p>
<p>Janganlah tanyakan padaku apa artinya. Aku bukan Daniel. Bukan pula Yusuf. Aku tidak sanggup mengartikan mimpi. Namun, mimpi itu membuatku kembali memikirkanmu.</p>
<p>Aku? Hanya anugerah Tuhan saja aku masih hidup sampai saat ini. Keberadaan kita terpisah bagai langit dan bumi. Persis seperti ketika kita masih SMP dulu. Namun, ini menunjukkan betapa jalanmu bukanlah jalanku.</p>
<p>Aku senang melihatmu tampak baik. Aku senang mengetahui keberadaanmu saat ini. Aku senang bisa kembali memikirkanmu. Meskipun demikian, tidak sekalipun aku berharap dapat menjumpaimu. Entah kalau Tuhan yang menghendaki.</p>
<p>Satu dekade lebih telah berlalu. Masa yang sedemikian sangat cukup untuk mengubahkan seseorang. Namun, satu yang kuharap tidak pernah berubah darimu. Cintamu kepada Tuhanmu, kuharap tidak pernah berubah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=127&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2010/07/21/surat-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://library.uvic.ca/site/lib/instruction/research/images/letter_000.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Antara Rawa Selatan dan Sarinah</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2010/06/23/antara-rawa-selatan-dan-sarinah/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2010/06/23/antara-rawa-selatan-dan-sarinah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 01:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ala Kadarnya]]></category>
		<category><![CDATA[Realita]]></category>
		<category><![CDATA[Glay]]></category>
		<category><![CDATA[Hisashi]]></category>
		<category><![CDATA[Rawa Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sarinah]]></category>
		<category><![CDATA[Teru]]></category>
		<category><![CDATA[Transjakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Nona, &#8230; Nona, maaf, tapi ada yang ingin saya sampaikan kepada Anda &#8230; Sudah berapa kali kami satu bis? Aku tidak begitu ingat. Semula aku memang tiada memperhatikan keberadaannya. Kukira beberapa kali aku memejamkan mata. Menikmati lengkingan gitar Hisashi dan lantunan vokal Teru. Atau ketika bis sudah agak penuh sehingga aku pun tidak dapat tempat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=122&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align:center;"><em>Nona, &#8230; Nona, maaf, tapi ada yang ingin saya sampaikan kepada  Anda  &#8230;</em></p>
<p><img class="alignleft" style="margin:10px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bc/JakartaTransjakartaBusspurInDerJalanSudirman.jpg/180px-JakartaTransjakartaBusspurInDerJalanSudirman.jpg" alt="" width="269" height="203" />Sudah berapa kali kami satu bis? Aku tidak  begitu ingat. Semula aku memang tiada memperhatikan keberadaannya.  Kukira beberapa kali aku memejamkan mata. Menikmati lengkingan gitar  Hisashi dan lantunan vokal Teru. Atau ketika bis sudah agak penuh  sehingga aku pun tidak dapat tempat duduk, dan aku berdiri memandang  keluar bis sehingga tidak memperhatikan keberadaannya.</p>
<p>Aku cuma ingat bagaimana pertama kulihat ia. Ia tampak sebagai  seorang yang serius. Garis wajahnya terlihat tegas, setidaknya bagiku,  sehingga kesan kedewasaannya terpancar. Kacamatanya yang berbingkai  hitam itu, tampak sangat pas menghias wajahnya. Rambut panjangnya yang  lurus tergerai indah. Dan yang terutama, ia selalu mengenakan setelan  yang tampak elegan di mataku.</p>
<p><span id="more-122"></span>Lalu, untuk pertama kalinya kami bertemu mata. Cuma sedetik dua.  Kualihkan pandanganku segera. Khawatir jangan-jangan ia menyadari bahwa  aku sesekali melayangkan pandanganku kepadanya, meski aku yakin kalau  aku pasti bukan satu-satunya. Dalam hati, aku menyesali keputusanku  mengalihkan pandangan. Semestinya, aku bisa bersikap sopan waktu itu dan  tersenyum kepadanya.</p>
<p>Kalau sekali-dua aku satu bis dengannya, tidak pernah aku bertemu  dengannya ketika pulang. Sampai tiga hari yang lalu, iseng aku pulang  dengan menaiki bis itu. Aku memang harus menunggu lama untuk mendapatkan  bis yang langsung membawaku ke bilangan Sudirman itu. Siapa sangka ini  membawaku pada pertemuan kami yang pertama dalam perjalanan pulang.</p>
<p>Kucoba memalingkan pandangan. Mengalihkan pikiranku darinya. Agar  tidak terkesan aku memperhatikannya. Berusaha kularutkan pikiranku ke  dalam melodi-melodi yang melantun di telingaku.</p>
<p>Bis melaju terus. Melintasi halte demi halte. Kukira sebentar lagi  saatnya ia turun. Aku tidak tahu pasti, apakah di Bank Indonesia atau di  Sarinah. Sejak Monas, aku mulai merasakan suatu dorongan. Mengapa tidak  kutemui ia? Mengapa tidak kusapa ia? Menemui tidak dosa ’kan? Menyapa  pun tidak ’kan? Pelan-pelan kuramu kata demi kata; kujalin kalimat demi  kalimat. Kalau-kalau keberanianku muncul untuk menyapanya.</p>
<p>Bank Indonesia. Apa ia akan turun di sini? Apa aku pun akan turun di  sini? Tidak. Ia tak turun di sini. Ia masih sibuk dengan ponselnya.  Kalau begitu, Sarinah? Ya. Kulihat ia bersiap-siap turun. Akankah aku   turun di sini juga?</p>
<p>Seperti hadirnya dorongan tadi, rasa segan menyeruak menahanku.  Bagaimana pandangannya kepadaku kalau aku yang tidak ia kenal mendadak  menghambat laju jalannya? Bagaimana kalau ia harus buru-buru sementara  aku malah memperlambatnya? Seakan kakiku terpaku, hanya bisa  kuperhatikan ia turun dan melangkah keluar bis. Sementara aku masih  terus di dalam bis. Terus melaju menembus malam yang menjelang. Sesal  menyapa, hampa mencuat.</p>
<p>Hari memang lekas lalu. Malam berakhir, pagi menyapa, siang  menghampiri, lalu sore kembali. Cuaca masih tetap seperti kemarin.  Sekali lagi aku memutuskan naik bis itu. Dan tidak butuh waktu terlalu  lama sampai tiba di Rawa Selatan.</p>
<p>Aku tidak tahu bahwa aku harus menunggu cukup lama sampai akhirnya  aku mendapat bis. Perlahan langit berubah. Gelap mulai merayap. Namun,  warna kombinasi merah-kuning yang khas itu segera membuatku bersiap.  Begitu pintu terbuka, begitu aku melangkah, begitu kulihat ia di sana.  Apakah ini takdir? Kehendak Tuhan? Ataukah karena aku keras kepala mesti  naik bis ini sambil berharap bertemu dengannya lagi? Entah yang mana.</p>
<p>Bis melaju. Melintasi Senen. Melintasi Gambir. Apa yang harus  kulakukan kali ini? Aku ingin menyapanya. Aku ingin menyampaikan  kekagumanku. Sekali saja. Meski cuma sekali. Ya Tuhan, itu tidak dosa  ‘kan? Dan seperti sebelumnya, meski aku berusaha memalingkan wajah,  sesekali kulirik ia. Dan sekali-dua, untuk kesekian kalinya, mata kami  bersua.</p>
<p>Sarinah masih cukup jauh. Tapi apa yang akan kulakukan ketika sampai  di sana? Apakah kali ini aku akan ikut turun bersamanya? Lalu apa yang  kulakukan? Bagaimana akan memanggilnya? Pelan-pelan kuingat ramuanku  kemarin. Kuingat-ingat susunan kata demi kata itu; kalimat demi kalimat  itu.</p>
<p>Meski sempat terhambat kemacetan, cepat atau lambat akhirnya tiba  juga. Sarinah sudah di depan. Lihat, ia sudah berdiri, menanti pintu  terbuka.</p>
<p>Dalam sekejap kuputuskan untuk mengikutinya. Tas yang semula  kusandang, segera kulepas. Kuterabas orang-orang yang berdiri dan cukup  menghalangiku itu. Kuikuti dirinya dari belakang. Dan kulihat ia  menyadari kalau aku mengikutinya. Kami melintasi loket. Dan kuberanikan  diriku menyapanya.</p>
<p>” Nona, &#8230; Nona, maaf, tapi ada yang ingin saya sampaikan kepada  Anda &#8230;,” ujarku setelah beberapa langkah kami keluar. Ia berhenti.</p>
<p>”Ya?” ujarnya sambil memandangku. Sekejap tebersit dalam benak,  tentulah ia berpikir, hendak apa aku yang tak ia kenal ini dengannya.  Dan sekejap itu pula buyar semua ramuan kata dan kalimat dua hari ini.</p>
<p>”Anu &#8230;, errr &#8230;,” aku berusaha mengumpulkan semua kata dan kalimat  itu. ”Emm &#8230;, kita beberapa kali satu bis. Dan &#8230;, ha, ha, bagaimana  mengatakannya, ya?” ujarku gugup. Sementara ia masih menatapku. Celaka.  Sudah kuduga, ia memang cantik!</p>
<p>Kutarik napasku, berusaha menenangkan hati. Lalu kutatap lagi ia.  Meski tidak bisa sepenuhnya merasa tenang, meski tidak seluruh kata dan  kalimat itu terkutip kembali, kuberanikan mengungkapkannya.</p>
<p>”Maaf kalau saya cukup sering memperhatikan Anda. Tapi bagi saya, em  &#8230;, Anda tampak anggun dengan pembawaan Anda itu,” ucapku sambil  tersenyum gugup.</p>
<p>Ia tersenyum manis dan berkata, ”Terima kasih.”</p>
<p>”Emm &#8230;, itu saja, maaf mengganggu,” ujarku gugup, lalu buru-buru  kembali menuju loket, membayar tiket, lalu masuk dan menanti bis  berikutnya datang dan membawaku menuju bilangan Sudirman.</p>
<p>Aku sudah menyampaikannya. Aku sudah menjumpainya. Aku sudah &#8230; ah,  apa yang ia pikirkan tentangku? Orang aneh yang mendadak menghampiri dan  menyampaikan sanjungan? Tersanjungkah ia? Seberapa sering ia menerima  sanjungan demikian dari orang yang tidak ia kenal? Aku tidak dapat jauh  membayangkan. Namun, aku sudah mewujudkan anganku. Entah apa yang  kulakukan kala kami kembali satu bis.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=122&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2010/06/23/antara-rawa-selatan-dan-sarinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/bc/JakartaTransjakartaBusspurInDerJalanSudirman.jpg/180px-JakartaTransjakartaBusspurInDerJalanSudirman.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rumah, Anjing Pudel, dan Masa Lalu</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2010/06/20/rumah-anjing-pudel-dan-masa-lalu/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2010/06/20/rumah-anjing-pudel-dan-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 08:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[Pikky]]></category>
		<category><![CDATA[pudel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Aku bermimpi lagi. Ada sebuah rumah. Tidak jelas di daerah mana, bagaimana rupanya, apa warna cat temboknya. Tapi aku ingat ada anjing peliharaan kami. Itu anjing pudel pertama kami. Namanya Pikky, anjing pudel betina. Rumah itu punya halaman belakang yang cukup luas. Halaman berumput hijau. Di sana biasanya Pikky berlari bebas. Aneh. Aku menyadari ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=118&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_119" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://francolingua.files.wordpress.com/2010/06/photo0454.jpg"><img class="size-medium wp-image-119" title="Photo0454" src="http://francolingua.files.wordpress.com/2010/06/photo0454.jpg?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Pooty</p></div>
<p>Aku bermimpi lagi. Ada sebuah rumah. Tidak jelas di daerah mana, bagaimana rupanya, apa warna cat temboknya. Tapi aku ingat ada anjing peliharaan kami. Itu anjing pudel pertama kami. Namanya Pikky, anjing pudel betina.</p>
<p>Rumah itu punya halaman belakang yang cukup luas. Halaman berumput hijau. Di sana biasanya Pikky berlari bebas.</p>
<p>Aneh. Aku menyadari ini kebalikan dari kenyataan. Sebab faktanya rumah kami selama 20 tahun adalah sebuah ruko. Kami tinggal di lantai tiga. Tidak ada halaman. Hanya ada beranda samping. Dan Pikky hanya bisa berlari menembus kolong-kolong meja makan, lemari makanan, dan kursi-kursi. Namun, dalam mimpi itu, meski tidak kulihat, aku yakin Pikky berlari-lari bebas di sana.</p>
<p><span id="more-118"></span>Ada dua hal yang biasa kualami dalam sebuah mimpi. Terkadang aku bisa mengingat seluruh mimpi itu dengan cukup rinci. Sementara tak jarang pula mimpiku tidak rinci. Lalu yang kedua, tak jarang pula mimpiku bercampur dengan mimpi yang lain.</p>
<p>Aku ingat kemudian kesehatan Pikky bermasalah. Ia tidak lagi selincah dulu. Bulunya mulai kusam. Kuangkat ia dari tempatnya meringkuk di halaman belakang. Aroma kematian seolah membayangi.</p>
<p style="text-align:center;">…</p>
<p>Aku tidak ingat apakah aku bermimpi hal ini di tengah mimpi tentang Pikky atau tidak. (Yang artinya, setelah hal ini, mimpi tentang anjing pudel kami itu berlanjut.) Begini ceritanya. Sepertinya, aku keluar dari kamar sewaanku untuk beberapa lama. Tidak tahu ke mana.</p>
<p>Lalu aku mendapati diriku tengah menaiki tangga. Tiba di depan kamarku, aku kaget. Kuncinya sudah dilepas. Dan kudapati barang-barangku sudah tidak ada. Komputer lipatku tidak ada. Bahkan kedua gitarku pun tidak lagi ada.</p>
<p>Aku berdiri bengong. Tidak tahu mesti berbuat apa. Sementara kamarku bersih. Tapi kenapa sampai gitarku pun harus diambil juga?</p>
<p style="text-align:center;">…</p>
<p>Aku terbangun sekitar pukul 7 pagi. Bayangan kehilangan merasuk kuat. Mimpi itu memang begitu singkat. Namun, mimpi itu benar-benar membawaku kembali ke masa-masa yang kurindukan.</p>
<p>Aku ingat bagaimana pertama kali Pikky diantar ke rumah kami, meskipun aku tidak ingat tanggal berapa tepatnya. Ia masih seekor anjing pudel kecil yang berusaha mengenali lingkungan barunya dengan takut-takut.</p>
<p>Lalu ia menjadi satu-satunya anjing pudel kami yang dapat berdiri dengan dua kakinya dalam hitungan lebih dari lima detik. Lalu ia menjadi induk dari tiga ekor anjing pudel lainnya. Lalu ia menjadi induk dari empat ekor anjing pudel lainnya lagi. Lalu ia harus kehilangan anak-anaknya. Sampai ia sendiri putus nyawanya, karena penyakit dan aku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=118&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2010/06/20/rumah-anjing-pudel-dan-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://francolingua.files.wordpress.com/2010/06/photo0454.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Photo0454</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ceri dan Abad Pertengahan</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2010/05/12/ceri-dan-abad-pertengahan/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2010/05/12/ceri-dan-abad-pertengahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 09:18:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Kertas itu sudah sedari tadi ada di meja. Pena telah sedia pula di sampingnya. Ceri dan Abad Pertengahan. Hanya ada dua itu dalam benakku. Tapi apa yang sebetulnya mau kutulis, aku tidak merasa jelas. Mataku terasa berat. Biarpun baru saja mandi, toh tetap tidak butuh waktu lama untuk membuatku merasa lelah. Padahal masih ada kertas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=111&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin:10px;" title="Cherry" src="http://sarahmeyerwalsh.files.wordpress.com/2007/10/sour-cherry.jpg?w=245&#038;h=195" alt="" width="245" height="195" />Kertas itu sudah sedari tadi ada di meja. Pena telah sedia pula di  sampingnya. Ceri dan Abad Pertengahan. Hanya ada dua itu dalam benakku.  Tapi apa yang sebetulnya mau kutulis, aku tidak merasa jelas.</p>
<p>Mataku  terasa berat. Biarpun baru saja mandi, toh tetap tidak butuh waktu lama  untuk membuatku merasa lelah. Padahal masih ada kertas untuk ditulis.  Masih ada kotak mesti dibalut-balut. Aku benar-benar heran dengan  tubuhku sendiri. Meski malam sebelumnya aku tidur tanpa sekalipun  terjaga, tetap saja merasa mengantuk. Lelah.</p>
<p>Kurebahkan badanku  sejenak. Kubayangkan Ceri dan Abad Pertengahan lagi. Sambil memutuskan,  mana duluan yang mau kusampaikan.<br />
<span id="more-111"></span>Aku terlelap selama satu atau  dua jam, aku tidak pasti yang mana. Aku tidak ingat jam berapa tertidur.  Tapi ini sudah jam dua belas malam lebih. Aku harus menulis. Ceri dan  Abad Pertengahan.  Seketika itu kuputuskan, Ceri duluan, Abad Pertengahan menyusul.</p>
<p>Tapi  aku benar-benar tidak bergerak lebih jauh daripada Ceri dan Abad  Pertengahan. Kertas itu kecil. Ada banyak yang sebenarnya ingin  kutuliskan di dalam sana. Tapi kepalaku tidak beres.</p>
<p>Biar begitu  aku terus menulis dan menggores dan menulis dan menggores. Sampai aku  sadar kalau aku benar-benar menulis dengan begitu kacau. Sepertinya apa  yang terlintas dalam benakku, itulah yang ditangkap oleh tanganku. Dan  begitu sadar, semua ruang tulis pada kertas itu sudah penuh.</p>
<p>Aku  tercenung. Hanya cukup untuk satu kalimat pamungkas. Kuhela napasku  sembari menatap jam dan terkejut. Sudah pagi! Dan aku belum tidur!</p>
<p>Ah,  aku harap dia paham apa maksudku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=111&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2010/05/12/ceri-dan-abad-pertengahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sarahmeyerwalsh.files.wordpress.com/2007/10/sour-cherry.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cherry</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hujan</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2009/10/23/hujan/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2009/10/23/hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 08:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ala Kadarnya]]></category>
		<category><![CDATA[guntur]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa tulisanku sebelumnya, aku pernah bercerita kalau aku sangat mencintai hujan. Bukan karena aku dilahirkan dalam bulan-bulan Aquarius. Tapi ada kenikmatan tersendiri mencium aroma tanah yang bertemu air. Ketika masih di Medan dulu, aku suka hujan. Meskipun sering kali hujan mendatangkan masalah. Karena kalau angin berhembus ke arah tertentu, entah kenapa rumahku kebocoran. Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=104&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border:10px solid white;" src="http://happyhomemaker88.files.wordpress.com/2007/10/heavy-rain.jpg?w=260&#038;h=382" alt="" width="260" height="382" />Dalam beberapa tulisanku sebelumnya, aku pernah bercerita kalau aku sangat mencintai hujan. Bukan karena aku dilahirkan dalam bulan-bulan Aquarius. Tapi ada kenikmatan tersendiri mencium aroma tanah yang bertemu air.</p>
<p>Ketika masih di Medan dulu, aku suka hujan. Meskipun sering kali hujan mendatangkan masalah. Karena kalau angin berhembus ke arah tertentu, entah kenapa rumahku kebocoran. Dan karena aku juga tidak ingin anjing-anjingku jadi basah, aku harus menyiapkan wadah untuk menampung. Belum lagi harus mengepel beranda.</p>
<p>Aku sudah lupa kapan hujan mendatangkan kegentaran buatku. Mungkin sudah lama sekali. Aku cuma ingat suatu waktu ketika masih sangat kecil. Saat itu hujan deras, deras sekali. Sampai rumah kami kebanjiran. Aku yang masih sangat kecil hanya bisa melihat genangan air di kamar. Tidak bisa membantu apa pun.</p>
<p>Malam ini, dalam pengasinganku, kurasakan badai mengamuk di luar sana. Hujan deras turun. Guruh berbalas-balasan di langit sana. Menghantarkan getaran-getarannya hingga ke lantai kamarku yang terbuat dari papan.</p>
<p><span id="more-104"></span>Kukira listrik akan padam. Karena seketika sebuah getaran yang kuat mengguncangkan, meredupkan lampu. Di tengah kesibukanku dengan komputer, sudah tentu aku khawatir. Sebab apa lagi yang bisa kulakukan kalau alat kerjaku satu-satunya, sekaligus hiburanku satu-satunya, rusak karena petir?</p>
<p>Terpaksa kupasang baterai komputerku. Sekadar berjaga-jaga kalau-kalau listrik padam.</p>
<p>Kalau kupikir-pikir, sudah lama juga sejak hujan turun terakhir kali. Kalau tidak salah, itu hari Minggu, dua pekan lalu. Sempat kubaca di surat kabar, wilayah selatan Jakarta sampai sekitar tanggal 18 Oktober akan rentan menerima badai seperti malam ini. apa mungkin Tuan Badai tengah berkunjung justru pada malam ini, ya?</p>
<p>Jedeeeerrrr! Sang guntur mengejutkanku sesaat. Seperti bunyi cemeti raksasa yang diayunkan oleh tangan yang mahakuat saja. Aku membayangkan seseorang atau sesuatu di atas sana, seperti tengah memacu kudanya. Mungkin itulah yang membuat bunyi geluduk-geluduk di atas sana. Lalu sesekali terdengar bunyi petir menyambar. Mungkin itulah cemeti sang pengendara.</p>
<p>Sungguh. Malam itu menggentarkanku. Setiap kali petir menyambar, ia menghantarkan getaran-getaran. Seolah-olah bangunan tempatku bernaung ini akan runtuh begitu getaran besar berikutnya hadir.</p>
<p>Tuk-tuk-tuk-tuk. Bunyi air hujan yang menetes ke suatu tempat. Mungkin itu atap di bawah sana. Diiringi bunyi kecipakan air yang turun terus-menerus. Diselingi oleh geluduk di kejauhan sana.</p>
<p>Lalu mendadak aku teringat padanya. Kalau hujan begini, ingin sekali aku berbagi cerita dengannya. Sebab sudah begitu lama kami tidak bertemu. Tergoda juga aku meraih ponselku. Mencari namanya di buku telepon, lalu meneleponnya. Berharap suaranya yang meskipun tidak bisa dibandingkan dengan suara merdu Mayumi Itsuwa, tetap bisa memberi ketenangan bagiku. Sekadar melepas rindu. Tidak salah bukan? Tidak salah bukan?</p>
<p>Irama hujan di luar sedikit berganti. Temponya berubah. Ketukannya kini menjadi 4/4. Tadi lebih cepat lagi.</p>
<p>Lalu aku teringat akan cerita orang tua zaman dulu, jauh ketika aku masih kecil. Mereka bercerita bahwa jauh di atas sana, ada malaikat. Malaikat mencuci kakinya. Bunyi kakinya, itulah yang menyebabkan geluduk di sana. Air yang dipakai mencuci kakinya, itulah yang tercurah hingga ke bumi.</p>
<p>Aku tidak tahu ada berapa banyak cerita, dongeng yang diciptakan para leluhur mengenai hujan. Entah untuk menghibur, entah untuk mengajar. Mungkin yang diceritakan orang tuaku dulu itu hanya salah satu versinya.</p>
<p>Sekarang, geluduk sudah sedikit reda. Hujan juga sepertinya sudah tidak sederas sebelumnya. Tapi nanti dulu. Dulu-dulu, aku ingat, pernah terjadi seperti ini. Seolah-olah hujan  sudah hendak berhenti. Namun mendadak, disambung dengan deraian yang lebih gila lagi. Dan sudah tentu, bunyi geluduk yang mahahebat terdengar lagi.</p>
<p>Aku masih belum berani meneleponnya. Sebab meskipun sudah lama, aku tidak tahu mau bicara apa. Aku belum bisa menumpahkan perasaanku selama ini padanya. Lagi pula, seingatku pulsaku tidak bakal cukup untuk bicara panjang lebar.</p>
<p>Aneh. Aku tidak tahu mau bicara apa, tapi aku berharap bisa bicara panjang lebar dengannya. Seperti tempo hari. Ketika kami masih bisa bertemu dengan bebas. Meskipun sering kali ia yang mengendalikan pembicaraan. Seperti ketika suatu saat aku hendak membicarakan suatu hal yang penting, sampai akhirnya aku lupa membicarakannya karena ia mengajakku mendiskusikan hal yang lebih penting dan lebih menarik.</p>
<p>Nah, lihat. Hujan kini sudah reda. Bunyi geluduk makin lama makin samar. Meski sesekali terdengar, namun tak lagi sedahsyat sebelumnya. Bunyi kecipakan air pun tak lagi terdengar. Meski aku tahu, ini bukan berarti hujan sepenuhnya berhenti. Pastilah di luar sana masih rintik.</p>
<p>Kuhela napasku panjang. Aku agak lelah seharian ini. Pekerjaan kantor menyiksaku. Bukan hanya karena aku harus mengerjakan topik yang paling kubenci. Tapi juga karena orang yang menggarap sebelum aku sepertinya mengerjakannya setengah hati. Padahal jadwalku sudah hampir sampai pada batasnya. Aku kira aku tak bakalan bisa menyelesaikannya dalam seminggu atau dua minggu.</p>
<p>Lalu mendadak, perutku terasa lapar. Dua mangkuk mi goreng tentu akan nikmat dirasa seusai hujan begini &#8230;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=104&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2009/10/23/hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://happyhomemaker88.files.wordpress.com/2007/10/heavy-rain.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sang Bundar dan Akhir Masaku</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2009/07/09/sang-bundar-dan-akhir-masaku/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2009/07/09/sang-bundar-dan-akhir-masaku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 00:46:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ala Kadarnya]]></category>
		<category><![CDATA[hitotsubu no namida]]></category>
		<category><![CDATA[Mayasari Bakti]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Baru]]></category>
		<category><![CDATA[peminta-minta]]></category>
		<category><![CDATA[rembulan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Sekali lagi untuk kesekian kalinya, aku lunta-lantu di depan kantorku. Tak jelas hendak ke mana kuarahkan langkah kakiku. Ingin lekas tiba di rumah, tapi itu mustahil. Jarak yang jauh, jalan yang macet, bis yang sesak penuh, angkutan yang berjalan lelet. Semua itu selalu menghiasi. Ada pula tempat bernaung lain. Tapi ke sana pun sama. Harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=100&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekali lagi untuk kesekian kalinya, aku lunta-lantu di depan kantorku. Tak jelas hendak ke mana kuarahkan langkah kakiku. Ingin lekas tiba di rumah, tapi itu mustahil. Jarak yang jauh, jalan yang macet, bis yang sesak penuh, angkutan yang berjalan lelet. Semua itu selalu menghiasi.</p>
<p>Ada pula tempat bernaung lain. Tapi ke sana pun sama. Harus mengantri Transjakarta di halte yang sesak. Meski telah dihias kipas raksasa, tak jua memberi kelegaan. Lagi pula, naungan ini masih akan merepotkan temanku. Maka semakin lunta-lantulah aku.</p>
<p><span id="more-100"></span>Satu per satu teman-teman kantorku pulang. Ojek satu menjemput, membawa temanku yang satu pulang. Ojek yang lain datang, pulanglah yang satu lagi. Sementara temanku yang satu lagi dibawa lari kekasihnya, menembus udara sore hari. Tinggal aku sendiri, yang segera memutuskan melangkah pergi.</p>
<p>Lama juga aku berjalan. Sampai menjumpai Mayasari Bakti. Dalam hati, untung bis hijau itu ngetem. Kalau tidak, sudah ke Kota aku melanglang, membuang waktu.<br />
Bis berjalan. Perlahan-lahan saja, perlahan-lahan. Di belokan Pejambon, beberapa orang yang wajahnya tak asing satu per satu naik. Yang dari Pertamina, yang dari mana-mana. Bis melaju, Gambir berlalu, menanti di depannya Pasar Baru.</p>
<p>Lalu naik pemuda, berpakaian compang-camping. Penuh curiga kutatap, compang-campingnya bikinan. Berteriak meminta-minta. Berkoar-koar seandainya ia seperti kami yang duduk. Uang lima ratus seribu tentu tidak berarti bagi kami. Mengatakan ia bisa saja menjambret, ia punya nyali untuk itu. Berujar bosan masuk-keluar bui hanya karena lima ratus dan seribu. Mengaku buat beli nasi.</p>
<p>Kutatap sinis ia dengan ekor mataku. Sambil membaca buku di tanganku. Tak konsentrasi aku dibuatnya. Kataku dalam hati, ”Seenakmu saja mengatakan lima ratus dan seribu tak berarti bagi kami! Dasar pemalas! Mengaku mengemis untuk mengisi perut dan makan nasi. Omong kosong, titik-titik kucing samamu! Turun dari bis ini paling kaulari pada tukang rokok. Mengisi perutmu dengan asap-asapan. Makan kaulah rokokmu itu! Takkan sepeser pun duitku kuberi. Kaubilang punya nyali untuk menjambret? Coba saja kalau berani! Semua kami punya nyali menggebukimu. Tubuh masih kuat, anggotanya masih lengkap, usia masih muda. Memang dasar pemuda pemalas!” Dan sumpah serapah lain yang mungkin saja terlintas kalau kulanjutkan. Lalu ia berlalu.</p>
<p>Macet pun menjelang. Hari mulai gelap. Sonata piano no. 14 C sharp minor melantun di telingaku saat tersadar bahwa bis sudah di tol, hari benar-benar mulai gelap. Sementara perjalanan masih membentang.</p>
<p>Kubuang pandanganku ke kiri. Menatap kendaraan yang berbelok arah dan yang berjalan lurus. Dan ketika kupandang langit nun di sana. Kupandanglah Sang Bundar telah menggantung. Warnanya yang khas kuning tua memancar di langit yang mulai gelap. Ia baru saja hadir.</p>
<p>Musik mengalun. Penyanyi melantun.</p>
<p>眺めのいいあの窓辺<br />
何も言わなくても　	あなたが好きな事<br />
全部知ってたつもりでいたんだ</p>
<p>Kupandangi ia terus …. Membayangkanku tidak sedang menuju tempat tinggalku. Tetapi tengah menuju dunia baru. Dunia baru yang memberikan ketentraman.</p>
<p>昼間の星を見つけたよ 		あなたを見つけた日も<br />
同じくらい嬉しかったんだ	今までよりも特別なのに</p>
<p>Mendadak aku merasa tengah melaju di jalan raya di Salatiga. Jalan-jalan di Jalan Diponegoro. Pun jalan-jalan di Jalan Jendral Sudirman. Seolah aku sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Di dalam bis yang nyaman. Diiringi dengan mentari yang segera tenggelam.</p>
<p>Lalu aku terlempar ke masa ketika aku segera meninggalkan Bekasi. Menuju ke Yogyakarta. Memulai karierku di dunia tulis-menulis. Mengawali karierku mengutak-atik bahasa tulisan. Membedah dan membongkarnya sesuai sistem yang semestinya.</p>
<p>さよならを上手に言えない私は 明日へ飛べない鳥<br />
少しでも勇気を持つ事できたら			ほんの少しだけでも</p>
<p>Semua itu serasa baru kemarin berlalu. Aku merindukan masa-masa itu. Kubiarkan diriku larut pada masa laluku. Sementara aku mulai terlonjak-lonjak di dalam angkot yang melabrak lubang-lubang jalanan, gerakan-gerakan yang membuyarkan lamunanku.</p>
<p>Namun, lihatlah. Lihatlah di atas sana. Sang Bundar sudah semakin tinggi. Warna kuning tuanya telah berubah menjadi kuning yang lebih cerah. Memantulkan cahaya dari Sang Surya. Memeriahkan langit malam, melengkapi lamunan.</p>
<p>Aku sadar, takkan lagi ia bisa kunikmati sesempurna ini. Langitku akan segera berubah. Pekaranganku yang hijau dan liar akan berganti gedung-gedung kelabu diselimuti polusi kelam. Semoga saja aku tak tenggelam. Semoga saja tak berubah aku menjadi mayat hidup.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=100&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2009/07/09/sang-bundar-dan-akhir-masaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Aku Tak Bisa Menulis</title>
		<link>http://francolingua.wordpress.com/2009/05/12/ketika-aku-tak-bisa-menulis/</link>
		<comments>http://francolingua.wordpress.com/2009/05/12/ketika-aku-tak-bisa-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 12:37:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Franco Lingua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ala Kadarnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://francolingua.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Mendadak aku tak bisa lagi menulis! Setiap kali kupusatkan perhatian untuk menulis, tulisanku hanya berputar-putar di situ-situ saja. Setiap kali pulang ke tempat yang disebut orang sebagai rumah, fokusku hilang. Akhirnya, aku malah lari ke FIFA 2008. Aku sudah punya sejumlah ide. Sempat kutuangkan kerangkanya. Berharap bisa dikembangkan menjadi tulisan. Aku sudah menemukan sejumlah bahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=97&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mendadak aku tak bisa lagi menulis! Setiap kali kupusatkan perhatian untuk menulis, tulisanku hanya berputar-putar di situ-situ saja. Setiap kali pulang ke tempat yang disebut orang sebagai rumah, fokusku hilang. Akhirnya, aku malah lari ke FIFA 2008.</p>
<p>Aku sudah punya sejumlah ide. Sempat kutuangkan kerangkanya. Berharap bisa dikembangkan menjadi tulisan.</p>
<p>Aku sudah menemukan sejumlah bahan untuk kubahas. Sempat kutuangkan juga. Namun, berkali-kali mencoba, tak satu pun yang sukses.<span id="more-97"></span>Pernah ketika menjelang Paskah aku menulis. Sudah jadi. Tapi aku berpikir, kok tulisan ini kurang patut ya? Terkesan dipaksakan. Daripada mengundang caci-maki, tulisan itu tak pernah kupasang di blog.</p>
<p>Lalu aku merasa, aku sudah harus menulis. Aku suka menulis dongeng. Aku punya beberapa ide untuk dongeng. Ide-idenya bagus. Begitu kata salah satu temanku yang sempat mendengar salah satu ideku. Tapi begitu memulai, aku cuma bisa melahirkan satu paragraf yang akan menjadi <em>trademark</em> dongengku. Selanjutnya? Boro-boro nulis. Aku malah tertidur di depan komputer lipatku.</p>
<p>Aku merasa harus menulis lagi. Kali ini soal realita. Bahan-bahan sudah beragam. Tinggal menganalisis. Tapi begitu memulai, aku tak tahu mau memulai dari mana. Akhirnya, setelah menulis beberapa kalimat yang rasanya tidak cukup kuat, aku terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>Aku terpaksa beralih kepada membaca. Aku beralih pada diskusi dengan seseorang. Kami bahas teologi. Kami bahas gereja. Kami bahas doktrin. Kami bahas Calvin. Kami bahas pelayanan. Kami bahas &#8230; sampai tiba giliranku kembali merespons.</p>
<p>Akhirnya, aku tak bisa menulis apa-apa selain menulis surat. Menulis surat yang bersifat pribadi kepada pribadi yang lain. Kuselipkan pendapat pakar ini pakar itu. Kububuhkan sejarah. Dengan harapan dia mendapat berkat dari suratku itu. Sekadar mengulang masa lalu yang tak pernah ketahuan ke mana menguapnya.</p>
<p>Minggu kemarin (10/05/09) aku membuat agenda. Aku mungkin perlu pulang malam dari kantor. Mungkin suasana kantor yang senyap akan membantuku menulis. Bukankah dulu keheningan membuatku berkonsentrasi penuh? Lalu membuatku banyak menulis? Meski sebagian besar adalah tuntutan pekerjaan?</p>
<p>Satu per satu teman-teman kantor berpulangan. Aku menatap monitor komputerku yang baru saja diganti dengan ukuran 17 inci. Lalu langit perlahan-lahan menjadi merah. Dan aku tidak beranjak dari halaman dokumen Word yang didominasi warna putih. Aku hanya mengulang apa yang kukerjakan di gubukku, di komputer lipatku. Aku tidak bisa menulis!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/francolingua.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/francolingua.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/francolingua.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/francolingua.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/francolingua.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/francolingua.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/francolingua.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/francolingua.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/francolingua.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/francolingua.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/francolingua.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/francolingua.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/francolingua.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/francolingua.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=francolingua.wordpress.com&amp;blog=469437&amp;post=97&amp;subd=francolingua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://francolingua.wordpress.com/2009/05/12/ketika-aku-tak-bisa-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d2e753a1c019773b9a35c0b10adbaea3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Franco Lingua</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
